Search

Katsuko Saruhashi Geokimiawan Wanita Jepang Yang Mengguncang Dunia

katsuko-saruhashi_20180322_040258

Jakarta, reportasenews.com-Google merayakan ulang tahun yang ke-98 untuk geokimiawan asal Jepang, Katsuko Saruhashi karena “konstribusinya dalam bidang sains, dan menginspirasi para ilmuwan muda  untuk berhasil.”

Katsuko Saruhashi pernah mengatakan bahwa, “Ada banyak wanita yang memiliki kemampuan untuk menjadi ilmuwan hebat. Saya ingin melihat suatu hari nanti ketika wanita dapat berkonstribusi pada sains dan teknologi dengan posisi yang sejajar dengan pria.”

Saruhashi percaya bahwa “itu adalah tugasnya untuk membuat bidang yang ia kerjakan menjadi lebih sejajar,” dan ia sangat dihormati sebagai pelopor geokimiawan.

Berikut ada 5 hal yang perlu Anda ketahui tentang geokimiawan asal Jepang tersebut.

  1. Saruhashi yang penasaran dengan hujan dan terinspirasi untuk belajar kimia

Saruhasi adalah seorang ahli geokimiawan yang lahir pada 22 Maret 1920 di Tokyo, Jepang. Ia adalah lulusan dari Toho University di tahun 1943 dan pada tahun 1957, ia mendapatkan program doktor dari University of Tokyo.

Katsuko kecil yang kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar melihat tetesan air hujan pada jendela, yang kemudian muncullah rasa penasaran bagaimana hujan dapat terjadi.  Dan perjalanannya untuk mendapatkan jawabannya tersebut membuatnya menjadi wanita pertama yang mendapatkan gelar doktor di University of Tokyo pada tahun 1957. Ketertarikannya pada hujan, membuat Katsuko ingin mempelajarinya, terutama mengenai hujan asam.

  1. Seorang Geokimiawan yang berbakat dan penamaan “Saruhashi’s Table”

Saruhashi sebagai seorang geokimiawan terkenal karena penelitiannya yang inovatif. Ia merupakan orang pertama yang secara akurat mengukur konsentrasi asam karbonat dalam air berdasarkan suhu, kadar keasaman dan kloniritas.

“Saruhashi’s Table” yang namanya diambil dari geokimiawan tersebut merupakan sebuah metode yang sampai saat ini masih digunakan oleh para ahli kelautan. Selain itu, ia juga mengembangkan sebuah teknik untuk melacak penyebaran radioaktif yang menyebabkan pembatasan percobaan nuklir di laut pada tahun 1963.

katsuko-saruhashi-tumblr_650x400_41521700895

  1. Karier Saruhashi selama lebih dari 30 tahun

Sepanjang kariernya di bidang sains, Saruhashi menjadi wanita pertama yang dipilih oleh Science Council of Japan pada tahun 1980, dan ia juga menjadi wanita pertama yang menerima Miyake Prize untuk geokimia di tahun 1985.

Untuk mendukung lebih banyak wanita dalam bidang sains, di tahun yang sama, Saruhashi memulai Society of Japanese Women Scientists dengan tujuan agar lebih banyak wanita yang dapat berkonstribusi di bidang sains dan perdamaian dunia.

  1. Saruhashi yang peduli dengan ilmuwan wanita

Saruhashi sangat peduli mengenai perjuangan ilmuwan wanita lainnya. Ini menjadi salah satu penanda di kehidupannya; ia mencoba membantu untuk kemajuan wanita lainnya, terutama wanita Jepang dalam bidang sains. Dia berkomitmen untuk menjadi insprirasi bagi para wanita muda lainnya untuk belajar sains dan ia juga membuat Saruhashi Prize di tahun 1981 yang dibuat untuk mengakui para ilmuwan wanita untuk penelitiannya.

Penghargaan Saruhashi tersebut dibentuk pada tahun 1980 oleh The Association for the Bright Future of Women Scientist, yang didirikan oleh Katsuko Saruhashi. Penghargaan ini diberikan setiap tahunnya kepada ilmuwan wanita yang berusia di bawah 50 tahun sebagai pengakuan atas penelitiannya.

  1. Saruhashi yang fokus pada penelitiannya mengenai pengujian nuklir

Penelitian yang dilakukan Saruhashi membantu memberikan informasi mengenai perlombaan senjata nuklir. Atas permintaan pemerintah Jepang, penelitian yang diarahkan untuk pengujian nuklir pada tahun 1954, menemukan bahwa dampat dari situs uji bom AS, Pulau Bikini, telah menyebar ke laut Jepang 18 bulan setelah pengujiannya.

Penelitian Saruhashi membantu membujuk Amerika dan Uni Soviet untuk menghentikan uji coba nuklir pada tahun 1963. Saruhashi merupakan geokimiawan Jepang pertama yang mengukur secara tepat karbon dioksida dan bahan radioaktif di laut, yang menjadi salam satu alasan ilmiah untuk membatasi percobaan nuklir di Samudra Pasifik.

Geokimiawan wanita pertama yang juga turut mendorong kesejajaran ilmuwan wanita lainnya inin meninggal di umur 87 tahun, pada tahun 2007 karena pneumonia. (tata/pr)




Loading Facebook Comments ...