Search

Jan Pieterzoon Coen; “Pahlawan Nasional” Yang Ditolak Bangsanya Sendiri

Suasana kota Hoorn, Belanda tempat kelahiran Jan Pieterzoon Coen. Berdiri di tengah alun-alun Hoorn, dikelilingi rumah-rumah peninggalan abad pertengahan yang indah dan asli. Lengkungan atap dan jendela besar-besar dengan warna keemasan, menghiasi alun-alun kota yang tidak terlalu besar itu.  (foto: Hendrata Yudha)
Suasana kota Hoorn, Belanda tempat kelahiran Jan Pieterzoon Coen. Berdiri di tengah alun-alun Hoorn, dikelilingi rumah-rumah peninggalan abad pertengahan yang indah dan asli. Lengkungan atap dan jendela besar-besar dengan warna keemasan, menghiasi alun-alun kota yang tidak terlalu besar itu. (foto: Hendrata Yudha)

Hoorn, Belanda, reportasenews.com-Sejak memutuskan pergi ke Hoorn, kota kecil yang berjarak 51 km di sebelah utara Amsterdam, Belanda, sulit membayangkan bagaimana rupa patung peringatan Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jenderal VOC

Coen, pedagang dan adminstrator ulung ini  memang tokoh yang mengundang perdebatan. Di satu sisi, dia dianggap pendiri Kota Batavia namun di sisi lain, ia orang yang paling bertanggungjawab atas genoside rakyat Pulau Banda karena dianggap melanggar aturan monopoli VOC dengan menjual biji pala ke Inggris.. Kejahatan yang sekarang dianggap paling memalukan dalam sejarah hak azazi manusia. Apalagi, pusat pengadilan HAM Dunia ada di Den Haag, kota orang berbudaya dan terpelajar di Eropa.

Patung terbuat dari perunggu karya Ferdinand Leenhoff (1841-1914), dosen pada Academie voor Beeldende Kunst (Akademi Seni Rupa, red) Amsterdam, diresmikan 1893.

Berdiri di tengah alun-alun Hoorn, dikelilingi rumah-rumah peninggalan abad pertengahan yang indah dan asli. Lengkungan atap dan jendela besar-besar dengan warna keemasan, menghiasi alun-alun kota yang tidak terlalu besar itu.

Kami datang di tengah musim gugur, dengan suhu udara yang dingin mencapai 12 derajat Celsius. Suasananya alun-alun itu sejuk, tidak ada sinar matahari menyengat seperti di Jakarta. Kafe-kafe yang mengelilingi berderet kursi-kursi, sebagian diisi para wisatawan yang sedang makan siang dan menikmati keindahan kota abad pertengahan itu.

Wilayah Hoorn tidak terlalu besar, hanya 53.25 km2, malah lebih luas wilayah Jakarta Utara sekarang. Hoorn punya area perairan seluas 33 km2, sedangkan daratannya memiliki luas 20.25 km2. Dari karakter wilayahnya, Batavia memang ideal dijadikan sebagai Nieuw Hoorn seperti yang diidam-idamkan Coen.

Museum Wesfries, bekas balaikota Hoorns.

Museum Wesfries, bekas balaikota Hoorns.

Meskipun kecil, peran Hoorn sangat krusial bagi VOC dan juga Kerajaan Belanda. Hoorn pada abad ke-17 adalah kota pelabuhan terpenting di Belanda. Seluruh kapal yang menjelajah samudera ke berbagai belahan dunia, menjadikan Hoorn sebagai tujuan akhirnya untuk pulang dengan membawa berbagai jenis barang berharga yang langka dan amat mahal di Eropa, termasuk rempah-rempah dari Nusantara.

Lalu lintas yang lenggang, sepi dari hiruk pikuk wisatawan milenial membuat suasana romantis kota kecil itu sangat terasa.  Hoorn bukan daerah tujuan wisatawan biasa kelas berfoto-foto kemudian pergi. Ini adalah tapak sejarah Indonesia, karena berkat Coen Belanda bisa mencengkeram bumi nusantara dan mengeruk kekayaan alamnya hingga ratusan tahun.

Coen adalah penanda waktu, juga penanda penaklukan bangsa pribumi merdeka oleh bangsa Eropa yang rakus oleh kekuasaan dan kekayaan.

Patung Coen berdiri menghadap ke arah timur, persis di tengah alun-alun. Di sampingnya bekas gedung balaikota Hoorn yang sekarang difungsikan sebagai Museum Wesfries yang berisi lukisan-lukisan kehidupan kota Hoorns dan peralatan yang digunakan penduduknya zaman dahulu.

Beberapa pengunjung yang melihat patung itu, tidak begitu tahu siapa Coen alias Mur Jangkung ini.

“Saya kurang mengerti siapa dia, katanya tokoh pahlawan nasional tapi kami gak peduli. Dari plakatnya yang ada, sepertinya patungnya kurang layak tetap berada di sini. Kami agak malu juga dengan sepak terjangnya, “ kata Rob, salah satu pengunjung ketika berbicara dengan Hendrata Yudha, dari reportasenews.com di Hoorn, 17 Oktober 2017 lalu.

Apa yang disampaikan Rob ini, memang ada benarnya juga.

