Search

Ketua DPR Papua Yunus Wonda : Nduga Bukan Jalur Gaza

Ketua DPR Papua, DR. Yunus Wonda SH, MH saat berikan keterangan. ( foto : riy ) 
Ketua DPR Papua, DR. Yunus Wonda SH, MH saat berikan keterangan. ( foto : riy ) 
Jayapura, reportasenews.com – Ketua DPR Papua, DR. Yunus Wonda SH, MH mengutuk tindakan puluhan aparat gabungan TNI/Polri yang diduga telah melakukan penyergapan dan penyerangan markas kelompok TPN/OPM di Kampung Aliguru, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga.
Bahkan menurutnya, ini tindakan yang sangat tidak manusiawi, lantaran  banyak mengorbankan nyawa orang yang tidak berdosa.
“Kejadian-kejadian iseperti ini yang selalu kami sampaikan bahwa, jangan sampai kita harus mengjilangkan nyawa  orang karena yang berhak mengambil nyawa seseorang adalah san Pencipta. Sehingga menurut kami, kejadian itu sangat tidak terpuji,” kata Yunus Wonda kepada awak media di ruang kerjanya.
Bahkan, legislator Papua  ini menyayangkan tindakan dari  aparat kemanan dalam hal ini TNI/Polri di Kabupaten Nduga dalam mengejar kelompok OPM di wilayah itu.
Dengan kejadian itu, yang diikuti pihaknya selama dua hari,  Yunus Wonda mengakui, memang sebagai tugas utana TNI/Polri menjaga keutuhan negara Republik Indonesia serta melindungi masyarakat. Dan hal itu pihaknya beri apresiasi bagaimana menjaga keutuhan negara ini agar tak ada gangguan dari luar.
Namun disisi lain, pihaknya (DPRP) menyesalkan dengan cara yang di gunakan oleh pihak kemanan TNI/Polri di Kabupaten Nduga, Kampung Aliguru, Distrik Kenyam.
“Pengerahan aparat kemanan ke Nduga terlalu banyak padahal masyarakat Nduga ini sudah sangat trauma yang luar biasa.  Mereka hidup ketakutan di kampung dan tanah mereka. Di atas negeri mereka, tapi mereka hidup seakan-akan bukan berada di kampung mereka sendiri. Sehingga banyak trauma yang dialami masyarakat Nduga sampai hari ini,” kata Wonda.
Yunus Wonda mengungkapkan, kejadian di Nduga yang diikuti pihaknya terjadi mobilisasi aparat kemanan yang cukup besar.
“Padahal di sana kan (Nduga) bukan jalur gaza juga bukan daerah-daerah perang, bukan daera–daerah operasi militer. Kalau memang ada oknum, kan banyak cara yang dapat dilakukan untuk bagaimana merangkul masyarakat kita disana  yang bersebrangan, mendekati mereka. Ada banyak cara, bukan dengan operasi dengan pesawat atau heli kopter dan mengirim sekian banyak pasukan kesana,” ketus Yunus Wonda dengan nada kesel.
Menurutnya, cara seperti ini sangat tidak bagus. Meski kini belum ada korban, namun kalau besok lusa ada korban, lalu siapa yang bertangggung jawab.
“Nyawa masyarakat sipil harus jadi korban. Disini saya mau sampaikan kepada Kapolda dan Pangdam terutama Kapolda, sekian banyak pasukan di sana harus ditarik keluar. Itu bukan menyelesaikan masalah di Nduga,” tekannya.
Ia menegaskan, masyarakat Nduga juga masyarakat Indonesia  yang juga punya hak untuk dilindungi.
Lanjut dikatakan, janga menakuti masyarakat dengan hal yang membuat mereka tidak nyaman oleh negara diatas tanah mereka sendiri. Tapi tugas kita hari ini bagaimana membuat orang Papua mencintai bangsa ini, bukan membuat mereka takut terhadap bangsa ini.
“Saya mau sampaikan semua pasukan yang ada di sana ditarik kembali. Kembalikan kondisi semula. Berikan kembali kenyamanan dan kedamaian kepada masyarakat yang di sana,” tegasnya.
Menurut Yunus Wonda, ini bukan hal yang luar biasa, jadi untuk mencari para pelaku, ada intelejen kita untuk menangkap langsung. Tapi bukan dengan cara-cara operasi, apalagi dengan menggunakan Heli kopter.
“Inikan cara-cara yang sangat  tidak bagus. Mereka ini warga negara, bagaimana kita membuat masyarakat di Nduga itu menjadi  ketakutan. Disana kan bukan daerah benas operasi atau daerah yang digunakan untuk operasi meliter disana,” ucapnya.
Yunus Wonda menandaskan, kalau memang mau lakukan operasi besar-besaran di Nduga,  keluarkan semua masyarakat sipil  yang ada di sana. Kosongkan daerah itu baru lakukan operasi,  karena TPN/OPM ada dengan masyarakat di sana, mereka menyatu dengan masyarakat dan pasti susah membedakan mereka. Mana masyarakat sipil mana dan mana yang TPN/OPM.
Dikatakan, kondisi yang terjadi kemarin,  bagaimana mereka mobilisasi yang luar biasa.  Untuk itu, ia meminta kepada Kapolda menarik semua Brimob di Nduga. Percayakan kepada kepolisian dan koramil yang ada di sana.
“Di sana bukan berhadapan dengan pasukan yang luar biasa. Di sana mungkin yang pegang senjata satu dua orang saja. Tapi kita turun dengan kekuatan besar.
Inikan mencoreng nama kita, mencoret Pemerintah Papua, mencoreng aparat keamanan yang melakukan penyergapan dengan segala macam alat perang disana. Inikan tidak bagus,” tukasnya.
Selain itu kata Yunus Wonda,  beberapa bulan lalu temuan Amnesty Internasional menjadi warning kepada kita, terus kita lakukan hal-hal luar biasa lagi. Ini sama saja bahwa semua yang kita lakukan hari ini, tidak akan menyelesaikan masalah Papua.
“Kalau memang benar kelompok bersenjata juga melakukan penembakan,  tapi itu kan tugas kita bagaimana mendekatkan mereka dan bagaimana aparat dengan sistemnya memperkecil ruang lingkup mereka.” ujarnya.
Yunus Wonda menambahkan, kalau hari ini menggunakan ara-cara yang kemarin,  itu hal yang sangat  tidak terpuji. Bagaimana masyarakat lokal jadi ketakutan yang luar biasa.  Jangankan penembakan, kehadiran pasukan dalam jumlah besar saja itu sudah menjadi trauma buat masyarakat Nduga, dan bukan hanya masyarakat Nduga saja, seluruj masyarakat Papua di mana pun berada, pasti akan ketakutan.
“Ini menjadi tantangan kita hari ini. Saya mau sampaikan juga kepada pemerintah pusat, bahwa cara penanganan Papua tidak bisa dengan kekerasan. Duduk bicara bersama dengan baik bagaimana Papua ke depan, sehingga tidak ada lagi yang berbicara merdeka.  Ini tugas kita, tapi kalau kita melihat kondisi hari ini di Nduga, masyarakat akan menjadi ketakutan dan traumatis masyarakat tak akan hilang satu dua hari. Ini akan menjadi mimpi buruk bagi mereka,” pungkasnya. ( riy)



Loading Facebook Comments ...