Search

Kisah Tiga Bocah Mengasuh Adik Bungsunya Berumur 2 Bulan di Kalbar, Bikin Nangis

Armada, anak kedua mengasuh adik bungsunya yang berumur 2 bulan. (foto:das)
Armada, anak kedua mengasuh adik bungsunya yang berumur 2 bulan. (foto:das)
Pontianak, reportasenews.com – Kisah tiga anak kecil bersaudara bergantian peran mengasuh adik bungsunya yang masih berumur 2 bulan karena si ibu mengalami sakit keras, dengan perut semakin membesar setiap harinya dan tak jarang mengeluarkan nanah bercampur darah.
Kisah ini nyata terjadi di Indonesia, khususnya di Kali mantan Barat.Jauh dari pusat kota, Dusun Nango, Desa Tahu, kecamatan Meranti, Kabupaten Landak.
Hiduplah sepasang suami istri yang menjemput asa menjadi sebuah keluarga sederhana penuh kebahagian dan kedamaian meski serba kekurangan. Endol (38), nama sang ayah bekerja sebagai buruh tani kecil, penghasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Dan, si ibu bernama Dinik (25).
Pasangan suami istri ini dikaruniai 4 anak. Anak pertama bernama Kendong,  berumur 9 tahun dan sudah mengenyam pendidikan kelas III Sekolah Dasar. Anak kedua bernama Armada berumur 7 tahun, dan belum pernah bersekolah, dan anak ketiga bernama Barito, berumur 5 tahun dan adik bungsunya belum diberi nama, baru berumur 2 bulan.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Musibah pun menimpa keluarga sederhana ini. Si ibu mulai mengalami sakit-sakitan sejak mengandung Barito. Setelah Barito lahir dan usianya 2 tahun, derita Dinik semakin berkepanjangan.
Perutnya membesar dan pusarnya membengkak bahkan setiap malam Dinik mengerang kesakitan.
“Sakit ibu Dinik ini sudah berjalan 3 tahun, usai melahirkan anak bungsunya yang saat ini berumur 2 bulan, kondisi kesehatannya semakin memprihatinkan,” ungkap Desi Yana, tetangganya.
Meski sudah sakit parah, namun Dinik belum pernah mendapat perawatan medis akibat keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga miskin ini.
“Kadang pusarnya ibu Dinik mengeluarkan nanah, dan untuk mengeringkannya hanya diberi tanah kuning saja,”ujarnya.
Untuk itu, Endol bekerja siang malam untuk membantu meringankan biaya hidup sekaligus mengumpulkan biaya pengobatan. Namun penghasilan yang pas-pasan sebagai buruh tani, tak juga mampu membawa istrinya pergi berobat ke puskesmas atau pun ke Rumah sakit.
“Keluarga suami ibu Dinik ini tinggal jauh-jauh, dan tak pernah ada keluarganya yang menjenguk karena jaraknya yang jauh,” jelasnya.
Disaat Endol bekerja, makan ketiga anaknya yang masih kecil menganti peran ibunya yang sudah nyaris lumpuh akibat penyakit yang dideritanya.
“Disaat bapaknya bekerja, adiknya yang berumur 2 bulan diasuh sama abang-abangnya, terutama Armada, karena dia yang paling besar dan belum sekolah,” terangnya.
Di saat mengasuh adiknya, bahkan ketiga anak ini kadang tidak makan siang ataupun malam.Warga di sekitar tempat tinggalnya, mengetahui jika Dinik mengalami sakit keras, dan rata-rata di dusun ini termasuk keluarga yang pas-pasan secara perekonomiannya.
“Sejauh ini camat atau kades belum mengetahui, terakhir hanya orang terdekat yang melihat kondisi keluarga ini pada 28 Juni kemarin,” imbuhnya.
Karena tak kunjung mendapat perhatian dan bantuan itulah, Dinik nekad ingin mengakhiri hidupnya dengan meminum cuka getah karena depresi.
“Sama sekali belum pernah terjamah pemerintah, keluarga ini tidak memiliki KK apalagi KTP,” tuturnya.
Karena itu ia dan keluarga ini sangat berharap adanya perhatian pemerintah dan uluran dermawan untuk meringankan penderitaan yang dialami keluarga ini termasuk merawat Dinik, ibunya ke rumah sakit. (das)
Posko penggalangan dana utk keluarga ini  

Posko penggalangan dana utk keluarga ini  




Loading Facebook Comments ...