Search

Boyo, Dari Nelayan Menjadi Pemilik Dive Center di Pulau Pramuka

Maraknya olahraga penyelaman di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tidak terlepas dari usaha yang dirintis Basirat (44) alias Boyo, seorang nelayan yang dengan modal nekat membuka penyewaan alat-alat penyelaman paling lengkap di sana. (foto: Pribadi}
Maraknya olahraga penyelaman di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tidak terlepas dari usaha yang dirintis Basirat (44) alias Boyo, seorang nelayan yang dengan modal nekat membuka penyewaan alat-alat penyelaman paling lengkap di sana. (foto: Pribadi}

Jakarta, reportasenews.com-Walau kulitnya hitam legam terbakar matahari, namun ia tidak pernah khawatir terjemur di bawah terik Sang Surya di pinggir laut. Justru lelaki ceking itu  senang dengan panasnya matahari yang selalu menandakan cuaca di Pulau Pramuka cocok memulai penyelaman.

Maraknya olahraga penyelaman di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tidak terlepas dari usaha yang dirintis Basirat (44) alias Boyo, seorang nelayan yang dengan modal nekat membuka penyewaan alat-alat penyelaman paling lengkap di sana.  “Usaha ini dimulai baru lima tahun lalu, ketika ada Jambore Bahari TRAMP,” ungkap Basirat tetap lebih senang disapa Boyo.

Menurut ceritanya, peristiwa Jambore Bahari TRAMP yang dilakukan organisasi pecinta alam terbesar di Jakarta itu membuka pikirannya dengan dunia penyewaan alat-alat selam. Salah satu kegiatan di event tahunan itu adalah Discovery Scuba, dimana peserta diajak menikmati sensasi menyelam dengan peralatan scuba sedalam 5 meter saja.

“Saya lihat banyak peserta yang pengen mencoba lagi menyelam, namun tidak punya alat-alat penyelaman. Kemudian saya minta bantuan dari pecinta alam itu dipinjamkan alat scuba untuk disewakan,” tutur lelaki berkumis yang murah senyum ini.

Penyelam dari Jakarta menjadikan Pulau Pramuka, Kep. Seribu, menjadi pusat pelatihan penyelaman yang aman dan murah karena didukung fasilitas yang memadai. (foto: Hendrata Yudha)

Penyelam dari Jakarta menjadikan Pulau Pramuka, Kep. Seribu, menjadi pusat pelatihan penyelaman yang aman dan murah karena didukung fasilitas yang memadai. (foto: Hendrata Yudha)

Dari modal pinjaman alat scuba itu, perlahan-lahan ia bisa membeli peralatan scuba lainnya. Yang utama dicari adalah tabung scuba, karena para penyelam yang datang tidak mau lagi membawa tabung selam dari rumahnya karena alasan berat.

Peluang bisnis penyewaan tabung scuba itu momentumnya pas, ketika olahraga selam sedang marak di Jakarta dan dibukanya rute kapal ojek penyeberangan dari Pelabuhan Muara Angke-Pulau Pramuka. Akses yang mudah dan murah, menyebabkan para penyuka olahraga selam memilih menjadikan Pulau Pramuka sebagai basis kegiatan menggantikan Pulau Sepa, yang lokasinya lebih jauh dan mahal biaya transportasinya.

Mengawali “kantor” penyewaan alat scuba itu dibuka di bawah pohon, persis di depan rumahnya di pinggir lapangan sepak bola di bagian timur Pulau Pramuka.  Dari bawah pohon itu pula, saat ini Boyo berhasil mengembangkan bisnis penyewaan peralatan scuba terlengkap dan terbanyak di Pulau Pramuka.

Profesi Boyo sebagai nelayan yang hanya mengandalkan jaring ikan, perlahan-lahan ditinggalkan. Perubahan pola produksi ini, sejalan dengan dinamika masyarakat Pulau Pramuka yang berubah menjadi masyarakat wisata.

“Nelayan mah gak tentu pendapatannya, karena cuaca dan ikan semakin susah didapat. Sekarang ini hampir sebagian besar warga yang menjadi pelaku pariwisata,” jelas Boyo.

Sejalan dengan makin banyaknya penyelam yang datang, Boyo juga mengembangkan usaha one stop service. Ia membuka pelayanan paket lengkap, mulai dari penyewaan alat scuba, snorkeling, jasa boga, porter, dive guide,  perahu penyelaman hingga homestay.

 “Namun yang utama saya memudahkan para penyelam beraktifitas saja, “ katanya.

Bagi para penyelam yang berasal dari Jakarta, Boyo sudah dikenal karena ia ringan tangan dan tidak pernah mematok harga sewa peralatan yang mahal. Ia juga supel, mudah dihubungi dan tidak mau bergosip tentang hal-hal negatif tentang koleganya dalam persaingan bisnis. Baginya, kemajuan usaha yang dirintisnya ini tidak terlepas dari peran warga Pulau Pramuka yang secara sadar mau belajar mengembangkan diri lebih terbuka dalam industri pariwisata minat khusus penyelaman.

Perilaku Boyo yang berpikiran terbuka dan positif ini, ditularkan kepada koleganya di bidang wisata bahari. Malah menjadi contoh hidup bagaimana nelayan dengan pendidikan terbatas bisa mengubah nasibnya, tanpa perlu bantuan pemerintah. Semangat wirausaha yang tak kenal lelah ini, membuat warga Pulau Pramuka bisa beradaptasi dengan tuntutan industri pariwisata yang mengedepankan pelayanan kepada wisatawan.

Dermaga kayu di Pulau Pramuka yang dibangun Boyo untuk memudahkan aktifitas penyelaman. (foto: Hendrata Yudha)

Dermaga kayu di Pulau Pramuka yang dibangun Boyo untuk memudahkan aktifitas penyelaman. (foto: Hendrata Yudha)

Agar lebih menarik lagi penyelam berkunjung ke Pulau Pramuka, Boyo rela mengeluarkan dana pribadi membangun dermaga dan ponton kayu untuk memudahkan para penyelaman beraktifitas masuk dan keluar bawah air yang lokasinya aman serta jauh dari lokasi hilir mudik kapal-kapal masuk Pelabuhan Pulau Pramuka.

Siapa sangka, dari kantor di DPR (di bawah pohon rindang) kini mampu membangun ruangan khusus, dengan kelengkapan izin layaknya pelaku bisnis dengan nama CV. Bintang Laut Pramuka. Basirat alias Boyo bisa menjelma menjadi salah satu pelaku bisnis usaha wisata selam yang disegani. Dan ia, tetap masih senang terjemur sinar matahari menanti para penyelam turun ke bawah laut. (tat)




Loading Facebook Comments ...