Search

Distrikan, Ritual Larung Sesaji Khas Warga Danau Grati Pasuruan

Bupati Irsyad Yusuf menegaskan bahwa Distrikan adalah tradisi masyarakat Grati yang harus dipertahankan sampai kapanpun. (foto: abd)
Bupati Irsyad Yusuf menegaskan bahwa Distrikan adalah tradisi masyarakat Grati yang harus dipertahankan sampai kapanpun. (foto: abd)

PASURUAN, REPORTASE – Ratusan warga yang berada di sekitar Danau Ranu Grati, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur setiap setahun sekali menggelar ritual sebagai wujud rasa syukur mereka atas limpahan berkah yang diberikan oleh sang Pencipta pada mereka.

Seperti yang terlihat pada Minggu (4/12), dimana ratusan nelayan di sekitar danau tersebut tumpah ruah mengikuti jalannya ritual yang cukup menarik di era modern saat ini. Tak hanya para nelayan, acara tersebut juga dihadiri Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Abdul Munif, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Trijono Isdijanto serta Muspika Kecamatan Grati.

Ketua Panitia Larung Sesaji, Yuslimu Zaenal menyampaikan bahwa, kegiatan tradisi larung sesaji lebih dikenal dengan istilah Distrikan. Kegiatan itu merupakan potensi wisata yang harus dilestarikan, lantaran merupakan tradisi budaya lokal yang sudah turun temurun, khususnya untuk menghormati kepercayaan para leluhur Ranu Grati, akan penunggu danau yang dikenal sebagai Baru Klinting, sesosok dewa yang berwujud ular besar.

“Sekalipun kebanyakan dari kami adalah muslim, tapi kami tetap melaksanakan ritual yang sama dengan pendahulu-pendahulu kita. Karena mereka telah memberikan kontribusi yang banyak untuk keberlangsungan Ranu Grati. Kami juga mengetahui legenda tentang Baru Klinting atau sang penjaga danau ranu, di mana jika setiap malam syuro pasti ada salah satu warga yang melihat penampakan seperti ular besar di tengah-tengah ranu, “bebernya.

Selain untuk meneruskan kepercayaan para nenek moyang sekitar Ranu Grati, tradisi distrikan juga dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan memohon keselamatan saat bekerja. Upacara Distrikan diibaratkan sebagai ungkapan permohonan warga nelayan keramba ikan tawar yang berdekatan dengan danau kepada sang pencipta agar melimpahkan rezeki dan menjauhkan dari marabahaya saat mencari ikan.

“Kita terus berusaha untuk menjaga budaya ini, sekalipun zaman sudah masuk era globalisasi, tapi kita harus tetap mempertahankan unsur keaslian budaya lokal yang ada di desa kami. Sehingga dengan gelaran ini, juga sebagai wujud rasa bersyukur warga desa. Karena dengan turunnya rezeki yang didapatkan warga disini. Semuanya karena atas anugerah yang diberikan oleh sang Maha Pencipta, “katanya.

Dari pantauan di lapangan, ritual Larung Sesaji sendiri diawali dengan tradisi do’a bersama yang langsung dipimpin oleh pemuka agama setempat, serta diikuti oleh para nelayan dan warga yang menyaksikannya sejak pagi sebelum ritual desa itu dilaksanakan secara beramai-ramai. Tak lupa, pakaian yang dikenakan oleh para nelayan pun tak sama dengan ketika mereka beraktifitas di sekitar Ranu Grati.

Kebanyakan para nelayan, lanjut Yuslimu sengaja menyimpan pakaian adat yang dipakai pada tahun-tahun sebelumnya. Sebab dirasa masih bagus dan layak untuk dikenakan dalam momen larung sesaji di Ranu Grati. Dalam do’anya, mereka berharap dengan dilarungnya sesaji yang telah disediakan, seyogyanya kesejahteraan akan datang kepada warga yang menggantungkan hidupnya dari Danau Ranu Klindungan tersebut.

“Barulah, setelah doa berakhir, sesajen yang terdiri dari berbagai macam makanan berupa nasi tumpeng warna putih, kuning, hijau dan hitam, maupun ayam dan bebek yang masih hidup, kemudian diarak bersama-sama oleh warga yang mengenakan pakaian tradisional khas jawa, untuk selanjutnya menuju tengah danau ranu. Dimama sesaji itu dipersembahkan untuk penunggu danau ranu ini, “pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Irsyad Yusuf menegaskan bahwa distrikan adalah tradisi masyarakat Grati yang harus dipertahankan sampai kapanpun. Irsyad juga mengapresiasi yang dilakukan warga desa di sekitar Danau Ranu itu, untuk menggelar hajatan desa sebagai ungkapan rasa terima kasihnya kepada sang pencipta. Sehingga ritual itu dijadikan tradisi warga desa, hingga turun temurun selama bertahun-tahun.

“Lurung sesaji merupakan salah satu ikon Kecamatan Grati adalah Ranu Grati, dimana ada satu tradisi yang dinamakan Distrikan. Saya minta kepada semua masyarakat di sekitar untuk senantiasa menjaga tradisi ini sampai kapanpun. Pemerintah daerah akan mendorong dalam hal sarana prasarana di dalam tempat wisata Ranu Grati, serta upaya untuk menarik wisatawan agar datang ke sini, “jelas Irsyad, sebelum melarung sesaji bersama warga setempat. (abd)

 




Loading Facebook Comments ...