Search

Bikin Resah Warga, Rentenir Asal Ketowan Terancam Dipolisikan

Praktik rentenir dengan modus arisan di Dusun Tegalsari, Desa Ketowan, Kecamatan Arjasa, Situbondo,  sangat meresahkan warga.
Praktik rentenir dengan modus arisan di Dusun Tegalsari, Desa Ketowan, Kecamatan Arjasa, Situbondo, sangat meresahkan warga.

Situbondo,reportasenews.com – Praktik rentenir dengan modus arisan di Dusun Tegalsari, Desa Ketowan, Kecamatan Arjasa, Situbondo,  sangat meresahkan warga setempat. Pasalnya, sejumlah warga mengeluh dengan besarnya bunga yang mencekik leher dalam praktik rentener tersebut.

Bahkan,  salah seorang warga  yang mengaku tidak mampu membayar, yakni  Mayani (35) melarikan diri ke Malaysia, sehingga yang menanggung hutang ibu dua anak ini, Agus (40), suaminya.

“Ia mas, istri saya terjerat rentenir yang modusnya arisan. Semula istri saya diberi pinjaman oleh Hj Warda sebesar Rp 3,5 juta. Setelah itu, istri saya disuruh menyicil sebesar Rp 250 ribu setiap bulan selama 7 Tahun, dan itu bayarnya tidak boleh telat. Makanya sekarang istri saya kabur ke Malaysia,  karena tidak kuat bayar,”kata  Agus,  saat  melaporkan kasus yang menimpanya di kantor Desa Ketowan, Senin (02/7).

Hal senada juga Suhatina (46), selaku  ketua kelompok arisan, Bu Suhatina (46),  yang datang ke kantor desa bersama Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) Nasional mengatakan,  bahwa rentenir berkedok arisan yang dikelola oleh Hj Warda itu sangat mencekik leher.

Terungkapnya praktek  rentener  yang dilakukan Hj Wardah itu, berawal dari laporan  Hj  Warda  ke kantor desa setempat, dalam laporannya Hj Wardah meminta kepada Kepala Desa (Kades) Ketowan agar dilakukan mediasi  terhadap  salah seorang tetangganya, karena  terlambat  membayar  cicilan hutangnya.

Namun,  setelah warga yang mempunyai hutang itu datang ke Kantor Desa Ketowan, dengan didampingi LPK untuk proses  mediasi, ternyata Hj Warda sendiri  tidak datang,  dengan alasan keluarganya  ada yang meninggal  di Besuki.

Sekretaris Desa (Sekdes) Ketowan, Kecamatan Arjasa, Sugiharjo mengatakan, dengan tidak hadirnya pelapor, Hj Warda maka pihaknya akan melakukan pemanggilan kembali. Dengan harapan,  ke depan tidak ada lagi yang menjadi korban rentenir dengan modus arisan.

 “Karena hari ini tidak  hadir, sehingga kami  kembali memanggil Hj Wardah,”kata  Sugiharjo.

Menurutnya, pihaknya berterima kasih kepada warga yang sudah berani memberikan informasi tentang  adanya praktik rentenir  tersebut. Namun karena tidak punya dasar, pihaknya tidak dapat memberikan tindakan terhadap orang yang diduga melakukan praktik rentenir yang dinilai meresahkan tersebut.

Sementara itu, Arie Syamsul Arifin  salah seorang pengurus LPK  mengatakan, sebagai langkah awal   dalam melakukan  pendampingan,  pihaknya sengaja memberikan kesempatan kepada   para korban  untuk  melakukan mediasi.”Namun, jika proses di kantor desa itu, Hj Warda tidak ada itikad baik, kami  tidak akan segan-segan  untuk melaporkan kasus praktek  rentener ke polisi,”katanya.(fat)




Loading Facebook Comments ...