Search

Karena Hutang 1.000 Mobil Volvo, Swedia Bisa Jadi Kunci Sukses Dialog Trump – Kim Jong Un

volvo

Swedia, reportasenews.com – Sepertinya mungkin, negara Nordik Swedia bisa menjadi bidak kunci dalam upaya pertemuan dialog antara Presiden AS Donald Trump dan penguasa Korea Utara Kim Jong-un. Dan semuanya dimulai pada tahun 1970an dan 1.000 mobil Volvo.

Sejak Gedung Putih awal bulan ini mengumumkan bahwa Trump, melalui utusan Korea Selatan, telah menerima sebuah undangan dialog oleh Kim untuk bertemu, masalahnya sekarang adalah pada “apa, kapan dan di mana”.

Pertemuan puncak ini dimaksudkan untuk membahas masa depan program nuklir dan rudal rezim Korut yang ingun dibabat oleh AS.

Negara Swedia – yang memiliki hubungan diplomatik yang telah berlangsung lama dengan Pyongyang dan juga berfungsi sebagai Pelindung Kekuatan bagi orang Amerika yang membutuhkan bantuan konsuler di sana – telah menawarkan jasanya, dan negara Skandinavia kecil itu bisa menjadi kunci sukses pembuka jalan pertemuan Kim and Trump.

“Jika kita dapat menggunakan kontak kita (di Korea Utara) dengan cara terbaik, kita akan melakukannya,” Menteri Luar Negeri Margot Wallström mengatakan pada akhir pekan puncak ini, saat menjadi tuan rumah Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong Ho dihari kunjungan ke ibukota Swedia.

Delegasi Korea Utara juga bertemu dengan Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven yang menyatakan harapannya bahwa negaranya dapat berfungsi sebagai “fasilitator” menjelang bertemu Trump dan Kim yang berpotensi bersejarah.

Dalam wawancara dengan FRANCE 24, Bjorn Jerden, kepala program Asia di Institut Swedia untuk Urusan Internasional, menjelaskan bahwa posisi Swedia sebagai “fasilitator” Pyongyang-Washington telah teruji melalui beberapa dekade yang lalu.

“Hari ini kita memiliki hubungan [diplomatik] yang lebih erat dengan Korea Utara daripada negara-negara Barat lainnya,” katanya.

Sementara Swedia tetap netral selama perang Korea 1950-1953, memastikan untuk menjaga hubungan dengan kedua belah pihak, hubungan diplomatiknya pulih kembali di tahun 1973, ketika negara tersebut menjadi negara Barat pertama yang mengakui Korea Utara sebagai negara merdeka.

Pada tahun 1975, pemerintah Swedia, bersama dengan beberapa perusahaan terbesar Swedia – termasuk produsen mobil Volvo dan kelompok industri Atlas Copco – menyelenggarakan pameran industri besar di Pyongyang, di mana diumumkan bahwa negara tirai besi ini telah membelanjakan sekitar 1 miliar Korut ( € 100 juta) barang buatan Swedia.

Salah satu kesepakatan tersebut mencakup pengiriman 1.000 mobil Volvo – yang banyak di antaranya masih dapat dilihat di jalan-jalan rezim komunis hari ini. Di sela-sela pameran, Swedia juga mengumumkan pembukaan kedutaan Pyongyang, dan menjadi negara Barat pertama yang mendirikan misi diplomatik di sana.

Namun, urusan bisnis Swedia dengan Korea Utara segera memburuk, karena ketidakmampuan Pyongyang untuk membayar hutang pembelian dengan Swedia.

“Masalahnya terkait dengan warga Korea Utara yang tidak terbiasa dengan perdagangan internasional dan peraturan yang berlaku untuk itu. Dalam waktu singkat, mereka telah melakukan pembelian besar di luar negeri,” kata kementerian industri Swedia kepada harian Dagens Nyheter pada 1975.

Bahkan sampai hari ini, Korea Utara masih berhutang Swedia ratusan juta. Namun, hubungan diplomatik tetap utuh.

Pada tahun 2001, hubungan Stockholm-Pyongyang ditegaskan kembali oleh perdana menteri Swedia saat itu, Goran Persson, memimpin sebuah delegasi Uni Eropa ke Korea Utara, menjadi pemimpin Barat pertama yang secara resmi mengunjungi negara tertutup tersebut. Selama kunjungannya, ia bertemu dengan pendahulunya Kim Jong-un, Kim Jong-il.

Netralitas Swedia selama Perang Korea merupakan faktor utama mengapa ia berhasil mempertahankan hubungan diplomatiknya dengan negara sampai hari ini.

“Jika Anda memikirkannya, Perang Korea masih menjadi alasan utama masalah yang kita hadapi saat ini,” katanya, menunjuk pada ambisi senjata nuklir Korea Utara dan kehadiran militer AS yang terus berlanjut di Korea Selatan.

“Untuk Korea Utara, itu adalah ancaman terhadap keberadaannya,” katanya.

Swedia juga memiliki kehadiran militer di Korea Selatan, meskipun dengan cara lain yang tidak terlalu mengancam: segelintir tentara Swedia masih bisa membantu orang di perbatasan Korea sebagai bagian tentara netral. (Hsg)




Loading Facebook Comments ...