Search

Iuran BPJS Naik, Pedagang Jamu di Situbondo Tunda  Melanjutkan Pendidikan Anaknya  

Suasana kantor BPJS Kesehatan Situbondo. (foto:fat)
Suasana kantor BPJS Kesehatan Situbondo. (foto:fat)

Situbondo,reportasenews.com – Kebijakan pemerintah  menaikan tarif iuran  BPJS Kesehatan dan kewajiban membayar tunggakan tanpa adanya potongan. Kebijakan tersebut  menjadi bumerang bagi BPJS sendiri. Terbukti, dari beberapa peserta memilih mengundurkan diri.

Akibat kebijakan tersebut, banyak warga Kabupaten  Situbondo  yang menunggak pembayaran. Bahkan,  salah seorang pedagang jamu di Situbondo  harus mengorbankan masa depan anaknya,  karena memilih membayar iuran BPJS Kesehatan,  dibandingkan  untuk biaya anaknya yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Samsul Arifin, salah seorang pedagang  jamu keliling  asal Kelurahan  Mimbaan, Kecamatan Panji, Situbondo mengatakan, karena iuran BPJS kesehatan naik, sehingga dirinya terpaksa mengorbankan pendidikan anaknya yang akan masuk ke perguruan tinggi.

“Iuran BPJS naik,  kelas III yang biasanya sebesar  Rp.25.500, saat ini  naik menjadi Rp.42.500 setiap bulan, sehingga dengan naiknya iuran BPJS Kesehatan, saya menunda pendidikan anak yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” Samsul Arifin (52), Senin (13/1/2020).

Menurutnya, penghasilan sebagai pedagang jamu keliling di Kota Situbondo itu setiap hari berkisar Rp.30 ribu sampai Rp.40 ribu. Ditambah lagi harga sejumlah bahan pokok ikut naik. Sementara anggota keluarganya yang harus dibayarkan sebanyak empat orang.

“Tinggal mengalikan saja, empat orang dikalikan Rp42.500. Saya sampai mengurungkan niat saya untuk melanjutkan sekolah anak saya ke perguruan tinggi. Padahal anak saya sangat ingin melanjutkan sekolahnya,” ungkap Samsul Arifin.

Hal senada juga diungkapkan  Nurhayati (38), warga Kelurahan Dawuhan, Kecamata Kota, Situbondo, dirinya sangat kaget, karenaa  saat akan membayar iuran BPJS Kesehatan, dan ternyata iuran BPJS kelas III juga  naik menjadi Rp.42.500 per bulan.

“Karena saat hendak membayar tunggakan selama lima bulan, iuran BPJS kesehatan naik menjadi Rp.42.500 perbulan, sehingga saya tidak jadu untuk membayar iuran dan tunggakannya,”kata Nurhayati.

Seperti diberitakan sebelumnya,  pada akhir tahun 2019 lalu, pemerintah resmi menaikkan tarif iuran BPJS Kesehatan. Kelas I dari Rp. 80 ribu menjadi Rp. 160 ribu. Tarif iuran kelas II naik dari Rp51 ribu menjadi Rp 110 ribu. Untuk kelas III naik dari Rp25.500 menjadi Rp 42 ribu per peserta setiap bulannya.

Sementara itu, pihak BPJS Kesehatan Kabupaten Situbondo tidak bersedia dikonfirmasi terkait jumlah kepesertaan BPJS Kesehatan di Situbondo.(fat




Loading Facebook Comments ...