Search

Badan Karantina Pertanian Ungkap Penyelundupan Benih Dari Tiongkok

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Badan Karantina Pertanian, Antarjo Dikin (kiri) dalam sosialisasi tentang benih di sebuah hotel, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (22/1). (Fofo:dif))
Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Badan Karantina Pertanian, Antarjo Dikin (kiri) dalam sosialisasi tentang benih di sebuah hotel, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (22/1). (Fofo:dif))


Malang, 
reportasenews.com – Badan Karantina Pertanian mengungkapkan saat ini modus penyelundupan benih tanaman dari luar negeri sudah semakin beragam dan canggih, bahkan dalam banyak kasus mereka memanfaatkan waktu saat libur atau cuti bersama. Lembaga ini juga berhasil mengungkap kasus penyelundupan benih dari Tiongkok. 

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Badan Karantina Pertanian, Antarjo Dikin menegaskan pengawasan benih di semua lini diterapkan semaksimal mungkin sebagai upaya mengamankan negara. Petugas telah berhasil menggagalkan upaya penyelundupan yang berpotensi merugikan negara. 

“Benih cabai dari Tiongkok diselundupkan saat tahun baru 2018. Demikian juga bibit jeruk di Cengkareng. Penyelundupan lain juga ada di Bandara Soeekarno Hatta dan Juanda Surabaya,” katanya pada wartawan di Malang, Jawa Timur, Jumat (23/2).

Ia mengatakan, para penyelundup  benih tanaman impor melakukan berbagai cara untuk memasukkan benih-benih itu ke Indonesia. Selain memanfaatkan kesemapatan saat agenda cuti bersama, pengiriman barang ilegal itu juga diselundupkan melalui jasa pengiriman pos. Modusnya, benih ilegal itu diselipkan dalam majalah dan buku.

Pihaknya kini juga intensif melakukan pengawasan hingga masuk ke kantor pos selain di pelabuhan dan bandara. Pengawasan juga melibatkan apara terkait, agar lebih optimal lagi. 

“Hambatan untuk pengembangan, soal sumber daya manusia, ada moratorium pegawai. Padahal pelabuhan laut dan bandara buka 24 jam juga semakin ramai,” tegasnya.

Ia menjelaskan, secara personel memang ada kendala, karena jumlahnya yang kurang. Namun, selain itu, para penyelundup yang terlibat tidak fasih berbahasa Indonesia, sehingga pengembangan kasus tersendat.  

“Ada barang, orangnya tidak ada. Begitu digiring, orangnya menghilang. Di karantina belum ada aturan menghukum orang asing di dalam negeri,” ungkapnya. (Dif)




Loading Facebook Comments ...