Search

Menyusuri Jalanan Kota Romantis Paris

Istana Louvre yang cantik dan anggun, saksi keindahakan Kota Paris yang mempesona turis mancanegara. (foto-foto: Hendrata Yudha)
Istana Louvre yang cantik dan anggun, saksi keindahakan Kota Paris yang mempesona turis mancanegara. (foto-foto: Hendrata Yudha)

Paris, Perancis, reportasenews.com-Jalan-jalan dengan model backpacker-an, membawa kami menuju Paris. Di kota ini salah satu ikon wisata yang menarik minat, ya gak lain Menara Eiffel. Kalau saya sih memilih ke Museum Louvre, wahana legendaris yang sarat makna tentang nilai-nilai kemanusiaan dan keindahan seni yaitu lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci.

Pemilihan lokasi pertama yang akan kami kunjungi itu, sudah menjadi bahan diskusi serius antara saya dan istri, Ari, ketika naik bis dari Terminal Bis Eurolines Duivendrecht, Amsterdam, Belanda.  Sebagai wanita yang terbangun oleh imajinasinya oleh film-film romantis, Ari membayangkan Menara Eiffel itu tempat paling romantis bersama pasangan yang hendak berumah tangga.

Namun karena kami sudah hampir dua dekade menikah, jadi apanya lagi yang romantis ketika melihat Eiffel, menara yang dibuat dari besi?

Dengan bantuan Taufik Ramadhan, urang Bandung yang sudah tinggal lama di Amsterdam, mengutak-ngatik internet mencari paket rabat, kami mendapatkan harga tiket diskon bis Amsterdam ke Paris dengan harga murah cuma 19 Euro atau Rp 309.000 (1 Euro = Rp 16.300)  per orang. Harga yang cukup murah, mengingat jarak Amsterdam-Paris itu cukup jauh 450 km.

Perjalanan malam selama delapan jam dengan bis antar kota yang canggih, tak terasa lelahnya sebab kualitas kendaraannya yang nyaman dan lancarnya jalan tol antara negara tersebut. Di dalam bus itu, diskusi masih berlanjut mengapa kita harus ke Paris dan lokasi wisata mana yang paling prioritas masih terus berlanjut.

Mangsa dan Predator

Subuh-subuh ketika sampai di Terminal Bus Gallieni, Paris Timur, kami sudah dihadapkan ada realitas Kota Paris sesungguhnya yang tak seindah cerita di film-film. Ini adalah kota pariwisata kelas dunia, sementara kondisi ketimpangan sosial antara masyarakatnya sangat tinggi. Kaya dan miskin, ya menjadi satu.

Kawasan Gallieni di daerah La Defensia, atau daerah pinggiran bukan dihuni para orang kaya. Di sini semi sub urban, banyak warga Paris kulit berwarna dan pendatang asing tinggal di kawasan ini.

Hotel tempat kami menginap di pinggiran Paris, murah untuk backpakeran dan mudah dijangkau karena letaknya dekat dengan Stasiun Metro Gallieni.

Hotel tempat kami menginap di pinggiran Paris, murah untuk backpakeran dan mudah dijangkau karena letaknya dekat dengan Stasiun Metro Gallieni.

Atik Sosiawati Sudrajat, induk semang selama kami di Amsterdam sudah wanti-wanti sejak sebelum kami pergi meninggalkan Amsterdam.

“Hati-hati jangan pernah lengah di Paris, banyak bajing loncat dan pencopet berkeliaran,” pesan Wa Atik, begitu biasa kami panggil.

Benar saja Paris bukan kota yang ramah bagi pelancong backpacker, beberapa orang kulit hitam legam tak pernah lepas mengawasi barang bawaan kami. Mata mereka melotot seperti hendak menerkam mangsa, mencari-cari kelengahan buruannya ketika kami berjalan dalam pagi yang masih gelap itu berusaha menemukan hotel yang sudah dipesan.

Perlu keberanian untuk menunjukkan kepada para predator itu bahwa kami bukan mangsa yang mudah, memasang wajah keras dan sesekali bersuara keras dengan mata setengah melotot jadi hal yang perlu dipelajari.

Agak bete juga pertama kali datang ke sini, kami tidak bertemu wajah pelaki pariwisata kelas dunia yang warganya ramah dan murah senyum.

Menjadi manusia berkulit sawo matang di Paris, bukan pilihan yang mudah. Semangat revolusi Perancis Liberte (kebebasan),  Egalite (persamaan) dan Fraternite (persaudaraan) sesaat tiba di Paris bagi saya, sudah kehilangan makna yang sesungguhnya. Kami tidak percaya siapapun. Lebih baik mempelajari peta wisata secermat mungkin, dan mencari informasi dari google bagaimana menggunakan moda transportasi yang murah dan aman.

Kereta Bawah Tanah

Beberapa literatur yang kami baca, sistem kereta api bawah tanah Metro di Paris paling lengkap dan maju karena hampir semua penjuru Paris dapat ditempuh. Harga tiket Metro, jauh dekat 1.90 Euro (Rp 30.000), boleh naik berganti kereta kemanapun kita hendak turut asal masih dalam kawasan dalam kota Paris. Setiap jalur dinamakan dengan M1 hingga M 12 dengan beragam warna, ada jalur persimpangan di atas dan di bawah tanah.

Uniknya sistem tiket yang canggih ini, karena relatif jarang ada petugas kereta yang kelihatan batang hidungnya, cuma memerlukan karcis masuk saja sementara keluar stasiun kereta tidak ada lagi pemeriksaan. Lebih canggih sistem perkerataapian di Jabodetabek.

