Search

Gashuku Karate Inkanas Kawah Chandradimuka Karateka Berkualitas

Peserta ujian melaksanakan dengan semangat pada Gashuku dan Ujian DAN Nasional di Batalyon Infanteri Para Raider 328/ Dirgahayu, Cilodong, Depok, Jawa Barat, 28 April – 1 Mei 2018‬.
Peserta ujian melaksanakan dengan semangat pada Gashuku dan Ujian DAN Nasional di Batalyon Infanteri Para Raider 328/ Dirgahayu, Cilodong, Depok, Jawa Barat, 28 April – 1 Mei 2018‬.

Depok, reportasenews.com—Perguruan karate Inkanas (Institut Karate-do Nasional) menyelenggarakan Gashuku dan Ujian DAN Nasional di Batalyon Infanteri Para Raider 328/ Dirgahayu, Cilodong, Depok, Jawa Barat, 28 April – 1 Mei 2018.

Ujian DAN tingkat nasional ini berlangsung dengan semarak teriakan Osh! Khas para karateka ketika bersiap di atas tatami, menunjukkan ketangguhan mental menjadi penting mendampingi kekuatan fisik dan kematangan teknik yang dilatih selama tiga hari dengan berat.

Ketua Dewan Guru Inkanas Ellong Tjandra menyebutkan Gashuku ini diikuti sebanyak 467 Karate-ka INKANAS dari 21 Provinsi.

“Kami ingin Inkanas menjadi perguruan yang dikenal karena menghasilkan karateka yang berkualitas, bukan hanya teknik dan fisiknya namun juga mentalnya. Selain itu, juga menghasilkan atlet karateka yang berprestasi di tingkat internasional. Inkanas emas menjadi tujuan dari gashuku ini, “ ujar Ellong Tjandra.

Ketua Dewan Guru Inkanas Ellong Tjandra

Ketua Dewan Guru Inkanas Ellong Tjandra

Dalam acara akbar ini, PB INKANAS mengerahkan 17 anggota Dewan Guru dan 18 anggota Majelis Tinggi Dewan Guru yang akan bertugas menguji peserta yang mengambil ujian DAN I: 303 Karateka; DAN II: 77 Karateka; DAN III: 34 Karateka; DAN IV: 30 Karateka dan DAN V: 23.

Gashuku

Gashuku yang dalam bahasa Jepang berarti belajar dan menginap. Peserta diharapkan dapat mengembangkan sifat kejujuran (Gi), keberanian (Yuu) dan sopan santun (Rei), sehingga kemudian akan lahir para karateka yang positif (Seishin) dan memiliki semangat tinggi (Seiki).

Dalam dunia karate, Gashuku dimaknai sebagai latihan bersama untuk memperbaiki dan menyamakan gerakan serta menyeragamkan tehnik. Selama Gashuku, para karateka dituntut mandiri dan percaya diri.

gashuku Jion

Tiga hari di bawah terik matahari, gemblengan fisik melelahkan dengan cucuran keringat yang tiada henti, menjadikan karateka bersikap keras hati, tidak mudah menyerah dan lamban. Bagi karateka senior dengan faktor umur yang terus berjalan, juga membuat mereka menampilkan semangat yang tinggi.

Melia Premati (56), wanita lebih setengah abad yang pertama kali mengikuti gashuku ini tidak menyangka mampu melewati gemblengan fisik yang melelahkan itu.

“Saya awalnya ragu-ragu apakah sanggup mengikuti gashuku, karena otot kaki kurang lentur diajak berlari dan menendang. Namun ketika menyadari ada peserta gashuku yang lebih tua dari saya juga banyak, saya jadi semangat. Saya mau tunjukkan kepada anak-anak muda, bahwa umur tak menghalangi memilih olahraga karateka,” tutur Melia, yang baru menekuni karate di usia 53 tahun.

Melia Premati (56), tengah diapit Dewan Guru Inkanas Djafar Djantang dan Tono Soed, wanita lebih setengah abad yang pertama kali mengikuti gashuku ini tidak menyangka mampu melewati gemblengan fisik yang melelahkan itu.

Melia Premati (56), tengah diapit Dewan Guru Inkanas Djafar Djantang dan Tono Soed, wanita lebih setengah abad yang pertama kali mengikuti gashuku ini tidak menyangka mampu melewati gemblengan fisik yang melelahkan itu.

Ujian DAN

Ruang ujian di Aula AFU Suryana di Markas Yonif Para Raider 328/Dirgahayu, menjadi saksi betapa semangatnya para kateka mengikuti ujian kenaikan tingkat sabut hitam ini. Menemukan karateka mengenakan dogi (pakaian karate putih bersih) namun berjalan pincang ke arena ujian, tidaklah sulit.

Karateka yang merasakan otot kaki yang kram atau terkilir, tidak patah semangat.

Tiga materi ujian Kihon (gerakan dasar), Kumite (pertarungan) dan Kata (keindahan jurus), dilahap oleh 420 peserta ujian satu per satu.

Bermandi peluh, merasakan kehabisan nafas di tengah teriakan para penguji yang bermata elang menemukan kesalahan-kesalahan dasar, memompa adrenalin sampai titik tertinggi.

Ruang ujian di Aula AFU Suryana di Markas Yonif Para Raider 328/Dirgahayu, menjadi saksi betapa semangatnya para kateka mengikuti ujian kenaikan tingkat sabut hitam ini.

Ruang ujian di Aula AFU Suryana di Markas Yonif Para Raider 328/Dirgahayu, menjadi saksi betapa semangatnya para kateka mengikuti ujian kenaikan tingkat sabut hitam ini.

“Ujian DAN itu ibarat puncak kematangan karateka, lebih baik kehabisan tenaga dan terkapar di atas matras ujian ketimbang menyimpan tenaga menyembunyikan daya tempur,” tutur Tono Soed, Wakil Ketua Dewan Guru Inkanas yang mengasi jalannya ujian ini dengan seksama.

Tidak boleh ada keraguan ketika mengikuti ujian DAN karate, sebab hidup hanya sekali berikan yang terbaik hingga hayat dikandung badan. (hendrata yudha)

 




Loading Facebook Comments ...