Search

Cerita Sibad Tanjung Saleh Dirikan Kampung Baca Tansal untuk Membantu Sekolah Anak Pesisir

Kampung Baca Tansal . (foto:das)

Kubu Raya, reportasenews.com – Beragam kisah perjuangan anak sekolah untuk belajar online di masa pandemi Covid 19 juga dirasakan anak-anak di pesisir Sungai Kakap, tepatnya desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.


Sejak 15 Maret 2020, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menutup sekolah di semua tingkatan dari Paud, TK sampai SMA.
Keputusan ini diambil untuk mencegah penyebaran Covid 19 di sekolah.Selama penutupan sekolah, aktivitas belajar dan mengajar tetap dilakukan namun secara online atau daring.


Praktis, awalnya penerapan ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Karena ditutupnya aktivitas belajar di sekolah, anak-anak lebih sering berada di rumah, dan pengawasan dan pembelajaran hanya dilakukan orang tuanya. 

Disisi lain, ‘hilangnya’ pendidikan karakter dan mental  lingkungan sosial pun tak terbentuk karena anak-anak tak bisa berinteraksi langsung dengan teman-teman sebayanya di sekolah.
Akhir dibulan Juli atau  Agustus 2020, perkembangan penyebaran virus Covid 19 menunjukan perubahan yang mengembirakan. 

Angka kasusnya menurun, pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pun menyiapkan langkah akan dibukanya kembali sekolah tatap muka. 
Namun persiapan demi persiapan termasuk salahsatu langkah menerapkan protokol kesehatan Covid 19 di sekolah serta pelaksanaan rapid test dan pengambilan sampel swab terhadap guru dan siswanya, hasilnya sungguh mengejutkan.

Siswa dan Guru yang menjalani rapid test dan uji swab ternyata telah terpapar virus Corona dari luar lingkungan sekolah. Jumlahnya mencapai puluhan guru dan siswa, tersebar di beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Barat. 

Padahal sekolah tatap muka belum digelar. Hingga akhirnya pemerintah membatalkan dimulainya aktivitas belajar atau sekolah tatap muka.

Kondisi ini pun tentu membuat orang tua kembali kelabakan, terutama guru dan siswa yang rindu dengan suasana belajar di sekolah. Tak hanya mendidik keilmuan, belajar dengan tatap muka lebih efektif karena siswa dan guru dapat secara langsung bertatap muka dan dapat membentuk langsung karakter dan mental  siswa. Namun sekali lagi kegiatan sekolah tatap muka di tunda sampai batas tak ditentukan.

Meski harus belajar secara online, namun di Provinsi Kalimantan Barat tak semua daerah dapat mengakses layanan internet, bahkan nun jauh di sana di kawasan Temajuk, beranda terdepan Indonesia di garis batas Indonesia-Malaysia, siswa harus bolak balik mendaki puncak bukit demi sinyal telpon agar  dapat mengakses layanan internet. Mereka sama sekali tak mau ketinggalan pelajaran meski berjuang setiap harinya membawa buku pelajaran dan handphone.

Bahkan, tak perlu jauh beratus-ratus kilometer dari kota Pontianak, Kalimantan Barat yang memiliki beberapa pulau juga  seperti yang terjadi di Desa Tanjung Saleh, Kabupaten Kubu Raya.

Akses internet juga sulit terjangkau, bahkan sinyal telepon ada tapi sulit dan lemah. Yang miris, listrik desa hanya menyala saat jelang sore mulai pukul 16.00 WIB  hingga malam dan jelang pagi pukul 06.00 WIB. Setelah itu, listrik kembali padam.

Dengan keterbatasan yang ada, Siti Badariah yang merupakan sosok anak Desa Tanjung Saleh membuat terobosan. Meski terobosan ini telah ada sebelum pandemi Covid 19. Yakni membuka Kampung baca bagi anak-anak di pesisir. 


Ia mengagas Kampung baca ini bersama-sama rekan-rekannya asal desa yang sama. Ini dilakukannya setelah dia selesai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Kampung baca yang tak ubahnya taman baca,  awalnya adalah perpustakaan di kantor kepala Desa Tanjung Saleh, kini menjadi salahsatu perintis bagi berdirinya kampung Baca  di dua dusun di desa  Tanjung Saleh.

