Search

Lebih Banyak Menangis, Ibrahim Taufik Pelaku Pembunuhan Bayi Angkatnya Dinyatakan Waras

Tersangka Ibrahim Taufik jalani pemeriksaan psikologis. (foto:das)
Tersangka Ibrahim Taufik jalani pemeriksaan psikologis. (foto:das)

Pontianak, reportasenews.com – Ainun Maya (4) bayi perempuan ini telah tiada. Namun ayahnya angkatnya, Ibrahim Taufik (30) harus menjalani masa hukuman dengan ancaman 15 tahun penjara.

Selasa (7/8) pukul 14.00 WIB, Ibrahim Taufik dan istrinya Aguskartina alias Titin (33) harus menjalani pemeriksaan psikologis oleh tim Bidokkes Polda Kalimantan Barat. Pasangan suami istri ini diperiksa kejiwaanya secara terpisah di ruangan yang sama di Polresta Pontianak.

Pemeriksaan berlangsung selama 1,5 jam. Pemeriksaan psikologis ini atas permintaan penyidik Satreskrim Polresta Pontianak.

“Kita meminta pemeriksaan psikologis dari Polda Kalimantan Barat, dan saat kejadian penganiayaan itu hanya korban dan pelaku berada di dalam rumah, sementara isterinya sedang bekerja sebagai tukang ojek jemput anak sekolah,” kata Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Muhammad Husni Ramli kepada reportasenews.com, di ruang kerjanya, Selasa (7/8) kemarin.

Pemeriksaan psikologis terhadap tersangka Ibrahim Taufik diperlukan untuk melengkapi berita acara pemeriksaan sekaligus memastikan pelaku tidak mengalami gangguan kejiwaannya. Peristiwa penganiayan yang menyebabkan korban Ainun Maya (4) meninggal dunia dilakukan Ibrahim Taufik, ayah angkatnya Kamis (2/8) pukul 10.10 WIB, yang dipicu hanya karena anaknya berpura-pura tidur, yang membuat Ibrahim Taufik marah dan memukul anaknya dengan bantal.

“Sebelumnya, kakak kandung korban juga diadopsi oleh tersangka dan istrinya, namun seminggu sebelum kejadian kakak korban ini kembali ke kampung halamannya di Batu Ampar, karena tak kuat sering dipukul oleh tersangka,” jelas Husni.

Selama pemeriksaan berlangsung, Ibrahim Taufik terlihat lemas dan beberapa kali mengusap air matanya.

Pria pengangguran ini terlihat menyesali perbuatannya yang telah tega membunuh anak angkatnya sendiri.

Ibrahim Taufik mengakui telah berbuat yang kurang pantas sehingga korban meninggal dunia meski sempat menjalani perawatan di ruang ICU Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak selama 3 hari.

“Pelaku ini secara psikologis normal, dan ada kebiasaan pelaku dalam sehari-hari sering melakukan kekerasan. Ia lebih banyak dipengaruhi emosinya, sehingga ketika ada sesuatu yang tidak berkenan, ia langsung emosi yang sulit dikontrol,” kata Kasubag Psipol Bagpsipol bidang Dokkes Polda Kalimantan Barat, Kompol Teguh Purwo Nugroho.

Pada tahun 2012, pelaku kerap cekcok dengan anggota keluarganya yang lain, bahkan ia pernah ditahan di Polsek Sungai Raya tahun 2015  karena kasus penganiayaan anggota keluarganya yang lain.

Orangtua Taufik dikenal sosok religius dan bekerja sebagai penghulu. Namun ajakan ibadah kerap dibangkang Ibrahim Taufik, sehingga pelaku jarang menjalankan ibadah. Selain itu, Ibrahim Taufik selama ini tidak pernah betah terhadap pekerjaan yang dilakoninya. Beberapa kali kerja termasuk di perusahaan perkebunan sawit, namun ia kembali berhenti. Sifat pemalasnya ini membuatnya tidak memiliki pekerjaan meski telah menikah.

Sehari-hari ekonomi keluarganya ditopang dari penghasilan isterinya, menjadi tukang ojek antar anak sekolah. Sementara Ibrahim Taufik hanya gemar memelihara dan merawat burung kicau, yang beberapa kali pernah ikut dalam lomba burung kicau. (das)




Loading Facebook Comments ...