Search

Dua Dari Tiga Oknum Brimob Dijerat Dengan Alternatif Subsidair

Terdakwa mendapat pengalawan ketat usai mengikuti sidang di PN Depok. (foto:ltf)
Terdakwa mendapat pengalawan ketat usai mengikuti sidang di PN Depok. (foto:ltf)

Depok,reportasenews.com  – Sidang pidana perkara penusukan anggota TNI hingga tewas dan luka parah yang terbagi atas tiga berkas perkara dengan tiga terdakwa dari oknum anggota Brimob digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Rabu (24/10/2018) siang. Dalam sidang yang beragendakan dakwaan, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok Kozar Kertyasa dan AB.Ramadhan menjerat dua dari tiga terdakwa yakni, Bagoes Alamsyah Putra Umasugi dan Iwan Mofu dengan dakwaan alternatif subsidair. Sedangkan satu terdakwa lainnya atas nama Rahmat Setyawan dengan dakwaan alternatif.

Untuk dakwaan alternatif subsidair yang dikenakan terhadap terdakwa Bagoes dan Iwan, Kesatu dengan Pasal 170 Ayat 2 ke-3 KUHP, dan Kedua dengan Pasal 170 Ayat 2 ke-2 KUHP, atau Kedua Kesatu dengan Pasal 351 Ayat 3 KUHP jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP, dan Kedua dengan Pasal 351 Ayat 2 KUHP jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Sementara untuk dakwaan alternatif yang dikenakan terhadap terdakwa Rahmat Setyawan, Kesatu dengan Pasal 170 Ayat 2 ke-2 KUHP, atau kedua dengan Pasal 351 Ayat 2 KUHP jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Seusai dakwaan dibacakan oleh JPU, majelis hakim yang diketuai Ramon Wahyudi dengan anggota Rosana Kesuma Hidayah dan YF Tri Joko GP mengatakan, apakah saksi sudah dipersiapkan hari ini atau belum? Lalu, Kozar maupun Ramadhan menjawab “Sudah majelis. Ada empat saksi yang akan kami hadirkan. Dua dari anggota TNI, satu pegawai dari Biliar Al Diablo, dan satu dari pengujung,” kata kedua JPU dalam jalannya persidangan.

Keempat saksi yang dihadirkan oleh JPU yakni, Lettu KAV Barus (TNI), Serda Nicolaus Boyvianus Kego Moi (TNI), Petrus Hutabarat dan Devi Sri Rahayu. Dalam keterangannya di persidangan saksi Nicolaus mengatakan, sebelum terjadinya penusukan yang mengakibatkan meninggalnya Serda Darma Aji dirinya bersama korban berada di lokasi kejadian. Di lokasi tersebut dirinya bersama korban ditawarkan minuman beralkohol, namun kami sempat menolak lantaran terus dipaksa akhirnya dirinya bersama korban menerima minuman jenis anggur merah.

Setelah itu temannya yang bernama Supriyadi datang dan ditawarkan juga minuman. Lalu dirinya pergi ke toilet, setelah dari toilet diri melihat ada keributan dan dipisahkan. Kemudian Supriyadi pun pulang setelah dirinya damaikan, pas dirinya sedang memesan pesan grab lalu dihampiri oleh salah satu kawan yang bertikai bernama Iwan mengajak dirinya keluar. Sesampainya di luar ada seorang yang menyerang dan terjadilah perkelahian hingga tak terkontrol. Hingga akhirnya dia bersama korban terjatuh dan terkena tusukan benda tajam berupa pisau. “Pelakunya langsung kabur dan kami pun dilarikan ke Rumah Sakit Tugu Ibu,” ujar Nicolaus di sela persidangan.

Sementara itu saksi Petrus Hutabarat yang merupakan karyawan Biliar Al Diablo menuturkan, tempat dirinya bekerja tidak menjajakan minuman keras. Menurutnya minuman yang disajikan hanya sebatas soft drink sehingga tak mengerti bila penusukan yang menewaskan Serda Darma Aji diakibatkan dari masalah minuman keras. “Enggak jual minuman keras, hanya soft drink. Saya kerja waktu ribut-ribut, tapi saya enggak tahu apa sebabnya. Saya cuman dengar suara ribut-ribut dan lihat CCTV,” kata Petrus. (jan/ltf)




Loading Facebook Comments ...