Search

Kematian Akibat DBD di Pasuruan Masih Menghantui

Salah satu pasien DBD yang tengah di rawat di rumah sakit. (foto : abd)
Salah satu pasien DBD yang tengah di rawat di rumah sakit. (foto : abd)

Pasuruan, reportasenews.com – Kasus penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jatim, dalam kurun tiga tahun ini terdapat tren penurunan, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, kematian akibat penyakit dari gigitan nyamuk ini, ternyata masih menghantui di masyarakat. Selain itu, penyakit ini kurang dipahami oleh sebagian masyarakat terkait gelajanya sejak dini.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Pasuruan, Agus Eko Iswahyudi mengatakan, mulai tahun 2016, DBD tercatat sebanyak 764 kasus, turun menjadi 317 kasus pada tahun 2017. Artinya lebih dari separuh kasus DBD menurun.“Tahun 2016 puncak kasus DBD, karena naiknya cukup banyak dari 686 kasus di tahun 2015,” papar Agus, pada wartawan, Rabu (4/4/2018).

Sedangkan 3 bulan terakhir, dari pantuan Dinkes, yang menyangkut kasus suspect DBD tercatat ada 23 temuan. Kata dia, jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2017 lalu, yang mencapai 50 kasus akibat nyamuk aedes aegypty ini. Hanya saja, meski mengalami tren penurunan, namun jumlah korban meninggal akibat penyakit DBD ini, masih dijumpai di beberapa tempat.

Dijelaskan Agus, pada tahun 2015 silam, untuk jumlah korban yang meninggal mencapai 28 orang. Sedangkan di tahun 2016 adanya penurunan menjadi 27 orang, dan turun lagi pada pada tahun 2017 menjadi 13 warga.“Januari-Maret 2018, belum ada laporan warga yang meninggal akibat DBD. Dinas Kesehatan ditegaskan akan terus melakukan antisipasi secara menyeluruh dengan sosialisasi,” ungkap dia.

Untuk antisipasinya, lanjut Agus yakni melalui gerakan Gemas Darling alias gerakan masyarakat sadar lingkungan. Tujuannya, agar tumbuh kesadaran masyarakat menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan, dengan langkah pembarantasan sarang-sarang nyamuk. Program satu rumah satu kader jumantik (juru pemantau jentik), diyakini cukup memberikan dampak, dibuktikan dengan menurunnya kasus DBD. (abd)

 




Loading Facebook Comments ...