Search

Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Dibuat Melayang

ilustrasi
ilustrasi

JAKARTA, REPORTASE-Antisipasi makin naiknya transportasi logistic dan padatnya arus lalu lintas PT Jasa Marga akan membangun jalan layang tol di ruas Cikunir-Karawang Barat sepanjang 36.40 Km. Jalan tol tambahan itu bertujuan agar lalu lintas jarak jauh yang masuk dan keluar DKI Jakarta, memiliki waktu tempuh lebih pendek.

“Pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II yang layang ini membantu meningkatkan pelayanan Jalan Tol Jakarta-Cikampek,” kata Dwimawan Heru,Kepala Humas Jasa Marga dalam keteragan pers yang diterima reportasenews.com, Senin (5/12)
Jasa Marga telah melakukan pelebaran secara bertahap pada ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang semula hanya memiliki jumlah lajur 2×2 kini sebagian besar telah memiliki jumlah lajur 2×4.

Saat ini volume lalu lintas telah melebihi kapasitas ruas jalan tersebut dengan V/C Rasio tertinggi mencapai 1,51, yang artinya volume lalu lintas telah melebihi 1,51 kali dari kapasitas jalan tersedia.

Di sisi lain, ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek sudah tidak dapat dilakukan pelebaran kembali, sehingga konstruksi Jalan Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated) yang berupa jalan layang dibangun di atas jalan tol eksisting dengan jumlah lajur 2×2 dengan nilai investasi mencapai Rp. 16 triliun.

Untuk investasi pembangunan jalan tol tersebut, Konsorsium Jasa Marga dan PT Ranggi Sugiron Perkasa mendirikan PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek dimana kepemilikan saham Jasa Marga sebesar 80% dan PT Ranggi Sugiron Perkasa sebesar 20%.

Proyek Jalan Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated) direncanakan akan dibangun mulai Triwulan II Tahun 2017 dan ditargetkan beroperasi pada tahun 2019 dengan masa konsesi selama 45 tahun.

Kontrak konstruksi pada pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated) menggunakan Contractor Pre Financing (CPF) dimana kontraktor akan mendanai proyek terlebih dahulu.

Memperhatikan bahwa pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated) dilakukan pada saat yang sama dengan pembangunan proyek-proyek infrastruktur lainnya seperti Light Rail Transit (LRT) dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

“Kami menggunakan jasa konsultan Project Management, agar integrasi pelaksanaan konstruksi proyek untuk meminimalkan gangguan lalu lintas yang terjadi selama masa konstruksi,” tukas Heru. (pr)




Loading Facebook Comments ...