Search

Ada Peran Nazi Dalam Naskah Teks Proklamasi RI

Mesin ketik U-boat typing machine kriegsmarine2-01

Jakarta, reportasenews.com – Mungkin anda akan bertanya bagaimana bisa Nazi Jerman membantu kemerdekaan di Indonesia saat proklamasi akan dikumandangkan. Memang tidak dipungkiri Nazi Jerman mempunyai ‘peranan’ terhadap jalannya Proklamasi Kemerdekaan.

Sangat sepele, tetapi fakta sejarah ini banyak tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Tidak disangka pula, naskah proklamasi Republik Indonesia tidak akan bisa dibuat, tanpa bantuan Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman Nazi saat itu).

Mesin ketik yang biasa dipakai oleh awak Kriegsmarine Jerman pada waktu itu, menjadi faktor penting dalam hal penulisan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Pengamat sejarah Jerman Nazi, Alif Rafik Khan mengatakan, fakta menarik lainnya adalah betapa miripnya naskah Proklamasi Kemerdekaan ini dengan dokumen asli yang diperuntukkan pada awak U-boat Kriegsmarine yang bermarkas di Jakarta.

“Mesin ketik yang digunakan dalam naskah proklamasi Indonesia, sama dengan yang digunakan Kriegsmarine. Hasil model ketikan juga sama,” kata Alif.

Alif menjelaskan, kisah nyata ini berawal pada malam tanggal 16 Agustus 1945, bertempat di rumah Laksamana Muda Kekaisaran Jepang, Maeda (Minoru) Tadashi. Sebuah draft baru saja disiapkan beberapa jam sebelumnya oleh Soekarno, Hatta, dan Soebardjo, yang dikerjakan di rumah Laksamana dari Jepang tersebut, di jalan Miyako-Doori 1, Jakarta (kini Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat).

Maeda sendiri telah pulas tertidur di loteng rumahnya. Sebelumnya dia telah mengambil resiko dengan menyatakan persetujuannya terhadap ide kemerdekaan Indonesia, dan bahkan meminjamkan rumahnya sebagai tempat penyusunan Deklarasi Kemerdekaan.

“Saat itu, tim perumus naskah proklamasi, menyusun draft naskah di rumah Laksamana Maeda,” ujar Alif.

Naskah tersebut rencananya akan ditandatangani oleh 27 orang anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang sekaligus melambangkan keberagaman Negara Indonesia. Selain itu, hal tersebut juga terinspirasi pada semangat dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.

“Tadinya naskah tersebut rencananya akan ditandatangani 27 orang anggota PPKI,” imbuhnya.

Tetapi kemudian, rencana tersebut mendapatkan tentangan dari sejumlah aktivis muda, yang memandang bahwa Panitia yang dibentuk oleh Jepang itu terlalu Jepang-Sentris dan tidak mempunyai kekuatan untuk mandiri. Kekuatan Jepang yang merosot tajam di kancah Perang Asia akan memunculkan isu kredibilitas yang akan menghambat usaha pengakuan dari negara-negara lain bila kemudian Deklarasi tersebut selesai dibuat.

Para aktivis muda tersebut melangkah lebih jauh lagi dengan menuntut supaya merekalah berenam yang akan menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Akhirnya setelah debat yang panas, tercapai kompromi di antara kedua belah pihak yang berselisih, bahwa yang akan menandatangani naskah Proklamasi adalah Soekarno dan Hatta berdua saja, dengan sebelumnya mencantumkan ‘atas nama bangsa Indonesia’.

Tapi kemudian masalah yang tak terduga sebelumnya terjadi. Mesin ketik Jepang yang berada di rumah sang Laksamana tidak mempunyai huruf latin di dalamnya dan hanya huruf kanji.

“Masalah datang dari mesin ketik yang ada di rumah Laksamana Maeda. Karena mesin ketik yang digunakan menggunakan huruf kanji,” kata Alif.

Untungnya, salah seorang dari mereka mengetahui dimana bisa mendapatkan mesin ketik yang diinginkan pada malam yang selarut itu, dan kondisi waktu yang sangat terbatas.

Beberapa orang yang hadir segera bergegas pergi menggunakan jip kepunyaan Maeda, Satsuki Mishima, untuk meminjam mesin ketik kepunyaan kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Indonesia, Korvettenkapitän Dr. Kandeler.

“Mereka akhirnya mengunjungi perwakilan AL Jerman yang saat itu berkantor di Jakarta, untuk meminjam mesin ketik,” kata Alif.

Sajuti Melik kemudian mengetikkan naskah yang sangat bersejarah ini untuk kemudian, keesokan harinya, naskah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945.

Replika mesin ketik Jerman dalam perumusan naskah Proklamasi RI. (Foto: Alif Rafik Khan)

Replika mesin ketik Jerman dalam perumusan naskah Proklamasi RI. (Foto: Alif Rafik Khan)

Saat ini, mesin ketik kepunyaan Kriegsmarine yang digunakan untuk mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah disimpan di bangunan yang sama tempat saat itu naskah tersebut didiktekan, yaitu di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di jalan Imam Bonjol No.1, Menteng, Jakarta.

Namun, salah satu petugas Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jaka Perbawa mengatakan, bahwa mesin ketik yang dipajang di museum saat ini adalah replika.

“Itu hanya replika saja. Kita carikan model yang umum digunakan orang pada masa Jepang dan buatan Jepang,” kata Jaka kepada reportasenews.com, Kamis (17/8).

Jaka tidak memungkiri, bahwa adanya keterlibatan AL Jerman saat itu yang meminjamkan mesin ketik buatan Jerman tersebut kepada tim perumus naskah proklamasi.

“Informasi tersebut kami terima dari para tokoh sejarah yang hadir dan memberi kesaksian lewat memoir-memoirnya,” imbuh Jaka. (tam)




Loading Facebook Comments ...