Search

Dihadiri Ribuan Massa, Enam Terdakwa Pembakaran Hutan Divonis Bebas PN Sintang

Enam peladang saat divonis bebas. (foto:das)
Enam peladang saat divonis bebas. (foto:das)

Sintang, reportasenews.com – Enam peladang atau petani tradisional yang terjerat kasus kebakaran hutan dan lahan pada 2019 lalu, akhirnya  di vonis bebas dari Majelis hakim Pengadilan Negeri kelas II Sintang, Senin (9/3) pukul 11.45 WIB. Vonis bebas ini dihadiri ribuan massa pro peladang memadati luar gedung Pengadilan Negeri Sintang. Mengingat massa yag berjumlah ribuan, Bupati sintang melalui Kepala  Dinas Pendidikan setempat meliburkan seluruh aktivitas sekolah hari ini, dan aktivitas belajar mengajar kembali mulai bersekolah seperti biasa  Selasa (10/3) besok.

Situasi kota Sintang sejak pagi terlihat lengang. Beberapa ruas jalan di blokir petugas terutama di jalur utama ke arah Gedung Pengadilan Negeri Sintang.

Ini untuk mengalihkan massa agar tak berpencar ke beberapa ruas jalan yang dapat menganggu aktivitas warga lainnya. Ribuan massa pro peladang atau petani berpindah ini telah hadir sejak pagi. Jumlah massa kian bertambah banyak dan datang dari berbagai daerah di kabupaten Sintang dan beberapa kabupaten lainnya, menjelang sidang pembacaan vonis oleh Majelis Hakim Pengadilan Sintang.

Keenam terdakwa yang merupakan peladang atau petani tradisional berpindah ini adalah Magan, Agustinus, Antonius sujito,  Dugles, Boanergis dan Dedi Kurniawan.

 Polda Kalbar menurukan 3 ribu personil gabungan untuk mengamkan jalannya sidang. (foto:das)


Polda Kalbar menurukan 3 ribu personil gabungan untuk mengamkan jalannya sidang. (foto:das)

Keenam peladang ini dijerat Undang undang tentang nomor 23 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang – undang Nomor 39 tahun 2014 tentang Perkebunan, dan Kitab Undang Hukum Pidana pasal 187 dan pasal 188.

Keenamnya didakwa Jaksa Penuntut Umum, Adhi Rahmanto karena  membuka lahan dengan cara membakar pada kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2019 lalu.

Sidang vonis ini selalu dihadiri keenam terdakwa dan kuasa hukumnya, Andel cs, dan merupakan rangkaian sidang ke lima belas.

Menghadapi sidang vonis keenam peladang, Polres Sintang menambah pengamanan. Pengamanan kepolisian gabungan TNI  ini  diperketat.

Sebanyak 3.000 personil diterjunkan termasuk mengerahkan kendaraan taktis. Agar tak menimbulkan gesekan pendukung dengan aparat keamanan, aparat keamanan tidak membawa senjata apapun selain pengeras suara. Selain itu,  situasi kota Sintang saat pembacaan vonis berlangsung tegang.

“Aparat keamanan tugasnya mengawal dan mengamankan, semoga massa tidak terprovokasi oleh pihak yang ingin mengacaukan situasi ini. Kita turunkan maksimal, tidak ada maksud lain, agar suasana ini kondusif. Jumlah yang diturunkan 3.000 personil, sesuai standar operasional kita terapkan, semua petugas pengamanan tidak membawa senjata dan peluru tajam,” kata  Wakapolda Kalimantan Barat, Brigjen Pol Imam Sugianto.

Sidang dengan pembacaan vonis bebas ini disambut sukacita keenam terdakwa dan kuasa hukumnya. Jaksa penuntut umum pun sepakat menerima putusan bebas oleh majelis hakim yang dipimpin Hendro Wicaksono dan anggotanya Bedi Suroyo, dan Adul Rasid.

 Massa mulai berdatangan untuk menghadiri sidang. (foto:das)


Massa mulai berdatangan untuk menghadiri sidang. (foto:das)

Vonis bebas ini pun meredakan situasi di luar pengadilan yang dipadati ribuan massa pro peladang,  keenam peladang dan kuasa hukumnya pun menemui massa dan meminta massa membubarkan diri. Aksi pro peladang ini sempat membuat arus lalu lintas jalur timur Kalimantan Barat macet total. Arus lalu lintas mulai terurai setelah massa membubarkan diri.

 “Saya sangat senang dan terharu, kami merasa tidak ada kesalahan, kami wajib bebas murni. Kami hanya berladang kebun karet. Selama ini saya sangat sulit, kami harus mencari ongkos menghadiri sidang dari kampung ke pegadilan negeri Sintang sekitar 4 jam. Saya keluar biaya sendiri,” kata peladang asal ketungau,  Dedi Kurniawan tengah, Sintang

 “ Hari ini keadilan telah tampak di Pengadilan Sintang, tentunya putusan peladang ini adalah kabar gembira bagi peladang dan terdakwa, tapi juga kabar gembira bagi seluruh peladang. Karena peladang adalah kearifan lokal, karena peladang ini wujud dukungan peladang kepada pemerintah untuk kedaulatan pangan. Ini kabar gembira bagi bangsa dan negara,” pengacara  Glorio Sanen.

Kasus kebakaran lahan dan hutan yang menjerat peladang atau petani tradisional dengan berpindah,  tidak hanya terjadi di Kabupaten Sintang.  Di kabupaten Kapuas Hulu,  dua peladang divonis bersalah dengan hukuman lima bulan penjara.

Sementara di Kabupaten Mempawah, dari 12 kasus Karhutla, 10 peladang atau petani tradisional diantaranya tengah  menghadapi hukuman dengan dakwaan sebagai pembakar lahan. Begitu juga di Kabupaten Sanggau,  tiga petani juga menghadapi tuntutan hukum dengan dakwaan sebagai pembakar lahan. Sejauh ini belum ada satupun kasus karhutla 2019 yang menjerat koorporasi atau perusahaan. (das)




Loading Facebook Comments ...