Rabu, 18 Januari 2017

Arak Arakan Lodhong Dalam Festival Gunung Slamet

Arak Arakan Lodhong Dalam Festival Gunung Slamet
Warga mengarak Lodhong, (tempat air dari bambu) keliling desa

PURBALINGGA, REPORTASE – Festival Gunung Slamet (FGS) di Kabupaten Purbalingga dimeriahkan dengan prosesi pengambilan air di sumber mata air Sikopyah Kamis (13/10). Pengambilan air Sikopyah yang berada dikaki Gunung Slamet  adalah salah dari rangkaian Festival Gunung Slamet.

Pengambilan air dipimpin oleh sesepuh diikuti ribuan wargannya. Dengan Membawa lodhong (tempat air dari bambu) yang terdiri dari para ibu-ibu, remaja putri dan para pemuda serta orang tua.

Air dalam Lodhong itu kemudian diarak sepanjang jalan desa menuju Balai Desa di Desa Serang Kecamatan Karangreja. Ribuan warga menyambut berjejer di sepanjang jalan yang dilalui kirab air suci yang diambil dari mata air Sikopyah.

bandicam-2016-10-15-13-42-02-953

Iringan pembawa lodhong juga diikuti ribuan warga lainnya yang membawa nasi penggel. Nasi jagung itu disebutnya sebagai nasi trigi, karena berisi tiga jenis lauk dan sayur yakni sayur oseng pepaya, tempe goreng, dan ikan asin.

Setelah berkumpul di balai desa, warga pembawa lodhong dan pembawa nasi Penggel menikmati makan bersama. Para wisatawan yang berkunjungpun ikut berbaur menikmati nasi penggel tersebut.

Kirab berhenti di kantor desa dan Lodong berisi air tersebut diserahkan dari kepala desa Sugito kepada Bupati Purbalingga Tasdi yang didampingi wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, dan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora), Subeno.

Air kemudian disimpan di kawasan wisata Lembah Asri yang juga berada di desa tersebut. Meski  jarak lumayan jauh, para pembawa lodhong tanpa menggunakan alas kaki, tetap bersemangat.

“Saya sungguh senang bisa terlibat langsung dalam kegiatan Festival Gunung Slamet. Meski harus berjalan cukup jauh, tapi tidak ada rasa capek sekalipun,” ungkap Siti (22 tahun), warga setempat.

Prosesi pengambilan air dengan 777 lodhong bambu ini juga dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan MURI diterima oleh Bupati Purbalingga Tasdi.

“Kearifan lokal warga masyarakat yang selalu menjaga sumber mata air kehidupan dan melestarikan lingkungannya, kami kemas dalam sebuah prosesi  yang menarik dalam rangkaian Festival Gunung Slamet,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Drs Subeno, SE, M.Si.

Festival Gunung Slamet yang digelar untuk kali kedua ini, selain melestarikan tradisi warga dalam ruwatan agung, juga untuk mengangkat citra pariwisata Purbalingga khususnya di Desa Wisata Serang. (kus)

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca artikel Reportase News. Untuk mendapatkan informasi terupdate, silakan berlangganan newsletter kami melalui kolom email di bawah ini.

No Responses

Loading Facebook Comments ...