Search

Ayahku Panutanku Idolaku

Eran Hutabarat, penghobi motor klasik. (Foto. Joko Dolok)

Jakarta, Reportasenews – Eran Hutabarat, anak pertama dari tiga bersaudara buah perkawinan Sarma Hutabarat dan R. Sigalingging ini adalah salah satu penghobi berat motor klasik di Jakarta. Hobi kendaraan antiknya tak lepas dari peran orang tua yang sekaligus menjadi panutannya.

Kecintaannya pada motor klasik berawal pada tahun 97 saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Saat itu Eran dengan diam-diam ingin mengendarai mobil Toyota Celica 1976 milik ayahnya yang memang seorang kolektor mobil antik.

Karena kehati-hatiannya takut ketahuan orangtuanya, saat mengeluarkan mobil dari garasi justru menabrak mobil tamu tetangga rumah yang terparkin di depan rumahnya. Eran pun takut dan panik saat pemilik mobil keluar bersamaan dengan sang ayah yang juga keluar ingin tau apa yang terjadi.

Singkat cerita terjadilah dialog antara sang ayah dengan tetangga, tapi yang terjadi diluar dugaan Eran, apa yang dikatakan ayahnya kala itu.

“Sudah kamu bawa saja mobilnya, nanti semua kerusakan mobil yang kamu tabrak biar papa yang urus” itulah kata-kata ayahnya yang tak bisa ia lupakan.

Koleksi motor klasik Eran Hutabarat. (Foto. Joko Dolok)

Dari cerita itulah kecintaannya kepada mobil dan motor klasik mulai mengalir di darah Eran. Motor klasik pertama yang ia incar adalah HARLEY DAVIDSON WL 1948 seharga 50 juta. Eran menawar 45 juta, dan disetujui pemiliknya. Bukannya senang Eran justru bingung karena saat itu ia belum punya uang sebanyak itu. Jadilah ia minta waktu selang beberapa hari ke pemilik Harley. Namun rejeki belum berpihak karena pemilik motor menjual motor tersebut dengan harga 65 juta kepada orang lain.

Seiring berjalannya waktu setelah bekerja dan punya uang Eran pun berniat membeli motor Norton Big 4, 600 cc tahun 1952 dari Belanda. Lagi-lagi keinginannya memiliki motor antik tak berjalan mulus, sudah setahun berlalu motor pesanannya  tak kunjung datang. Sembari menunggu motornya datang, Eran  membeli 2 motor sekaligus yaitu Norton ES 2, 500 cc tahun 1954 dan Norton ES 2 , 500 cc tahun 1956.

Tahun 2014  ada acara PARJO alias PASAR JONGKOK yang digelar di Senayan secara tak sengaja ada ruang pamer di acara tersebut dan dipajang motor Norton Big 4 ;600 cc tahun 1952 dan Eran pun curiga mirip dengan motor yang sudah lama ia tunggu-tunggu dari Belanda.

Benar saja ternyata motor tersebut adalah motor pesanannya. Setelah berdialog dengan si pembawa motor  terjadilah kesepakatan untuk Eran melunasi sisa uang 25 juta dan akhirnya   Norton tersebut pun sah milik Eran.

Eran Hutabarat, penghobi motor klasik. (Foto. Joko Dolok)

Satu lagi cerita menarik saat Eran membeli Norton ES 2 ,350 cc tahun 1956 di daerah Bekasi dengan kondisi Full Original, surat surat lengkap , tidak di restorasi, bahkan masih ada peneng dealernya. Ini adalah motor  tangan pertama  kepunyaan almarhum pak Budi pensiunan Departemen Perdagangan dengan harga 120 juta.

Pak Budi menurut Eran adalah kolektor motor klasik dan kenapa beliau menjual motor kesayangan nya?, karena belia sedang butuh uang untuk biaya berobat istrinya terkena kanker.

Selang 2 tahun kemudian Norton ES 2 ,350 cc tahun 1956 ini pun ia lepas seharga 185 juta ,dan kabar nya motor Norton itupun sudah berpindah tangan lagi  hingga ke Pulau Dewata Bali dengan nilai jual 200 juta rupiah.

lika liku seputar motor klasik dan antik memang unik. Menelusuri apapun motor atau mobil kalsik selalu mempunyai cerita yang menarik. Dan yang perlu dicatat harganya pun selalu meningkat. Semoga motor ataupun mobil klasik tidak terlempar hingga keluar dari ibu pertiwi ini, karena kisah dan cerita nya pun selalu asik , menarik , unik untuk di kulik.

Eran pun menutup cerita ini sambil menyeruput kopi di Coffee Scoot miliknya di bilangan BKT Duren Sawit, Jakarta timur. Coffe Scoot sengaja ia bangun bersama ayahnya sebagai tempat nongkrong para  pecinta motor klasik untuk sekedar berbagi cerita dan pengalaman seputar motor klasik.

Sarma Hutabarat adalah API penyemangat bagi Eran dalam melanjutkan hobi akan kecintaan motor klasik. API penyemangat disini diartikan oleh Eran sendiri orang yang penuh membara akan semangat juangnya dan juga API itu adalah AYAHKU PANUTANKU  IDOLAKU. (Dolok)




Loading Facebook Comments ...