Search

Belajar Sejarah Perang Dunia 2 Dengan Reka Ulang Sejarah

Kelompok pegiat sejarah perang dunia ke-2
Kelompok pegiat sejarah perang dunia ke-2

JAKARTA RN.COM – Belajar sejarah tidak hanya harus dengan membaca buku, artikel atau mungkin melihat dokumentasi sejarah masa lalu.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh beberapa pegiat sejarah perang dunia ke-2 ini, yang biasa menyebut dirinya sebagai ‘reenactor’.

Alif Rafik Khan (30), pria asal Sukabumi  Jawa Barat ini merupakan pegiat sejarah (reenactor) dengan tema Jerman Era Perang Dunia 2.

Menurut Alif, selain hobi membaca artikel dan dokumen sejarah, dirinya lebih suka merasakan langsung dengan menggunakan seragam se-otentik mungkin.

“Reenacting itu kalau dalam bahasa Indonesia adalah reka ulang sejarah, dalam hal ini kita belajar melalui seragam, jadi ngga cuma baca buku sejarah & nonton film aja. Selain itu, kita juga mereka ulang pertempuran yang benar-benar sesuai terjadi di perang dunia 2,” ujar Alif dalam bincang-bincangnya bersama reportasenews.com, Jakarta, Senin  (12/09).

Untuk bisa mengoleksi beberapa perlengkapan perang dunia 2 seperti seragam, senjata, serta atribut lainnnya, memang butuh kocek yang agak lumayan mahal. Tetapi kepuasan menikmati hobi adalah kebanggaan tersendiri bagi para reenactor.

Pegiat Sejarah Perang Dunia ke-2

Pegiat Sejarah Perang Dunia ke-2

“Suka dukanya, apa yaa.. dukanya juga ngga sebanding dengan kepuasan saat kita dapet seragamnya, walau mahal.” ujar Alif menambahkan.

Tidak hanya seragam Jerman Nazi yang mereka koleksi, ada juga seragam tentara Inggris, KNIL Belanda, US Airborne, Jepang, Vietkong, PETA, bahkan seragam TNI era awal kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, mereka juga mengoleksi ‘dummy’ atau replika senjata dan amunisi perang dunia ke-2, semuanya dibuat serupa dengan aslinya.

Sama halnya dengan Alif, Errol Tornado (45), menganggap reenactor menjadi cara belajar sejarah yang tidak membosankan, dengan cara impresi sejarah langsung menggunakan atribut sebagaimana sejarah aslinya.

“Ingat pesan Bung Karno, jas merah (jangan sekali-sekali melupakan sejarah). Tujuannya agar kita tidak bosan belajar sejarah hanya dari buku dan belajar di kelas,” ujar Errol yang memiliki koleksi seragam tentara Jerman Nazi dan KNIL Belanda.

Selain tidak murah, kesulitan mencari atribut yang langka juga menjadi seni bagi para penikmat ‘kain lapuk’ ini. Bahkan tidak jarang yang mereka miliki merupakan peninggalan asli perang dunia 2.

“Beli perabotan lenong biasanya nitip sama kawan beli di luar negri atau ke kawan produsen yg memproduksi barang yang kita butuhkan tentu saja dengan keakuratan yg 100% sama dengan aslinya,” kata Errol.

Biasanya mereka yang tergabung dalam Indonesian Reenactor (IDR), berkumpul dalam hari besar tertentu, seperti tanggal HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus, atau Hari Pahlawan 10 November.

Biasanya mereka akan bergaya layaknya pejuang kemerdekaan RI melawan penjajah. Atau perayaan internasional seperti pendaratan sekutu melawan Jerman Nazi di Normandia, 6 Juni 1944.

“Dan yang kita lakukan murni belajar sejarah, tanpa unsur politik dari negara manapun,” pungkas Errol. (Tam/Tjg)




Loading Facebook Comments ...