Search

Diduga Sebarkan Berita Bohong di Majalah Indonesia Teatler, Adams Diperiksa Polisi

Adams saat di Ditkrimsus Polda Metro Jaya. (foto:istimewa)
Adams saat di Ditkrimsus Polda Metro Jaya. (foto:istimewa)

Jakarta,reportasenews.com  – Adams Selamat Adi Kuasa Hardiyanto, Selasa (20/03) diperiksa penyidik Ditkrimsus Polda Metro terkait dugaan penyebaran  berita bohong di Majalah Indonesia Teatler (MIT)  edisi Maret 2017.

Adams membenarkan kalau dirinya baru saja menjalani pemeriksaan terkait laporan Ello Hardiyanto (63). “Ya, baru aja selesai diperiksa,” ujar Adams kepada wartawan, Selasa (20/3/2018).

Saat ditanya lebih jauh terkait kasus yang dijalaninya saat ini Adams berusaha menghindar “Nanti sama pengacara saya saja ya,” ujarnya.

Namun demikian Adams menyatakan tetap membuka ruang mediasi dengan Ello, orang tua kandungnya. “Pintu maaf saya selalu terbuka, untuk lebih jelasnya ke pengacara saya saja, ya,” imbuhnya.

Adams Diperiksa Ditkrimsus Polda Metro Jaya  setelah pada Oktober 2017, Ello Hardiyanto (63) mengadukan Adams ke Polda terkait dugaan penyebaran berita bohong dan menggelapkan asal usul yang dimuat Majalah Indonesia Tatler baik versi cetak maupun online yang diterbitkan PT Mobiliari Stephindo. Majalah itu menyebarkan foto yang menjelaskan sebagai orangtua Adams, padahal orang yang ada di dalam foto itu bukanlah Ello Hardiyanto, orangtua kandung Adams.

Sebelumnya, beberapa petinggi Majalah Indonesia Tatler telah diperiksa oleh penyidik. Diantaranya Maina Harjani (Managing Editor), Paulina Nani (pimpinan produksi) dan Oktaviana Subarjo (Sekretaris Redaksi) termasuk, Millie Stephani (pimpinan dan sekaligus pemilik PT Mobiliari Stephindo) juga telah diperiksa.

Dalam keterangannya kepada polisi Ello menjelaskan bahwa Majalah Indonesia Tatler edisi Maret 2017 versi cetak dan versi online, mempublikasikan foto resepsi perkawinan Adams Selamat Adi Kuasa Hardiyanto dengan Clarissa Puteri Wardhana.

Menurutnya, resepsi berlangsung 15 Januari 2017 di Hotel Mulia, Jakarta Pusat. Majalah Indonesia Tatler edisi Maret 2017 versi cetak maupun online memberitakan resepsi itu dan memajang sejumlah foto disertai teks dalam bahasa Inggris yang intinya berbunyi “kedua mempelai bersama orangtuanya masing-masing”. Foto itu menggambarkan enam sosok. Berdiri di tengah adalah Adams dan Clarissa Puteri Wardhana (mempelai), paling kiri Yansen Dicky Suseno dan Inge Rubiati Wardhana (orangtua Clarissa), dan sosok yang bertindak seolah-olah sebagai orangtua Adams berdiri pada posisi paling kanan.

Foto mempelai Adams bersama ‘orangtuanya’ di Majalah Indonesia Tatler itu membuat banyak pihak bertanya-tanya kepada Ello Hardiyanto dan istrinya Gina. Akibatnya, awal Mei 2017 Ello menghubungi Redaksi Indonesia Tatler. Ia menyampaikan koreksi dan minta hak jawab sebagaimana dijamin UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Maina A. Harjani, Redaktur Pelaksana Majalah Indonesia Tatler, awal Mei 2017 mengakui kesalahan redaksi Majalah Indonesia Tatler dan menjanjikan kepada Ello koreksi (ralat) atas berita foto itu dalam edisi berikutnya. Ternyata Maina ingkar janji dan Redaksi Majalah Indonesia Tatler tidak memenuhi janji publikasi ralat itu. Akibatnya, akhir Juli 2017 Ello mengadu kepada Dewan Pers.

Belakangan Sekretaris Redaksi Majalah Indonesia Tatler memberitahu kepada Ello bahwa pihaknya memang tidak memenuhi permintaan hak jawab Ello. Hal itu disebabkan Adams melarang redaksi mengoreksi pemberitaan dalam edisi Maret 2017. Sikap Adams dituangkan dalam imel yang dikirimkan kepada Redaksi Majalah Indonesia Tatler Mei 2017. Adams menyatakan dirinya bertanggungjawab atas pemberitaan itu.

Selain menulis imel tersebut, akhir Mei 2017 Adams yang sebenarnya anak kandung Ello dan Gina Kalalo, mengiklankan pemutusan hubungan keluarga dengan orangtuanya melalui dua suratkabar. Sebetulnya Adams dijadwalkan diperiksa awal Maret 2018, namun baru hadir Selasa kemarin.

Penasihat hukum yang mendampingi Adams meminta agar pemeriksaan dilakukan pada akhir pekan. Akan tetapi permintaan tersebut ditolak oleh penyidik. Selain itu, penasihat hukum Adams minta agar pemeriksaan kliennya itu dilakukan di luar Polda Metro Jaya. Permintaan tersebut juga ditolak oleh penyidik.

Albert Kuhon yang mendampingi Ello selaku pelapor menduga Redaksi Majalah Indonesia Tatler bersekongkol dengan pihak-pihak yang ada dalam foto itu, maupun pihak-pihak yang menyuruh peliputan. “Mereka patut diduga melakukan pidana secara bersama-sama atau penyertaan (delneming) penyebaran berita bohong atau pencemaran nama baik,” kata Kuhon dalam percakapan beberapa waktu silam.

Ditambahkan Kuhon, pengelola Majalah Indonesia Tatler versi online dapat diduga melanggar pasal 28 Ayat (1) jo. Pasal 45A  Ayat (1) Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sebagaimana telah diubah oleh Undang-undang No. 19 tahun 2016. “Pasal itu menyatakan pihak yang menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik diancam pidana penjara enam tahun dandenda Rp 1 miliar,” ujarnya.

Menurut Kuhon, jika terbukti bukan perusahaan pers, pimpinan PT Mobiliari Stephindo yang menerbitkan Majalah Indonesia Tatler maupun pihak redaksinya juga melanggar Pasal 27 Ayat (3) jo. Pasal 45 Ayat (3) UU ITE. “Pihak yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan informasi atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan atau pencemaran nama baik diancam pidana penjara 4 tahun dan denda Rp 750 juta,” tutur Kuhon. (*)




Loading Facebook Comments ...