Search

Kabid SDA Persilahkan Buang Lumpur Situ Pedongkelan Kurang Dari 5 KM

IMG-20181128-WA0002
Depok,reportasenews.com  –  Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, Citra Indah Yulianti yang sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek penurapan dan normalisasi Situ Pedongkelan mengatakan bahwa dalam rincian anggaran biaya (RAB) kegiatan tersebut tertulis buangan lumpur beserta sampah situ kurang dari 5 kilometer.
Oleh sebab itu, lumpur beserta sampah yang diangkut pihak pelaksana PT.Delima Intan Abadi dibuang di lahan kosong milik pabrik pernekel. “Dalam RAB buangannya tidak boleh lebih dari 5 kilometer. Maka dari itu, dibuangnya di lahan pabrik pernekel yang posisinya dekat dengan situ,” kata Citra saat dihubungi melalui WhatsApp, Rabu (5/12/2018).
Citra menjelaskan, dari adanya lahan kosong milik pabrik pernekel yang berkenan atas pembuangan lumpur beserta sampah Situ Pedongkelan dengan komitmen tanahnya terlebih dahulu di urug tentunya pihak dinas memperbolehkan pihak pelaksana untuk membuang di lokasi tersebut. Lagi pula, sambung Citra, sejumlah warga yang dekat pembuangan lumpur telah membuat surat pernyataan kalau warga tidak keberatan dengan hal tersebut.
“Pihak pabrik pernekel beserta warga yang berdekatan dengan buangan lumpur tidak mempersoalkan hal tersebut. Jadi yang mana dilanggar,” ujarnya.
Padahal, dalam RAB penurapan dan normalisasi Situ Pedongkelan yang anggarannya dari Bantuan Gubernur DKI Jakarta sebesar Rp 3.560.509.000 disebutkan bahwa lumpur beserta sampah hasil pengerukan Situ Pedongkelan harus diangkut dengan menggunakan alat berat dan diangkut menggunakan dump truk sebanyak 5.280 meter kubik dengan jarak tempuh sejauh lebih dari 5 kilometer.
Pada Selasa, 11 November 2018 lalu Kepala Dinas PUPR Manto Djorghi mengakui seluruh lumpur yang dikeruk dari Situ Pedongkelan dibuang ke depan rumah warga di RT 05, 06/RW 05 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Total lumpur yang dikeruk sebanyak 6.000 meter kubik.
Pembuangan lumpur ke depan rumah warga, masih kata Manto, berdasarkan kesepakatan antara kontraktor dengan dua pemilik tanah yang tertuang dalam perjanjian resmi di atas materai.
“Dibuang ke situ semua, kurang lebih 6.000 meter kubik. Ada surat perjanjian dan surat permintaan. Agar hasil normalisasi, sedimen itu untuk pengerukan lahannya. Ada persetujuan yang punya lahan,” kata Manto saat inspeksi mendadak (sidak) di Situ Pedongkelan. (jan/ltf)



Loading Facebook Comments ...