Search

Menteri Agama Lukan Hakim Syaifuddin Minta Umat Menjaga Tokoh Agama dan Tempat Ibadah

Menteri Agama Lukman Hakim Syafuddin
Menteri Agama Lukman Hakim Syafuddin

Jakarta, reportasenews.com- Peristiwa tindak kekerasan yang  terjadi beberapa kali di rumah ibadah dan mengakibatkan terlukanya pemuka agama, seakan belum berhenti. Awalnya beberapa pekan lalu KH Umar Basri, ulama Cicalengka, Jawa Barat yang diserang hingga mengalami luka berat. Kemudian pada Kamis (1/2/2018) sekitar pukul 04.00 WIB  Ustad R Prawoto, ulama yang juga komandan Brigade Persis diserang saat berada  di kediamannya di Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kidul, Bandung, Jawa Barat. Dan Minggu (11/2/2018) pukul 07.30 terjadi lagi tindak kekerasan, kali ini terjadi di  Gereja Santa Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta yang mengakibatkan beberapa umat yang sedang menghadiri misa terluka, begitu pula dengan Pastor Karl-Edmund Prier SJ.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin geram menanggapi sejumlah kekerasan terhadap pemuka agama yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Menag mengecam peristiwa penyerangan terhadap tokoh agama dan meminta aparat segera menindak para pelakunya sesuai ketentuan yang berlaku.

“Peristiwa tindak kekerasan terhadap sejumlah pemuka agama belakangan ini dibeberapa tempat, bahkan terjadi di rumah ibadah, adalah perilaku yang tak bisa dibenarkan sama sekali, atas dasar alasan apapun juga. Kita berharap aparat penegak hukum mampu mengungkap motif di balik semua itu,” tegas Menag di Jakarta, Minggu (11/2/2018).

Lebih lanjut Menag Lukman mengajak umat beragama untuk menyerahkan pengusutan kasus-kasus tersebut kepada yang berwajib. Lebih dari itu, Menag berharap umat juga dapat saling menahan diri dan tidak terprovokasi untuk melakukan tindakan main hakim sendiri.

“Mari kita tingkatkan kewaspadaan dalam mengamankan rumah ibadah dan pemuka agama, utamanya saat kegiatan keagamaan berlangsung,” pesannya.

Lukman mengaku telah menugaskan jajarannya, para Kepala Kanwil Kemenag Provinsi dan Kepala Kankemenag Kabupaten dan Kota untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam memperkuat kerukunan antar umat beragama.

“Saya minta Kanwil dan Kankemenag untuk segera berkoordinasi dengan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) setempat guna mengambil langkah proaktif dan strategis dalam menguatkan kerukunan umat,” tandasnya.

Menurut Menag, peran Kanwil dan Kankemenag bersama FKUB penting dalam menyosialisasikan sikap dan pandangan tokoh agama terkait enam rumusan etika kerukunan.

“Saya minta Kanwil dan Kankemenag berada pada garda terdepan dalam sosialisasi dan implementasi enam rumusan etika kerukunan tersebut,” tandas Menag.

Seperti diketahui, sekitar 250 tokoh agama dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa pada Sabtu (11/2/2018). Mereka merumuskan enam sikap dan pandangan terkait etika kerukunan antar umat beragama. Rumusan itu juga sudah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

Berikut ini enam rumusan Pandangan dan Sikap Umat Beragama tentang Etika Kerukunan Antar Umat Beragama:

  1. Setiap pemeluk agama memandang pemeluk agama lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan saudara sebangsa.
  2. Setiap pemeluk agama memperlakukan pemeluk agama lain dengan niat dan sikap baik, empati, penuh kasih sayang, dan sikap saling menghormati.
  3. Setiap pemeluk agama bersama pemeluk agama lain mengembangkan dialog dan kerjasama kemanusiaan untuk kemajuan bangsa.
  4. Setiap pemeluk agama tidak memandang agama orang lain dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mencampuri urusan internal agama lain.
  5. Setiap pemeluk agama menerima dan menghormati persamaan dan perbedaan masing-masing agama dan tidak mencampuri wilayah doktrin/akidah/keyakinan dan praktik peribadatan agama lain.
  6. Setiap pemeluk agama berkomitmen bahwa kerukunan antar umat beragama tidak menghalangi penyiaran agama, dan penyiaran agama tidak menggangu kerukunan antar umat beragama. (tjg/win)



Loading Facebook Comments ...