Search

Jenazah Penumpang Sriwijaya Air SJ 182, Ihsan Adhlan Hakim Dimakamkan di Pontianak

Pemulangan jenasah Ihsan Adhlan Hakim dari Jakarta ke Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya langsung dijemput Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji. (foto:das)

Pontianak, reportasenews.com – Muhammad Nasir teramat gusar, tak biasanya perasaannya bercampur aduk. Mendekati hari respsesi pernikahan putranya Ihsan Adhlan Hakim, seharusnya ia berbahagia. Bahkan undangan telah disebar 30 persen. Resepsi putra kesayangannya ini sudah beberapa kali tertunda, akibat pandemi Covid 19.


Entah kenapa ia tak tenang, begitu juga saat mendapat kabar Ihsan ingin pulang ke Pontianak pada Sabtu (09/1/2021) bersama istri tercintanya, Puteri Wahyuni, dengan pesawat Nam Air. 
Saat bimbangnya hati,  harus menjadi kenyataan tak pernah terbesit olehnya. 

Ihsan Adhlan Hakim menjadi satu dari daftar 62 manifest penumpang. Jenasahnya terindentfikasi DVI Polri setelah mencocokkan data Ante mortem ke post Mortem.

Namun jenasah istrinya, Puteri Wahyuni belum terindentfikasi.
Pemulangan jenasah Ihsan Adhlan Hakim dari Jakarta ke  Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya langsung dijemput Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji pada pukul 13:30 WIB.

Setelah ada upacara penyerahan dari pemerintah ke keluarga, jenasah Ihsan dibawa ke rumah duka di Jalan H. Rais A Rahman gang Ikrar No. 41, Sungai Jawi, Pontianak.

Setelah di rumah duka, jenasah disholatkan di rumah orangtuanya. Di lanjutkan di Masjid Baiturahim, jalan Husien Hamzah PAL 3. 
Jenasah dimakamkan di gang Hasanah. 

Ihsan memang sejak kuliah telah menetap di Jakarta. Ia kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Selepas kuliah, Ihsan yang senang bermusik ini memilih berwirausaha sebagai pedagang rokok elektronik (Vape) hingga usahanya lancar dan sukses di Jakarta, dan menikah dengan gadis pujaan hatinya, asal Pekan Baru.

Muhammad Nasir sempat meminta Arwin, adik Ihsan menelpon abangnya untuk terus terhubung dengan Ihsan dan isterinya.
Sabtu (9/1/2021) ia sebenarnya tak berniat menjemput anaknya.

Namun rasa bimbangnya memutuskan ia berangkat ke Bandara Supadio, Kubu Raya.

“Jam 03 sore berangkat ke Bandara, pas Ashar, saya belum sholat. Saya menunggu sebentar. Tak ada niat mau jemput, saya ke bandara sama anak saya. Ketika Adzan berkumandang, kemudian saya sholat Ashar. Kira-kira sekitar jam 04.00, saya mendatangi ke terminal kedatangan domestik. Saya tanya ke petugas, saya tanya Sriwijaya SJ 182. Saya liat di monitor tertunda, saya sesama penumpang saya ajak bicara.

Ada kawan yang buka aplikasi flightradar. Di radar jam 02.14WIB, pesawat Sriwijaya Air sudah berangkat, tapi pada titik ini berhenti. Saya pikir peswat mencari landasan darurat. Masih simpang siur, karena belum ada kabar. Saya minta doa ke kawan -awan. Setelah itu masuk informasi pesawat hilang kontak,” cerita Muhamamad Nasir, ayah Ihsan.

Sriwijaya Air SJ 182 dari Jakarta – Pontianak lost kontak. Sampai magrib belum ada informasi, ada informasi keluarga penjemput segera berkumpul di Polsek Bandara Internasional Supadio. Tapi tak banyak informasi di dapat, akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah.
“Saya pulang ke rumah, sudah ramai,” lirihnya.

“dia nikah tanggal 7 Maret 2020, rencana tanggal 18 April 2020, resepsi pernikahan, tapi ditunda. Dimundurkan Juli, tapi tak bisa. Rencana besok mau digelar Resepsi, tapi takdir Allah. Kami belum bisa berangkat, saat itu belum dapat swab. Undangan sudah 30 persen beredar. Setelah itu dapat swab online, berangkat jam 07 pagi dengan Nam Air tapi ditukar dengan Sriwijaya Air SJ 182, jam 01 sempat kontak udah di pesawat, resepsi di gedung PCC. Hati saya gusar, sejak mau ngunduh mantu,” ucap Muhammad Nasir mengakhiri. (das)




Loading Facebook Comments ...