Search

Jelang Lebaran, Harga Sapi di Situbondo Mulai Merangkak Naik  

harga sapi  mulai merangkak naik di sejumlah  pasaran hewan di Kabupaten  Situbondo. (foto:fat)
harga sapi mulai merangkak naik di sejumlah pasaran hewan di Kabupaten Situbondo. (foto:fat)

Situbondo,reportasenews.com – Menjelang lebaran 1439 Hijriah, harga sapi  mulai merangkak naik di sejumlah  pasaran hewan di Kabupaten  Situbondo. Namun kenaikan itu hanya terjadi pada harga sapi yang dinilai layak potong saja.

Sedangkan untuk harga sapi  yang lain, seperti ketagori indukan normal dan pedet masih tetap tidak ada perubahan.  Harga  sapi  yang layak potong itu mulai naik, karena meningkatnya kebutuhan daging menjelang lebaran yang hanya tinggal 4 hari saja.

Jamsuri (52), salah seorang pedagang sapi asal Klabang, Bondowoso mengatakan, khusus harga sapi layak potong naik antara 2-3 juta.”Hari ini merupakan pasaran yang terkahir, biasanya banyak warga yang beli sapi untuk dipotong,” kata Jamsuri, Senin (11/6).

Pantauan Reportasenews.com dilapangan, sejak pagi hingga sore pasar hewan Seninan yang berlokasi di Desa Kalimas, Kecamatan Besuki, memang banyak ‘diserbu’ para pembeli. Mereka memadati lokasi penjualan sapi potong di sisi utara dan barat.

Bahkan, tidak hanya kalangan para jagal sapi saja yang memadati pasar hewan Besuki, namun  masyarakat umun juga diketahui ikut  melakukan transaksi di lokasi tersebut, yakni untuk membeli sapi yang hendak dipotong menjelang lebaran.

“Hampir lebaran begini, sistem tabungan untuk mendapat daging tentu sudah akan dicairkan semua. Makanya, sekarang banyak pengepulnya yang cari sapi untuk dipotong, karena  hari ini sudah masuk  H-4  dan harus dapat sapi,” beber  Jamsuri.

Berbeda dengan sapi indukan normal dan pedet, yang tampak tak begitu banyak peminat. Sebab menjelang lebaran peternak biasanya cenderung enggan menambah peliharaan baru. Di antaranya karena sapi baru biasanya cenderung mudah mengalami stres. Sehingga berpotensi merepotkan peternaknya.

Tak heran, jika harga sapi untuk peliharaan (induk maupun pedet) ini cenderung masih bertahan seperti pasaran sebelumnya. Meski tak ada kenaikan harga, namun sepinya minat pembeli tetap membuat sebagian pedagang gigit jari. Banyak sapi yang tak laku terjual terpaksa dibawa pulang.

“Dengan dibawa pulang, modal kita jelas bertambah. Mulai uang transportasi, biaya pakan, biaya perawatan selama di rumah, dan sebagainya. Padahal tetap tidak ada jaminan harga di pasaran berikutnya akan ada kenaikan,” tukas Saiful, pedagang  sapi yang mengaku berasal dari Kota  Situbondo.(fat)




Loading Facebook Comments ...