Search

Mengunjungi Suaka Kuliner “Kedubes Bandung” di Amsterdam

Rumah di Zuidoost, Amsterdam, tidak terlalu besar namun di sini menjadi semacam pangkalan operasi sebagian besar mahasiswa Indonesia yang pertama kali singgah di Amsterdam. (foto-foto: Hendrata Yudha)
Rumah di Zuidoost, Amsterdam, tidak terlalu besar namun di sini menjadi semacam pangkalan operasi sebagian besar mahasiswa Indonesia yang pertama kali singgah di Amsterdam. (foto-foto: Hendrata Yudha)

Amsterdam, reportasenews.com-Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Eropa, kaki rasanya berat juga. Soalnya, kami tetap khawatir hilang tertelan dalam hiruk pikuk kota besar dunia, nyasar tak tentu arah ketika ketika keluar Bandara Schipol, Amsterdam.

Beruntung, tak lama kemudian kami dihampiri seseorang yang wajahnya begitu familier sebagai orang salembur, satu kampung di pojokkan Bandung. Lelaki paruh baya yang kami kenal dengan nama Kang Agrar (nama lengkanya Agrar Sudrajat) ini langsung menyapa dan mengarahkan kami menuju jalur kereta bawah tanah, sesegera mungkin membangunkan kami dari mimpi buruk tersesat di negeri orang.

“Kita naik kereta api saja lebih cepat, tetapi jangan lupa harus beli OV Chips (kartu berlangganan) karena di Belanda uang tunai gak laku dipakai naik angkutan umum,” jelasnya.

Di tengah ketakjuban kami dengan penjelasan itu, ia mengarahkan kami membeli kartu multi trip seperti di KRL Jabotabek melalui mesin ATM. Kami terasa Ndeso, melihat bagaimana ia dengan fasih bertransaksi dengan mesin yang menggunakan bahasa Belanda, bahasa yang sangat asing.

Mudah saja ia ber cas-cis cus bahasa Belanda, seperti tokoh-tokoh kumpeni di film-film perang kemerdekaan.

Agrar adalah jurnalis Radio Hilversum seksi siaran Bahasa Indonesia, yang telah bermukim di Belanda lebih dari 40 tahun. Ia pemuja klub sepakbola Ajax, tetapi juga tak pernah melupakan Persib Bandung.  “Terutama nasib Persib yang elehan,” tuturnya.

Berkat Agrar, kunjungan pertama kali kami ke Amsterdam menjadi lancar jaya. Ia mengajarkan kami bagaimana sistem transportasi massal yang dikembangkan pemerintah Belanda agar memudahkan pergerakan manusia.

“Orang Belanda sangat memanjakan angkutan massal, semua jalur kereta dan bis berdekatan, mudah diakses dan murah. Yang penting, kamu pandai membaca peta jalan aja, pasti gak bakalan nyasar,” tukas Agrar, warga Bandung, Jawa Barat ini.

Warteg

Tempat tinggalnya di Jalan Koolpalmholf, Zuidoost, Amsterdam, tidak terlalu besar namun di sini menjadi semacam pangkalan operasi sebagian besar mahasiswa Indonesia yang pertama kali singgah di Amsterdam.

“Selamat datang di Belanda, jangan sungkan-sungkan ya selama di sini. Mau makan dan tidur aja juga boleh, anggap aja ini warteg,” jelas Atik Sosiawati, istri Agrar, menjadi tuan rumah yang ramah.

Ini memang rumah dengan aroma Indonesia, karena begitu kami masuk mencium “wangi” cumi asin goreng dan kerupuk. Bau sambal goreng, tempe dan tahu yang tersaji di meja makan, juga menegaskan keberadaan kuliner lembur kuring.

Dapur rumah Kang Agrar,menjadi suaka lidah melayu, berbagai masakan yang menggoyang lidah selalu ada. Saya, Ari, Wa Atik Sosiawaty dan Otto Sidharta masak dan makan bersama.

Dapur rumah Kang Agrar,menjadi suaka lidah melayu, berbagai masakan yang menggoyang lidah selalu ada. Saya, Ari, Wa Atik Sosiawaty dan Dr. Otto Sidharta masak dan makan bersama.

