Search

Empat Anggota KKSB Puncak Jaya Menyerahkan Diri dan Kembali ke Pangkuan NKRI

Empat Anggita KKSB wilayah Puncak Jaya saat menyrahkan diri dan kembali ke pangkuan NKRI  dipimpin  Dandim 1714/PJ Kolonel Inf Agus Sunaryo,di Kampung Wurak Distrik Illu Kabupaten Puncak Jaya,  Sabtu (08/06/2019). (foto:ist)
Empat Anggita KKSB wilayah Puncak Jaya saat menyrahkan diri dan kembali ke pangkuan NKRI dipimpin Dandim 1714/PJ Kolonel Inf Agus Sunaryo,di Kampung Wurak Distrik Illu Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (08/06/2019). (foto:ist)

Jayapura, reportasenews.com – Empat  anggota Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) wilayah Kabupaten Puncak Jaya menyerahkan diri dan berikrar untuk setia kepada NKRI di hadapan anggota Kodim yang dipimpin Dandim 1714/PJ Kolonel Inf Agus Sunaryo,di Kampung Wurak Distrik Illu Kabupaten Puncak Jaya,  Sabtu (08/06/2019).

Keempat anggota KKSB tersebut adalah ajudan Goliat, Telangga Gire (30) salah seorang tokoh utama KKSB Wilayah Puncak Jaya , Piningga Gire 25), Tekiles Tabuni (30) dan Parengga (27). Mereka merasa dibohongi oleh pimpinannya dengan iming iming jabatan tinggi jika berhasil memerdekan dir dan terpisah dari NKRI.

Selain menyerahkan diri dan kembali kepada NKRI, mereka juga menyerahkan satu pucuk senjata api jenis Mosser dan sejumlah amunisi cal. 7,62. . Senjata tersebut dirampas dari anggota polisi yang saat penyerang Polsek Karubaga Kabupaten Tolikara tahun 2013 lalu.

Menurut Telangga dirinya bersama beberapa orang rekannya sudah lama ingin menyerahkan diri namun tidak tahu bagaiman caranya karena takut ditembak oleh TNI/Polri.

Sebelum penyerahkan diri Telangga bersama rekan rekannya berkenalan dengan anggota Kodim 1714/PJ, Sertu Jefri May sehingga terjalin komunikasi secara intens baik via telpon maupun dengan mengadakan pertemuan secara langsung. Selama masa perkenalan dan proses komunikasi Sertu Jefri selalu melaporkan perkembangannya kepada Dandim Letkol Inf Agus Sunaryo untuk mendapatkan petunjuk. Agus menyampaikan pesan bahwa TNI menjamin keselamatan mereka bila ingin menyerahkan diri secara sukarela. Kita semua bersaudara, mari bersama-sama membangun Papua untuk masa depan generasi kita yang lebih baik, Papua sudah merdeka dalam bingkai NKRI, pesan Dandim.

Pada Kamis Tgl 6 Juni  2019 Pkl 17.00 WIT 4 orang anggota Kodim dipimpin Sertu Jefri May melaksanakan pertemuan dengan Telangga di Distrik Tingginambut, mereka menyatakan tekadnya untuk menyerahkan diri kembali kepangkuan NKRI. Hari itu juga mereka diantar ke Makodim untuk menghadap Dandim di Distrik Mulia Puncak Jaya. Pada sekitar pukul 23.00 WIT Letkol Agus berkoordinasi dengan Bupat Puncak Jaya Bapak Yuni Wonda S. Sos, SIP, MM tentang keinginan anggota KKSB kembali ke Pangkuan NKRI. Bupati menyanggupi akan memberikan mereka pekerjaan dan memperbaiki rumahnya.

Anggota KKSB wilayah puncak jaya bersama anggota TNI usai menyerahkan diri dan kembali ke pangkuan NKRI. (foto:ist)

Anggota KKSB wilayah puncak jaya bersama anggota TNI usai menyerahkan diri dan kembali ke pangkuan NKRI. (foto:ist)

Hasil pertemuan dengan Dandim, Telangga Gire mengaku bahwa senjatanya disimpan di  Kampung Wurak Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya dan berjanji akan menyerahkan senjata tersebut dan akan mengajak tiga orang kawannya.

Pada hari yang telah disepakati pada 08/06/2019, Dandim beserta 25 orang tim pengaman berangkat ke Kampung Wurak untuk menjemput Telangga Gire dkk beserta senjata yang dijanjikan.

Proses penyerahan diri berlangsung aman dan lancar. Saat ini Telangga Gire dkk beserta senjatanya sudah berada di Makodim dalam rangka pendataan. Sementara itu Bupati Puja berencana akan melaksanakan upacara penerimaan warga pada hari Selasa 11/06/2019 dengan mengundang warga Mulia, Puncak Jaya. Bupati juga berjanji akan menyalurkan pekerjaan serta membangun rumah untuk anggota KKSB yang bersedia menyerahkan diri kembali ke pangkuan NKRI.

Menurut Telangga, selama ini mereka merasa tertipu oleh Goliat Tabuni dan kelompoknya bahwa tidak lama lagi Papua akan merdeka dan mereka akan dijanjikan jabatan tinggi. Ternyata semuanya itu tipu-tipu saja. Kami bertahun-tahun hidup menderita di hutan, kepanasan, kedinginan, kehujanan, kelaparan dan lain-lain. Tiap hari hanya makan petatas dan keladi ambil dari kebun warga, sementara pembangunan di kampung-kampung dan di kota-kota semakin maju dan warga hidup sejahtera. Tutur Telangga penuh penyesalan.

“Kami juga memikirkan anak-anak kami, mereka harus sekolah agar nanti hidupnya lebih baik tidak seperti Saya. Kami mau kerja yang baik-baik agar anak-anak diurus menjadi orang yang berhasil,” kata Telangga yang mengaku punya anak 13 orang dari empat orang istri dan semuanya masih kecil-kecil.

Telangga juga menghimbau kepada seluruh rekan-rekannya yang masih di hutan agar segera kembali ke pangkuan NKRI agar bisa hidup normal sebagai masyarakat warga Negara Indonesia. Bahwa apa yang kita perjuangkan selama ini hanya mimpi-mimpi kosong. Kasihan anak keturunan kita. Mereka harus kita siapkan agar mereka bisa hidup lebih baik di masa yang akan datang, himbau Telangga. (*)




Loading Facebook Comments ...