Search

Kiai  Azaim Ajak Umat Islam Mencari Hikmah Dibalik Pandemi Covid 19

KHR Ahmad  Azaim Ibrahimy, pengasuh ponpes Sukorejo, Situbondo.

Situbondo,reportasenews.com – Pengasuh Ponpes Syalafiyah-Syafi’iyah Sukorejo Desa Sumberrejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, mengajak umat islam seluruh dunia untuk mencari  hikmah dari bencana pandemi virus corona atau covid 19.

 

“Hikmah itu barang yang hilang milik orang mukmin yang harus dicari. Kita mencoba mencari hikmah dari pandemi COVID-19 ini,” ujar Kiai Azaim, dalam tauziahnya, Jumat (10/4/2020).

 

Menurutnya,  andaikan pandemi Covid-19 adalah metafora dari dosa dan kedurhakaan yang dilakukan oleh manusia, maka setiap batasan aturan dari Allah SWT adalah physical distancing atau menjaga jarak yang harus ditaati oleh setiap insan.

 

“Kita diberi jarak secara fisik untuk menjaga, menghindari, proses menularnya  virus corona. Ini mengajarkan kepada kita, bahwa ternyata agama dengan konsep, kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkannya. Sehingga kita tidak boleh mendekatinya, apalagi masuk,”katanya.

Pengasuh ke empat Ponpes Sukorejo Situbondo ini menambahkan, andaikan pandemi covid 19 adalah metafora dari dosa dan kedurhakaan yang dilakukan oleh manusia, maka berteman dengan orang baik, berproses untuk belajar menjadi baik, adalah temporal distancing sebagai ikhtiar untuk pengendalian.

 

“Kita berkumpul dengan orang yang sehat, menghindar tidak bersama dengan orang yang terjangkit virus, maka penting untuk menyeleksi dengan siapa kita berkumpul,” ujarnya.

 

Cucu pahlawan nasional KHR As’ad Syamsul Arifin  menegaskan, andaikan pandemi covid-19 adalah metafora dari dosa dan kedurhakaan yang dilakukan oleh manusia, maka menghindari sementara waktu berteman dengan orang yang buruk adalah social distancing sebagai ikhtiar pengendalian infeksi non-farmasi untuk terhenti tidak menular.”Kita ikuti aturan supaya ada jarak, agar terhindar dari penularan,” katanya.

 

Andaikan pandemi COVID-19 adalah metafora dari dosa dan kedurhakaan yang dilakukan oleh manusia, maka setiap kesunyian dan segala upaya pembatasan, lockdown, yang menyebabkan terisolir dari dunia luar, terkucil, kesepian, dan hilangnya manfaat lain yang berkaitan dengan interaksi antar manusia, harus menjadi renungan.

 

“Ini adalah renungan bagaimana orang yang kelakuannya bejat dan sulit dinasehati, maka konsekuensinya adalah dipenjara,” tegas Kiai Azaim.

 

Andaikan pandemi COVID-19 adalah metafora dari dosa dan kedurhakaan yang dilakukan oleh manusia, maka gejala panik, ketakutan yang berlebihan, kecemasan yang melampaui batas akibat terhantui virus ini, maka ini adalah proses kesadaran diri.

 

“Seandainya virus corona ini adalah dosa, maka ia berproses menjadi orang yang bertaubat, bertakwa. Tetapi jika tidak, maka ia akan terjangkit psikosomatis yaitu gangguan fikiran dan tubuh,”bebernya.

 

Kiai Azaim menambahkan,  bahaya virus ini tidak lebih besar dari bahayanya virus kedurhakaan dan dosa yang dilakukan.

Selain itu, Kiai Azaim  mendoakan seluruh umat manusia agar sehat walafiat. Negeri tercinta Indonesia diberi kesembuhan, dan keselamatan. Tidak ada lagi zona merah, sehingga umat Islam bisa menyambut Ramadhan dengan lebih semangat, dengan tarawih, dan tadarus.”Kita juga akan meramaikan masjid-masjid kita untuk shalat Idul Fitri tanpa ada halangan lagi,”pungkasnya.(fat)




Loading Facebook Comments ...