Search

Empat Kawanan Pengedar Uang Palsu Diringkus Polda Kalbar

Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Didi Haryono menunjukan barang bukti uang palsu yang berhasil disita dari para tersangka. (foto:das)
Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Didi Haryono menunjukan barang bukti uang palsu yang berhasil disita dari para tersangka. (foto:das)
Pontianak,reportasenews.com –  Empat tersangka pencetak dan pengedar uang palsu pecahan 100 ribu rupiah dan 50 puluh ribu rupiah, berhasil di ringkus Polres Mempawah.
Hasil pengakuan para tersangka, uang palsu cetakan mereka ini telah beredar di wilayah Mempawah, Kubu Raya dan Pontianak, dan telah dicetak mencapai 200 juta rupiah menggunakan mesin printer.
Bahkan uang palsu ini juga hendak dijual kepada salah satu kandidat calon legislatif di pemilu serentak 2019 ini.
Polisi berhasil meringkus para tersangka di tempat berbeda, setelah pedagang di Pasar Anjungan, Kabupaten Mempawah, melaporkan peredaran uang palsu ini.
Saat ini polisi telah menetapkan empat pelaku selaku pencetak uang palsu dan pengedarnya, masing-masing berinisial MN, HA, SJ, dan SW yang masih memiliki ikatan keluarga.
Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, masyarakat diminta lebih waspada dan jeli saat bertransaksi secara tunai, meski sekarang lebih aman dianjurkan bertransaksi non tunai.
Kapolda berpesan sesuai anjuran Bank Indonesia agar masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu dengan menerapkan cara 3D (dilihat, diraba, dan diterawang).
“Peredaran uang palsu ini masuk kejahatan extraordinary crime, dimana penanganannya harus penyidikannya harus cepat. Karena terkait mata uang ini merupakan kedaulatan negara kita,” tegas Didi, Senin ( 11/ 02/ 2019) dalam press conference yang di gelar di Mapolda Kalbar.
Didi mengatakan, peredaran uang palsu ini masih terus dikembangkan karena ada rencana para pelaku ini akan menjual uang palsu cetakannya ke salah satu calon anggota legislatif.
“Memang ada rencana pelaku ingin menjual uang palsu ini kepada calon anggota legislatif, tapi baru akan ditawarkan. Kecil kemungkinan, karena kaum calon legislatif ini orang-orang intelektual. Kalau itu sampai terjadi, akan memalukan sekali,” ungkap Didi.
Didi berharap peredaran uang palsu ini tidak melibatkan calon anggota legislatif, karena para anggota legislatif adalah representasi dari rakyatnya.
Kejahatan peredaran uang palsu ini diancam dengan hukuman penjara 15 tahun dan denda maksimal Rp 50 miliar dengan pasal yang menjeratnya adalah pasal 36 Undang-undang RI Nomor 7 tahun 2011.
Uang palsu pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu ini dibuat di rumah SW di kawasan Pontianak Utara, kemudian disebarkannya melalui kerabatnya di Mempawah dan Kubu Raya.
Pencetakan uang palsu dilakukan mulai Januari 2019 karena masuknya tahun politik sehingga menjadi alasannya mencetak uang palsu yang dipelajarinya dari media sosial.
Dalam sehari, SW bisa menjual uang palsu cetakannya dengan mendapatkan uang asli mencapai mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.
Pengungkapan peredaran uang palsu ini oleh Polres Mempawah karena ada pedagang di pasar tradisional yang melaporkan kejadian ini.
Saat itu MN, salahsatu tersangka membelanjakan ratusan ribu uang palsu untuk membeli seikat petai, sandal jepit, dan caping. Karena pedagang, merasa telah tertipu dan rugi, kasus ini dilaporkan ke Polsek Anjongan. (das)



Loading Facebook Comments ...