Membangun kreatifitas di tengah keterbatasan yang ada, dan akses jalan yang sulit, dan hanya bisa ditempuh dengan kendaraan air, tidaklah sesederhana itu.
Keberadaan Kampung Baca ini sungguh sangat membantu anak-anak tetap belajar meski ditengah keberbatasan akses internet untuk belajar secara online.

Bahkan untuk memfotocopy tugas-tugas yang diberikan guru secara online, juga toko fotocopy yang ada di desa ini hanya satu. Itu pun harus ditempuh dengan menyeberang ke kampung lainnya dengan sampan atau perahu kecil.

“Kami mengagas ini agar anak-anak di pesisir tidak ketinggalan informasi di luar sana, meski mereka berada jauh dari pusat kota, paling tidak mereka tidak hanya mengenal kampung mereka saja, tetapi juga dunia luar sana melalui taman baca ini, yang kapan saja bisa mereka datangi untuk membaca buku-buku yang tersedia disini, semua layanan ini gratis tanpa di pungut biaya sepeserpun,” kata Siti Badariah, penggagas Kampung Baca Tanjung Saleh.

Kampung baca ini memiliki 4000 buku,  beragam koleksi buku bacaan, baik yang pengadaan sendiri dari desa maupun datang dari sumbangan relawan dan dermawan.

“Kampung Baca ini menjadi pusat kegiatan anak-anak belajar, apalagi di masa pandemi Covid 19, aktivitas belajar atau membaca seperti di taman baca ini dapat membantu anak-anak menumbuhkembangkan kreatifitasnya dengan gemar membaca,” jelas Basariah.

Di dalam taman baca, karena Siti Badariah juga harus mencari nafkah berdagang ikan di Pasar Teratai, Jeruju. Hanya akhir pekan ia bisa menyempatkan kembali ke kampungnya untuk mendampingi pembelajaran kepada anak-anak pesisir ini untuk belajar bersama, mengenal huruf-huruf Al Qur’an hingga memberikan keterampilan, seperti membuat mainan dari alat dan bahan yang tersedia di alam desa Tanjung Saleh.


“Saya baru bisa mendampingi anak-anak belajar di Kampung Baca setiap akhir pekan, seperti hari Jumat, Sabtu atau Minggu. Saya memilih harinya, karena saya harus bekerja sebagai guru Sekolah Dasar swasta dan juga pedagang ikan di pasar. Biasanya saya datang mengajak rekan-rekan saya yang lain dari Pontianak, untuk membantu memberikan pelajaran membaca disini,” ujarnya.

Saat ini fasilitas Kampung Baca disediakan sebuah rumah sederhana berdinding semen dan telah memiliki rak buku, sehingga buku-buku bisa ditata rapi. Rumah ini sendirinya hasil sumbangan salahsatu pemuka desa.
Untuk menuju ke Desa Tanjung Saleh dari Pontianak ditempuh dengan perjalanan darat, dapat diakses dengan kendaraan roda dua atau roda empat dengan jarak 26,7 kilometer atau sekitar 52 menit. 

Setelah tiba di Pasar Sungai Kakap, parkir kendaraan di pasar dan melanjutkan perjalanan dengan menyeberang menggunakan kapal motor klotok atau perahu bermesin dengan waktu tempuh saat cuaca cerah sekitar 30 menit ke Desa Tanjung Saleh. 

Saat momen terbaik, dalam perjalanan pandangan mata dimanjakan dengan deretan hutan mangrove dan pepohonan Nipah yang rapat serta hilir mudik perahu nelayan serta waktu terbaik adalah saat menjelang matahari terbenam.

Kini keberadaan Kampung Baca Tansal ini mendapat sambutan antusias warga Desa Tanjung Saleh. Anak-anak kita dapat mengisi waktunya dengan belajar membaca, dan terus menambah wawasan dari buku-buku di Kampung Baca yang beragam, sesuai dengan minat baca anak-anak ini. Bahkan koleksi buku-buku di Kampung Baca Tansal ini telah mencapai 4.000 buah buku. (das)




Loading Facebook Comments ...