Search

Dua Penumpang Citilink dari Surabaya Reaktif Covid 19, Gubernur Minta Maskapai Tidak Terbang dari Surabaya ke Pontianak

Dua penumpang pesawat yang baru tiba di Bandara Internasional Supadio terkonfirmasi reaktif Covid 19 berdasarkan hasil rapid test. (foto:das)
Dua penumpang pesawat yang baru tiba di Bandara Internasional Supadio terkonfirmasi reaktif Covid 19 berdasarkan hasil rapid test. (foto:das)

 

Pontianak, reportasenews.com – Gubernur Kalimantan Barat, H. Sutarmidji kembali membuat pernyataan tegas terkait kembali ditemukannya dua penumpang pesawat yang baru tiba di Bandara Internasional Supadio terkonfirmasi reaktif Covid 19 berdasarkan hasil rapid test. Rapid test sendiri di gelar acak terhadap penumpang pesawat dari Surabaya tujuan Pontianak, Sabtu (1/8/2020).

“Sebagai sanksinya maskapai tersebut tidak boleh terbang dari Surabaya ke Pontianak selama satu minggu dan jika setelah satu minggu mereka masih didapati ada penumpang reaktif, saya akan larang selama tiga bulan,” tegasnya.
Larangan ini berlaku bagi semua maskapai dan berharap maskapai tidak menjadi media untuk memindahkan orang yang terpapar virus dari daerah episentrum Covid 19 ke daerah Kalimantan Barat.
“Maskapai jangan mengira kita tidak kontrol, saya akan perketat semua orang yang masuk ke Kalbar,” selorohnya.
Sementara kepala Dinas Kesehatan Provinis Kalimantan Barat, dr. Harisson mengatakan, pemeriksaan hasil rapid test yang datang di Bandara Internasional Supadio sebagai upaya pencegahan dan penularan Covid 19.
Pemeriksaan hasil laboratorium Rapid Diagnostic Test (RDT) Covid 19 penumpang pesawat Citilink QG 420 jurusan Surabaya – Pontianak yang diperiksa pada tanggal 1 Agustus 2020.
“Kita melakukan rapid test secara acak terhadap 21 orang penumpang Citilink dari Surabaya ke Pontianak. Dari 21 orang ini, 2 orang penumpang dinyatakan reaktif, dimana dua orang ini, satu orang warga Kubu Raya, dan satu orang dari warga Jombang, Jawa Timur dengan tujuan mencari pekerjaan di Pontianak dan yang dari Jombang ini menetap di rumah rekannya di Pontianak,” jelas Harisson.
Terhadap dua orang ini, Harisson menjelaskan, sudah dilakukan pengambilan swab dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan RT-PCR untuk memastikan apakah dua penumpang ini positif Covid 19 atau tidak.
Dengan ditemukan dua orang reaktif ini, berdasarkan surat Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Barat yang beredar tertulis di point dua, berdasarkan arahan Gubernur Kalimantan Barat sambil menunggu hasil test PCR dan sebagai bentuk pertanggungjawaban airlines maka diminta perhatian untuk menutup sementara operasional angkutan penumpang Citilink dari Surabaya selama tujuh hari terhitung mulai tanggal 2 Agustus 2020.
Selanjutnya pada point tiga, untuk kegiatan rapid test akan terus diintensifkan pada penumpang Bandara dan Pelabuhan yang akan masuk ke Kalimantan Barat, terutama dari daerah daerah zona merah. Setiap maskapai penerbangan yang kedapatan membawa masuk penumpang dari luar Kalimantan Barat dalam kondisi reaktif Covid 19 berdasarkan hasil rapid test di terminal Kedatangan Bandara Supadio akan diberikan sanksi yang sama, yaitu penutupan sementara rute penerbangan dari airlines tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Barat, Manto Saidi mengatakan, belum bisa menjelaskan hari ini dan baru Senin (3/8/2020) bisa.
“Maaf belum bisa memberikan penjelasan, karena besok baru bisa kami finalkan secara konkrit setelah mendengar arahan Kemenhub,” ujarnya.
“Surat ini baru memformalkan arahan Gubernur. Substansi sama. Besok baru bisa diformalkan ke Gubernur,” tambahnya.
Ditambahkan Harisson, setiap pelaku perjalanan itu, harus menjalani rapid test terlebih dahulu sebelum menuju ke daerah tujuan dengan syarat hasilnya harus non reaktif.
“Yang jadi masalah kan kita tidak terlalu percaya sehingga kita lakukan rapid test sekali lagi di Bandara, dan tidak semua penumpang kita rapid karena kita lakukan secara acak saja, sekalian untuk membuktikan bahwa apakah pelaku perjalanan itu benar benar melakukan rapid test di daerah asalnya. Jadi kita pakai metode acak saja, dari 21 orang kita ambil sebagai sampel. Dan ternyata dari 21 orang itu, ada 2 orang yang reaktif,” ungkapnya.
Dijelaskan Harisson, wilayah Kalimantan Barat sudah cenderung untuk pertumbuhan kasus Covid 19 sudah menurun sekali, sehingga posisi ini harus ketat di jaga.
“Yang kita kuatirkan itu justru pendatang yang membawa penyakitnya, seperti kita ketahui di Jawa dan Jakarta kan banyak sekali kasusnya dan terus meningkat. Jika mereka datang kesini, dan kita tidak benar benar ketat mengawasi mereka dan mereka akan membawa Covid 19 ke Kalimantan Barat. Ini yang menyebabkan kasus Covid 19 di Kalimantan Barat naik lagi,” tegasnya.
Jadi untuk menjaga supaya kasus Covid 19 di Kalimantan Barat tidak meningkat dan menjadi zona hijau atau yang kuning menjadi hijau, maka starteginya adalah terus melakukan razia razia masker dan swab kepada kelompok tertentu untuk tahu secara dini dimana saja kasus Covid 19 dan kalau hasilnya reaktif atau positif dilakukan karatina dan isolasi serta terus mengimbau masyarakat untuk disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan Covid 19 di adaptasi kebiasaan baru fase New normal sekarang ini. (das)



Loading Facebook Comments ...