Search

Bob Dylan Akhirnya Bersedia Menerima Nobel Sastra

Bob Dylan saat tampil di Azkena Rock Festival tahun 2010,  sumber: Alberto Cabello / Wikipedia
Bob Dylan saat tampil di Azkena Rock Festival tahun 2010, sumber: Alberto Cabello / Wikipedia

SWEDIA, REPORTASE – Yayasan Nobel, selaku pengelola penghargaan Nobel, pada Jumat (28/10) mengumumkan bahwa awal pekan, Bob Dylan telah menghubungi Sara Danus, Sekretaris Permanen Akademi Swedia,  dan mengatakan,“Kabar tentang Hadiah Nobel membuat saya tak bisa berkomentar. Saya sangat menghargai penghargaan itu.”

Kabar ini tentu saja menjawab keraguan akan kebersediaannya menerima penghargaan tahunan di bidang sastra itu, setelah selama beberapa pekan dia tak menjawab surat elektronik maupun telepon dari panitia penghargaan.

Sebelumnya, di awal bulan Oktober, Akademi Swedia, selaku institusi penunjuk penerima Nobel sastra, mengumumkan bahwa Bob Dylan akan menjadi penerima Nobel Sastra Tahun ini. Dalam situs resmi Yayasan Nobel, mereka memilih penyanyi folk Amerika Serikat (AS) ini karena dianggap telah menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu Amerika.

Namun, setelah pengumuman, penyanyi berusia 75 tahun itu solah-olah tak memedulikannya. Bahkan, pengumuman penerimaan Nobel ini pun sempat hilang dari situs pribadinya. Seorang anggota panitia, awal bulan ini, menyebut ketidakpedulian Dylan sebagai “tidak sopan dan arogan”.

Bersedianya Dylan ini senada dengan pernyataan yang dia lontarkan sebelumnya ke The Telegraph, bahwa dia menganggap penghargaan kepadanya itu sebagai hebat dan luar biasa. Surat kabar itu juga mengutip ucapannya, “Sukar dipercaya. Siapa yang pernah memimpikannya?”

Meski dalam pengumuman resminya, panitia tak menyebut tentang kepastian Dylan datang ke upacara penyerahan, namun Dylan menyatakan ke The Telegraph, dia pasti akan datang, bila dimungkinkan.

Sebenarnya, penunjukkan Bob Dylan ini masih menimbulkan pro dan kontra akan kepantasannya mendapatkan penghargaan ini. Seperti diketahui, Aflred Nobel, dalam wasiatnya, mengatakan bahwa hadiah Nobel Sastra diberikan kepada sosok yang berjasa menciptakan karya-karya sastra yang menakjubkan. Sepanjang penyerahan penghargaan ini, ada satu sastrawan yang menolak menerima penghargaan ini, yaitu Jean Paul Sartre dari Perancis, pada tahun 1964.

Situs musik Pitchfork mengkritik, lirik-lirik Dylan, yang meskipun hebat, tak bisa digolongkan sebagai karya sastra. Dalam opini editornya, situs ini mengatakan, “Dylan adalah musisi dan hubungannya dengan kata-katanya adalah sebagai pembuat lirik, seseorang yang prosanya hadir bersama dengan music. Membaca liriknya dengan datar, tanpa musik pengantarnya, adalah seperti merasakan karya seninya yang terpenggal.”

The Telegraph bahkan menyinggung, mungkin ada agenda dari panitia untuk memopulerkan penghargaan ini, setelah sebelumnya memilih beberapa satrawan yang namanya benar-benar belum dikenal luas oleh dunia.

Sebaliknya, Tim Kaine, calon wakil presiden AS, dalam wawancaranya dengan The Huffington Post, Sabtu (29/10), menganggap bahwa Bob Dylan layak mendapatkan penghargaan ini karena dia adalah seniman hebat.

Nada serupa dituliskan oleh John Scalzi, seorang penulis fiksi ternama AS, dalam kicauannya di Twitter yang mengatakan, “Menulis lagu adalah menulis karya, dan Bob Dylan adalah salah satu penulis paling berpengaruh dalam 100 tahun terakhir.”

Justru, yang menggelitik adalah kicauan Jodi Picoult, penulis novel fiksi laris Small Great Things dari AS, yang menyebut, “Saya turut senang untuk Bob Dylan. Namun, apakah ini berarti saya bisa memenangkan Grammy?”

Lepas dari pro dan kontra yang selalu mewarnai penyerahan Nobel, karya-karya Bob Dylan memang hebat. Kritik-kritik sosial yang mewarnai lirik-liriknya banyak memengaruhi musisi-musisi lain di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Ahmad Albar, vokalis God Bless dan Gong 2000, dalam sebuah acara perbincangan di Metro TV mengakui bahwa di awal kariernya, dia banyak dipengaruhi penyanyi bernama asli Robert Zimmerman ini, termasuk gaya rambutnya.(Elias Widhi – dari berbagai sumber)

 




Loading Facebook Comments ...