Ah ini memang serasa di warteg, dengan nasi hangat mengepul tetap hadir di tengah-tengah kepungan roti tawar dan keju asin khas Belanda.

Keakraban kami langsung mencair dengan asupan kuliner kampung sendiri, mengobrol menjadi jenaka membahas bagaimana mengolah kepala ikan salmon diolah seperti gulai kakap gaya Minang atau gaya sup ikan Batam.

Atik, tak sungkan-sungkan mencari dan memasak sendiri aneka makanan Indonesia. Berusaha memanjakan lidah melayu, yang tak mau melepaskan kenikmatan menyesap asinnya garam dan pedasnya sambal ulek.

Kami yang membawa bekal bahan makanan Indonesia, tak lupa memberikan ikan asin, kecap manis, teri kacang, rendang,  mie instan dan dendeng manis.

Kedubes Bandung

Kamar tempat kami menginap ternyata sudah disiapkan, ruangannya bersih dan nyaman. Walaupun tidur ngampar, kami yakin keramahtamahan tuan rumah ini memberikan kehangatan di musim dingin nan mengigit tulang.

Kami terkesima dengan sambutan seperti ini, ditempatkan di kamar 207. Dengan santai Wa Atik bilang itu artinya, kamar di lantai dua dengan kasur untuk tujuh orang, ngampar (bersama-sama).

Menurut Budi Kurniawan, kandidat Ph.d di Universitas Leiden yang datang bersama kami, ya begitu lah sifat alami kedua pasangan Kang Agrar dan Wa Atik, begitu mereka biasa disapa, tanpa basa-basi dan terbuka menerima mahasiswa dan warga Indonesia yang hinggap di negeri orang.

“Saya juga dulu juga tinggal di sini. Setelah paham sikon di Belanda, kemudian baru bisa mandiri dan tinggal di Leiden,” tutur keponakan Agrar.

Para mahasiswa Indonesia menjadikan rumah Agrar dan Atik posko sementara. Aminudin Siregar Ucok, Atik Sosiawati, Ari, Hendrata Yudha, Budi Kurniawan dan Ida di Leiden.

Para mahasiswa Indonesia menjadikan rumah Agrar dan Atik posko sementara. Aminudin Siregar Ucok, Atik Sosiawati, Ari, Hendrata Yudha, Budi Kurniawan dan Ida di Leiden.

Rasa keindonesiaan kami tergelitik, naluri rasa sungkan muncul karena kami bukan terikat dalam tali hubungan darah tentu tidak sertamerta dapat memahami situasi tersebut.

Dalam komunikasi dikemudian hari, saya baru memahami bagaimana Kang Agrar yang sudah pensiun ini mau terbuka menerima kami dari Indonesia.

“Saya sih senang aja dikunjungi warga Indonesia, gak ganggu privasi. Kamu kan masih saudara sama saya, sama-sama orang Sunda,” guyon Agrar.

Direktur Kesenian Dr. Restu Gunawan (tengah) dan staf berkunjung ke rumah Agrar Sudrajat, terkait mengklarifikasi soal perlakuan seniman Dr. Otto Sidharta (kiri atas) yang diperlukan tidak layak ketika tampil di Europalia Arts Festival Indonesia. (foto: Hendrata Yudha)

Direktur Kesenian Dr. Restu Gunawan (tengah) dan staf berkunjung ke rumah Agrar Sudrajat, terkait mengklarifikasi soal perlakuan seniman Dr. Otto Sidharta (kiri atas) yang diperlukan tidak layak ketika tampil di Europalia Arts Festival Indonesia. (foto: Hendrata Yudha)

Ya begitulah, di luar penampilannya fisiknya yang kelihatan garang dan mimik muka serius. Kang Agrar itu sebetulnya hatinya lembut, ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Selain itu, ia juga memiliki ciri-ciri karakter “Si Kabayan”, senang bercanda, jujur dan tanpa basa-basi dengan ucapan straight to the point.

