Search

KPAI Prihatin Masih Ditemukan Anak Kecanduan Lem di Pontianak

Anak-anak pecande lem. (foto:das)
Anak-anak pecande lem. (foto:das)
Pontianak, reportasenews.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) daerah kota Pontianak, prihatin dan menaruh perhatian besar atas kasus yang menimpa 5  yang kecanduan menghisap lem atau ngelem yang diamankan polisi di halaman SD Negeri 4 Pontianak Barat, Kamis (21/6) pukul 16.43 WIB.
Lima anak yang diamankan ini, berumur antara 14 sampai 16 tahun. Mereka berinisial HM (14), RA (16), HD (16), NH (16), dan  ZK (15).
“Setelah mendapat informasi ini dari kepolisian, kita langsung mendatangi anak-anak ini. Saya tentu sangat prihatin, bagaimana anak-anak bisa terjerat hingga kecanduan ngelem seperti ini,” kata Ketua KPAID kota Pontianak, Eka Nurhayati, kepada reportasenews.com, Sabtu (23/6).
Eka mengatakan, kasus ini menjadi perhatian besar pihaknya karena kecanduan lem atau menghirup bahan adiktif yang berbau tajam sangat berbahaya dan berdampak negatif bagi tubuh menghisapnya.
“Kita telah memanggil orangtua anak-anak ini di Polsek Pontianak setelah kita berkoordinasi dengan kepolisian, anak-anak ini kita titipkan ke Pos layanan anak terpadu  di jalan Ampera untuk dilakukan pembinaan dan pendampingan,” tuturnya.
Menurut Eka, rata-rata anak ini mengalami dampak psikologis di dalam keluarga atau broken home sehingga sebagian anak-anak ini yang masih berusia sekolah justru tidak melanjutkan pendidikan akibat putus sekolah.
“Rata-rata anak ini salah pergaulan, salah asuh, dan alami problem di keluarga,” ujarnya.
Dia menjelaskan lima anak yang diamankan ini, bukanlah pelaku kriminal karena menghisap lem belum ada payung hukum seperti pengguna narkoba. Namun dengan kejadian ini, tentu patut diwaspadai karena dampak ngelem sangat berbahaya, apalagi saat diamankan anak-anak ini menghisap lem sampai 5 kaleng.
“Ada belasan kaleng lem kita amankan di lokasi, dan satu anak sudah menghisap sampai 5 kaleng,” bebernya.
Dia menegaskan lima anak ini tetap menjalani pembinaan di Pos layanan anak terpadu selama dua hari kedepan, sambil menunggu pernyataan resmi keluarga atau orangtua untuk bersedia mengubah pola dan perilaku anak serta mengawasi anak tidak terjerat kecanduan lem.
“Peran orangtua sangat penting agar anak-anak ini tidak mengulangi perbuatannya,” tegasnya.
Dia menambahkan, pos layanan anak terpadu adalah rumah bagi mereka dan bukan rumah tahanan. Mereka hanya anak-anak nakal yang terbentur hukum.
“Kita buka pola pikir mereka dampak penggunaan lem, dua tiga hari di dalam pengawasan di rumah PLAT, akan kita kembalikan ke orangtuanya, tentu dengan perjanjian tertulis orangtua agar mengawasi ketat pergaulan dan perubahan perilaku anaknya. Kasus ini tak boleh diremehkan,” imbuhnya.
Ia berharap semua pihak menaruh perhatian kasus anak-anak kecanduan lem ini. Karena itu pihak nya meminta peran aktif masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan adanya kasus kejahatan terhadap  anak, dan  anak bermasalah.
“Saat ini sudah ada 19 kasus yang kita tangani, padahal kita  baru 3 bulan bertugas. Karena itu ada dua sistem yang kita terapkan untuk pengaduan masyarakat, sistem pertama masyarakat dapat melaporkan ke kantor, atau pengaduan lansung di lapangan,” pungkasnya. (das)



Loading Facebook Comments ...