Search

Afghanistan The Graveyard of Empire: 16 Tahun Menjajah Belum Juga Menang, Kini Trump Sesumbar Akan Menumpas Afghanistan Lagi

Tank Rusia memasuki Afghanistan. Sejarah mencatat Rusia dikalahkan oleh Mujahidin Taliban
Tank Rusia memasuki Afghanistan. Sejarah mencatat Rusia dikalahkan oleh Mujahidin Taliban

Amerika, reportasenews.com – Minggu lalu, Donald Trump berkata bahwa dia akan meningkatkan serangan militer ke Afghanistan dimasa depan. Tidak dijelaskan detail kapan dan seberapa besar tekanan militer akan dinaikan. Media AS ramai mengkritik langkah Trump ini sebagai omong kosong saja.

Afghanistan dikenal ahli sejarah sejak 2 abad silam sebagai “the graveyard of empires“, wilayah ini adalah kuburan bagi negara superpower dunia.

Siapapun bangsa asing yang masuk kesana ingin menjajah Afgahnistan maka sejarah sudah mencatat negara itu dikalahkan semua oleh pejuang Afghanistan yang relatif “miskin-primitif”.

Amerika menyerbu Afghanistan keroyokan dengan sekutunya Inggris, Australia dan negara NATO lainnya. Dengan peralatan super canggih dan prajurit yang disebut terhebat didunia ternyata keok disana.

Selama 16 tahun perang belum selesai (dimulai Oktober 2001), dan AS belum menang sama sekali disana, perang masih berjalan, keroyokan pun masih kalah. Perang “operation enduring freedom” ini adalah perang terlama AS, hasilnya tidak sukses, dan menurut Universitas Harvard menelan biaya sekitar $ 6 Trilyun (digabungkan biaya perang Irak).

Rusia pernah sendirian masuk kesana menjajah (tahun 1979 hingga 1992) sehingga kehilangan 15.000 prajuritnya, dan kalah telak. Jendral Boris adalah perwira tinggi Rusia terakhir yang membawa pasukannya keluar dari Afghanistan. Sembilan tahun perang disana, dan Rusia kalah telak melawan gerilyawan Taliban.

Perang Anglo-Afghan awal abad 19 sempat terjadi dua periode untuk menjajah Afghanistan dipimpin oleh negara kuat Inggris. Dan, dua kali Inggris gagal menguasai Afghanistan. Gagal dua kali rupanya membuat Inggris tidak kapok, dan menumpang dengan AS kembali ikut mengkeroyok Afghanistan.

Akankah Taliban Mampu Membalikkan Afghanistan menjadi ‘kuburan bagi AS dan sekutunya’? Jika memang iya, maka negara “miskin-primitif” ini akan membuat Afghanistan menjadi “Vietnam kedua” bagi AS.

Sehari setelah Presiden Trump mengungkapkan strategi terbarunya untuk Afghanistan, melakukan kehadiran militer yang lebih besar dan meningkatkan jumlah pasukan, Taliban mengancam untuk mengubah negara tersebut menjadi lahan “kuburan lainnya” untuk AS.
Pada hari Selasa lalu, media Afghanistan melaporkan bahwa Taliban telah mengeluarkan ancaman baru ke AS setelah Presiden Trump mengungkapkan strategi terbarunya untuk menyerang Afghanistan.

“Jika Amerika tidak menarik pasukannya dari Afghanistan, segera Afghanistan akan menjadi kuburan lain bagi negara adidaya ini di abad ke-21,” media mengutip Zabiullah Mujahid, juru bicara Taliban di Afghanistan, dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan bahwa Amerika harus memikirkan strategi keluar “alih-alih melanjutkan perang.”

“Selama ada satu tentara AS di tanah kami, dan mereka terus memaksakan perang kepada kita, kita, dengan semangat tinggi kami akan melanjutkan jihad kita,” kata Mujahid.

Media ‘Sputnik’ Afghanistan berbicara dengan pakar Afghanistan tentang seberapa serius Taliban menghadapi Amerika Serikat, karena Donald Trump berjanji untuk melakukan segala upaya untuk mencegah Taliban mengambil alih posisi di Afghanistan.

“Taliban khawatir dengan strategi baru Washington untuk Afghanistan, ini sangat menakutkan, reaksi terhadap pernyataan AS ini bertujuan untuk meningkatkan semangat bela diri dan moral. Namun Taliban tidak akan pernah menang di Afghanistan,” Letnan Jenderal Abdul Hadi Khalid , Penasihat militer untuk Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, mengatakan kepada Sputnik.

Selain komitmennya terhadap perang terpanjang AS, Presiden Trump juga mengatakan bahwa “pilar utama strategi baru adalah integrasi semua instrumen kekuatan Amerika: diplomatik, ekonomi dan militer menuju hasil yang sukses.”

“Suatu hari, setelah sebuah usaha militer yang efektif, mungkin akan memungkinkan untuk memiliki penyelesaian politik yang mencakup unsur-unsur Taliban di Afghanistan. Tidak ada yang tahu kapan atau kapan hal itu akan terjadi,”

16 tahun perang belum selesai, AS dan NATO masih belum bisa mematahkan Taliban

16 tahun perang belum selesai, AS dan NATO masih belum bisa mematahkan Taliban

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin di Fort Myer di Arlington, Virginia sambil mengungkapkan strategi baru.

Namun, lanjutnya, AS akan terus mendukung pemerintah Afghanistan dan militer Afghanistan saat mereka menghadapi Taliban di lapangan.

“Sehubungan dengan kemungkinan negosiasi dengan Taliban, perlu dicatat bahwa ada orang-orang di antara gerakan ini yang mengerti bahwa perang bukanlah alat untuk memecahkan masalah dan mereka harus duduk di meja perundingan,” Letnan Jenderal Abdul Hadi Khalid mengatakan kepada Sputnik.

“Afghanistan menjadi korban Perang Dingin. Kekuatan dunia seperti Rusia harus membantu menyelesaikan perdamaian,” pungkasnya.

Abbas Naviyan, anggota dewan ‘Right Wing’ dan Keadilan Afghanistan, juga menunjukkan bahwa strategi baru AS untuk Afghanistan memiliki daya tarik yang jelas bagi Taliban: duduklah di meja perundingan. AS adalah negara adikuasa, katanya, dan Taliban tidak dapat melawannya.

“Sebelumnya, Taliban mampu menghadapi AS karena dukungan dari Pakistan. Jika AS berhasil dengan strateginya dan memaksa Pakistan untuk menghentikan dukungannya terhadap Taliban, gerakan ini akan menghentikan pemberontakannya tidak hanya terhadap AS, tapi juga juga melawan angkatan bersenjata pemerintah Afghanistan, “katanya kepada Sputnik.

Dalam pidatonya pada hari Senin, Presiden Trump secara khusus mengatakan bahwa Pakistan “selalu memberikan surga yang aman kepada agen-agen kekacauan, kekerasan dan teror.”
“Kita tidak bisa lagi diam tentang tempat-tempat aman Pakistan untuk organisasi teroris, Taliban dan kelompok-kelompok lain yang menimbulkan ancaman bagi wilayah tersebut dan sekitarnya,” kata pemimpin AS tersebut.

Ancaman itu lebih buruk, tambahnya, karena Pakistan dan India adalah dua negara nuklir, yang hubungan tegangnya mengancam untuk terjerat konflik. Jadi, pilar berikutnya strategi AS adalah mengubah pendekatannya tentang bagaimana menghadapi Pakistan. (Hsg)




Loading Facebook Comments ...