Search

Cina dan AS Berselisih Soal Inovasi Teknologi Kereta Peluru Super Cepat

Kereta peluru Cina pernah mengalami kecelakaan fatal akibat malfungsi/ ABC Aus
Kereta peluru Cina pernah mengalami kecelakaan fatal akibat malfungsi/ ABC Aus

Cina, reportasenews.com – Cina berselisih soal penemuan teknologi kereta peluru super cepat dengan AS. Saat ini di AS sedang diajukan kemungkinan penyidikan atas tuduhan Cina sengaja mencuri teknologi kereta peluru ini. Tampaknya, sebelum dibidik, maka Cina langsung balik menuding balik ke AS.

Cina sejak lama memang dikenal sebagai pusat pembajakan hak intelektual terbesar didunia. Riset tidak pernah terdengar tapi mendadak mereka dapat menjual teknologi baru, ini terasa tidak wajar.

Pejabat mendesak untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi kekayaan intelektual dalam komentar yang dipublikasikan dua hari setelah pengumuman AS.

Beijing rupanya telah memukul balik rencana AS untuk menyelidiki pelanggaran hak paten oleh Cina, para pejabat mendesak untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi teknologi kereta peluru dari pencurian.

Seruan tersebut muncul dalam sebuah komentar yang dipublikasikan di Harian Procuratorial, dua hari setelah diumumkan bahwa Presiden AS Donald Trump akan memberi wewenang kepada perwakilan perdagangannya untuk melihat praktik perdagangan Cina.

Negara-negara berkembang telah “memata-matai dan mencuri” teknologi kereta cepat Cina untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dengan mengorbankan perusahaan Cina, komentar tersebut mengatakan, tanpa memberi nama siapakah negara-negara tersebut.

Penulisnya, Gao Xiaoyi, wakil kepala Kejaksaan Rakyat Shanghai, dan Sun Dawei, dari Kejaksaan Transportasi Kereta Shanghai, mengatakan bahwa Cina telah mengembangkan teknologinya sendiri untuk membangun jaringan kereta api berkecepatan tinggi namun gagal melindungi secara memadai pengetahuannya.

Mereka melanjutkan dengan mengatakan bahwa Cina sangat perlu untuk melindungi kekayaan intelektualnya, khususnya terkait dengan kereta peluru cepat, dan harus mengikuti jejak negara-negara Barat dengan mendapatkan hak paten saat mengembangkan teknologi baru.

Mulai tahun 2004, Cina mendapat transfer teknologi dan pengetahuan yang cepat dengan mendirikan usaha usaha patungan dengan para pemimpin pasar teknologi dari Jerman, Prancis dan Jepang.

Mitra asing menandatangani kontrak transfer teknologi dengan pemerintah Cina, sebaliknya investor akan mendapatkan akses ke pasar Cina yang luas, demikian janji manisnya.

Namun bertahun-tahun kemudian, setelah membantu melatih para insinyur Cina dan mengembangkan rantai pasokan lokal, perusahaan asing tersebut mengatakan bahwa mereka telah kalah, dan mantan rekan mereka sekarang adalah saingan.

Mereka menuduh perusahaan Cina melanggar kontrak yang membatasi penggunaan teknologi mereka ke Cina dengan perusahaan tersebut sekarang berusaha menjual teknologi Cina ke luar negeri dan mengatakan bahwa mereka telah melakukan penjiplakan mentah-mentah daripada berinovasi.

Situasi tersebut mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas yang diangkat dalam rencana Trump untuk menyelidiki hukum, kebijakan, praktik atau tindakan Cina yang “tidak beralasan atau diskriminatif” terhadap teknologi dan kekayaan intelektual AS.

Bisnis asing telah lama mengeluh bahwa mereka harus melakukan kompromi terhadap transfer teknologi dengan imbalan akses pasar ke Cina, dan bahwa mereka tidak memiliki peluang investasi di Cina yang dimiliki oleh perusahaan Cina dipasar luar negeri.

Jadi masalahnya kini, siapakah ‘maling teriak maling’, atau siapa yang merasa “dikadalin” oleh praktik transfer teknologi dan dagang yang dirasakan tidak fair. (Hsg)




Loading Facebook Comments ...