“Mimik mukanya lempeng aja, kalau pertama kali ketemu kita gak tau ini orang ngomong serius atau lagi bercanda, “ jelas Anggraeni Esti Suyoto, Dekan STIMAR AMI yang merekomendasikan saya bertemu dan menginap di rumah Kang Agrar.

Seniman musik eksperimental Dr. Otto Sidharta menyebut rumah Agrar, seperti Kedubes Bandung di Belanda, saking seringnya tokoh-tokoh terkemuka, rakyat biasa dan ibu-ibu yang vakansi berdatangan ke sini.

“Rumah ini seperti tempat suaka orang Indonesia, boleh menginap dan makan masakan Indonesia sesukanya,” tutur Otto, yang telah mengenal Agrar sejak tahun 1980-an ketika menuntut ilmu di Amsterdam.

Para mahasiswa Indonesia menjadikan pos operasi sebelum mereka mandiri di negeri orang. Ari, Kang Agrar, Taufik Ramadhan dan Hesa Adrian Kaswanda.

Para mahasiswa Indonesia menjadikan pos operasi sebelum mereka mandiri di negeri orang, kalau mau cari tiket murah keliling Eropa para mahasiswa ini akan turun tangan melalui internet. Ari, Kang Agrar, Taufik Ramadhan dan Hesa Adrian Kaswanda.

Berbagai tokoh menjadi kawan akrab Agrar, misalnya jurnalis senior Dr. Nasir Tamara maupun Salim Said Ph.d ketika hendak bertemu dengan Kapten Westerling, si pembantai rakyat Sulsel, menginap di rumah Agrar. Maupun Batara Simatupang Ph.d, adik Jenderal TB Simatupang, teman belajarnya Emil Salim, Saleh Affif ketika di UI.

“Sekarang saya yang mengunjungi Pak Batara, karena dia sudah sepuh dan gak bisa kemana-mana seperti dulu,” tutur Agrar, tentang Batara, ekonom sosialis yang terpaksa menjadi pelarian karena dituduh PKI oleh rezim Orba dan terpaksa tak bisa kembali ke tanah airnya.

Agrar Sudrajat paham dengan tokoh-tokoh sejarah Belanda yang berhubungan dengan Indonesia. Agrar (berdiri) di makam Westerling.

Agrar Sudrajat paham dengan tokoh-tokoh sejarah Belanda yang berhubungan dengan Indonesia. Agrar (berdiri) di makam Westerling.

Hege Wolland, foto model ramping asal Norwegia yang beribu Purwokerto dan penikmat cumi goreng kering juga menjadi tamu rutin di rumah ini. Hege yang wajahnya akrab di berbagai majalah mode internasional, memilih tinggal di rumah sederhana Kang Agrar ketimbang menginap di hotel berbintang.

“Hege seneng tidur di rumah ini, karena lebih nyenyak tidurnya,” tuturnya dalam bahasa Indonesia fasih.

Agrar Sudrajat menjadi kontributor CNN Indonesia, ketika liputan bulan Ramadhan di Belanda. (Foto: Ist)

Agrar Sudrajat menjadi kontributor CNN Indonesia, ketika liputan bulan Ramadhan di Belanda. (Foto: Ist)

Bagi penonton televisi Indonesia, wajah Kang Agrar juga kerap muncul di layar kaca bilamana diminta ada peristiwa di Belanda berhubungan dengan konteks Indonesia. Ia menjadi kontributor beberapa stasiun televisi.

Kesederhanaan dan keramahtahaman ini, sangat terasa dalam hidup kami selama di Amsterdam. Saya jadi teringat filosofi Si Kabayan ketika menggambarkan sifat Kang Agrar dan Wa Atik.

Geus Teu Nanaon Ku Nanaon

(Tidak terpengaruh oleh apa-apa. Sehari-hari si Kabayan hidup dengan gembira, tak pernah dikhawatirkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi dan hiruk pikuk kehidupan. Kemalangan tak membuatnya bersedih, dan kegembiraan tak membuatnya euforia). Hendrata Yudha, Amsterdam.

 




Loading Facebook Comments ...