Teks versi perubahan yang akan dipasang oleh pemerintah Kotapraja Hoorn pada patung Coen. (foto; Hendrata Yudha)

Teks versi perubahan yang akan dipasang oleh pemerintah Kotapraja Hoorn pada patung Coen. (foto; Hendrata Yudha)

Di bawah patung itu tertera semboyan Coen yang terkenal: Dispereet Niet (“pantang berputus asa”).

Teks versi perubahan yang akan dipasang oleh pemerintah Kotapraja Hoorn pada patung Coen selengkapnya sebagai berikut:

Jan Pieterszoon Coen (Hoorn 1587-Batavia 1629)

 Saudagar, Direktur Jenderal dan Gubernur Jenderal Verenigde Oostindische Compagnie\/VOC (Serikat Dagang Hindia-Timur). Perancang kesuksesan imperium dagang VOC di Asia. Pendiri kota Batavia, sekarang Jakarta.

 Dikagumi sebagai penata yang efektif dan visioner. Namun juga dikritisi atas tindakan kekerasannya untuk mendapatkan monopoli dagang di Nusantara. Melaksanakan ekspedisi hukuman pada 1621 terhadap satu dari Kepulauan Banda, sebab penduduknya melanggar larangan VOC menjual pala kepada pedagang Inggris. Ribuan warga Banda tewas dalam ekspedisi ini, sisa yang hidup dideportasi ke Batavia.

Teks versi revisi tersebut, walaupun telah menyebut jejak tangan berdarah J.P. Coen, tetap ditentang oleh masyarakat yang menamakan diri Burgerinitiatief ‘Ja voor Hoorn, Nee tegen Coen’ (Inisiatif Warga, ‘Ya untuk Hoorn, Tidak terhadap Coen, red).

Patung Coen berdiri menghadap ke arah timur, persis di tengah alun-alun. Di sampingnya bekas gedung balaikota Hoorn yang sekarang difungsikan sebagai Museum Wesfries yang berisi lukisan-lukisan kehidupan kota Hoorns dan peralatan yang digunakan penduduknya zaman dahulu. (foto: Hendrata Yudha)

Patung Coen berdiri menghadap ke arah timur, persis di tengah alun-alun. Di sampingnya bekas gedung balaikota Hoorn yang sekarang difungsikan sebagai Museum Wesfries yang berisi lukisan-lukisan kehidupan kota Hoorns dan peralatan yang digunakan penduduknya zaman dahulu. (foto: Hendrata Yudha)

Lukisan berkualitas tinggi dari abad pertengahan di Museum Wesfries, Hoorn. Menampilkan suasana kehidupan zaman dahulu. (foto: Hendrata Yudha)

Lukisan berkualitas tinggi dari abad pertengahan di Museum Wesfries, Hoorn. Menampilkan suasana kehidupan zaman dahulu. (foto: Hendrata Yudha)

“Fakta bahwa rakyat Banda dibantai habis itu telah dibenarkan oleh 9 sejarawan Belanda terkemuka yang telah kami mintai konsultasi. Tak seorang pun pejabat kotapraja meminta maaf pada masyarakat Banda. Suatu masyarakat yang kini tiada, karena telah dibantai habis dari muka bumi oleh Coen,” ujar Eric van de Beek dari Burgerinitiatief.

Menurut Van de Beek, sebelumnya Dewan Kotapraja Hoorn pada tahun lalu telah memutuskan untuk memasang ‘catatan kritis’ pada patung Gubernur Jenderal Coen. Hal itu terjadi menyusul permintaan Burgerinitiatief kepada Dewan untuk memilih: menyingkirkan patung Coen atau memasang teks versi revisi.

Pejabat Kotapraja Peter Westenberg dalam sidang komisi di Dewan menyatakan sadar menghindari terminologi ‘pembantaian etnik’ dan ‘genosida’, karena dia tidak mau menghukumi secara moral sepak terjang Coen.

“Hoorn dengan itu mengingkari genosida. Satu-satunya harapan kami pada pemerintah Kotapraja Hoorn adalah agar menyebutkan apa adanya sesuai fakta. Bahwa hal itu tidak dilakukan sungguh memalukan untuk Hoorn dan seluruh Negeri Belanda”.

Pahlawan Nasional

Jan Pieterszoon Coen meninggal di Batavia pada tanggal 21 September 1629. Terdapat dua versi yang berbeda mengenai penyebab kematian Coen. Menurut versi Belanda, Coen meninggal karena kolera yang kini lebih dikenal dengan muntah darah, sedangkan versi lainnya meyakini bahwa kematian Coen akibat serangan bala tentara Sultan Agung dari Mataram. Dari kedua versi ini kemudian diyakini bahwa Coen meninggal karena terjangkit wabah kolera yang sengaja disebarkan oleh pasukan Mataram di Sungai Ciliwung setelah peristiwa Serangan Besar di Batavia tahun 1628.

Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mendapat status sebagai pahlawan nasional Belanda pada akhir abad ke-19.

Pembuatan patung untuk Coen tersebut bukan tanpa kontroversi. Menurut para penentangnya, Coen dengan politik dagangnya yang penuh kekerasan di Kepulauan Nusantara tidak layak mendapat penghormatan. (Hendrata Yudha)




Loading Facebook Comments ...