Suasana di dalam kereta bawah tanah Metro Paris, jangan lengah dan takut dengan tatapan mata orang berkulit gelap.

Suasana di dalam kereta bawah tanah Metro Paris, jangan lengah dan takut dengan tatapan mata orang berkulit gelap.

suasana di dalam terowongan kereta metro paris

Ketika hendak mengunjungi Eiffel, saya memutuskan mengambil jurusan M3 Gallieni-Trocadero yang paling dekat ke jantung Paris. Di Loket Stasiun Gallieni saya pesan 2 tiket malah disambut senyum kecut petugas loket wanita negro gendut berambut jabrik. Dia hanya menulis 6 Euro untuk 2 orang di mesin kasnya, dan tidak bicara banyak. Belakangan saya tahu harga tiket ternyata hanya 1.90 Euro per orang.

Penasaran dengan sistem Metro ini, membuat saya mengamati dengan seksama bagaimana kebiasaan warga Paris.

Setelah beberapa kali naik Metro, saya baru menyadari jika mau bandel dikit, ternyata gak usah beli tiket Metro juga bisa naik gratis. Saya lihat beberapa orang Parisien berkulit gelap, pede aja melewati gerbang masuk stasiun yang tak tertutup tanpa perasaan bersalah tidak membeli karcis.

Namun Ari melarang saya nekat naik Metro tak beli karcis, seperti zaman KRL sebelum Jonan membenahi Commuter Lines Jabodetabek.

Eiffel I am in Love

Kenapa Paris dijuluki kota romantis? Karena ada Menara Eiffel dan banyak restoran mahal di Paris, juga artis seperti Tom Cruise yang melamar Kathy Holmes di bawah bayang-bayang menara besi itu. Begitu salah satu hasil googling saya di internet. Ah, terlalu mengada-ada saja bagaimana menghubungkan menara besi, restoran mahal dan romantisme dua sejoli?

Menara Eiffel, dianggap sebagian warga dunia tempat paling romantis.

Menara Eiffel, dianggap sebagian warga dunia tempat paling romantis.

Wanita memang tidak memerlukan logika, romantis ya romantis saja. Seperti ketika romantisme itu kembali lagi ketika Ari secara langsung melihat Menara Eiffel secara langsung, pagi itu setelah keluar dari Stasiun Metro Trocadero. Ia tak berhenti menatap struktur bangunan besi yang dibangun 1887-1889 sebagai pintu masuk Exposition Universelle, Pameran Dunia yang merayakan seabad Revolusi Perancis.

Romantisme Ari terbangun, yang tiba-tiba minta dicium di pagi itu, seperti ia teringat film Eiffel I am in Love, yang dulu sempat tenar di tanah air.

Kami tak berhenti berfoto, dengan latar belakang kemudian latar depan, berbagai sisi dan bagian-bagian bawah menara itu tentu dengan badan rapat seromantis mungkin.

Tugu Kemenangan Napoleon Bonaparte yang megah dan penuh ukiran rumit.

Tugu Kemenangan Napoleon Bonaparte yang megah dan penuh ukiran rumit.

Ada sih beberapa pasangan yang melakukan foto pra wed dari berbagai bangsa. Mereka tentu sedang dilanda romantisme dengan mengabadikan cintanya di dunia digital. Mudah-mudahan saja para pra weddinger ini, bisa langgeng pernikahannya.

Bagi saya sih, sulit membangun romantisme di bawah udara dingin 4 derajat celsius dengan perut keroncongan belum makan sedari pagi dan kurang tiduru it setelah perjalanan 8 jam dari Belanda. Jadi permintaannya dicium, seperti dalam film-film remaja terpaksa saya berikan juga dengan hanya sun di pipi saja.

Banyak lokasi asyik untuk dikunjungi, makan siang pun jadi menarik di depan Museum Tokyo, Palais de Tokyo merupakan sebuah museum seni kontemporer di Paris,

Banyak lokasi asyik untuk dikunjungi, makan siang pun jadi menarik di depan Museum Tokyo, Palais de Tokyo merupakan sebuah museum seni kontemporer di Paris,

Romantisme Paris masih belum terbentuk, dengan kehadiran para tentara dan polisi bersenjata api patroli terus menerus. Bayang-bayang serangan teroris yang menghantam kota ini berturut-turut, membuat aparat keamanan tak mau kecolongan lagi dan mereka menetapkan kondisi dalam siaga satu.

champ elysees cartier

Trotoar di Champ Elysees,jalan paling terkenal di Paris.Tempat toko-toko bermerek dan mahal memajang etalasenya.

Trotoar di Champ Elysees,jalan paling terkenal di Paris.Tempat toko-toko bermerek dan mahal memajang etalasenya.

Saya yang membawa ransel besar di punggung, tentu menjadi salah satu orang yang selalu dipelototi para tentara itu diantara ratusan orang yang lalu lalang di kaki Menara Eiffel. Masuk ke toko atau sekedar mampir ke restoran Mc D aja, ransel saya digeledah dan jaket dibuka semua oleh satpam Paris.

Bayang-bayang serangan teroris yang menghantam kota ini berturut-turut, membuat aparat keamanan tak mau kecolongan lagi dan mereka menetapkan kondisi dalam siaga satu.

Bayang-bayang serangan teroris yang menghantam kota ini berturut-turut, membuat aparat keamanan tak mau kecolongan lagi dan mereka menetapkan kondisi dalam siaga satu.

Butuh fisik prima menyusuri keindahan Paris mulai dari Eiffiel melewati sisi Sungai Seine-Marceu Avenue  ke Arc de Triomphe, kemudian pindah ke selatan menyusuri jalanan Champ Elysees sejauh 10.5 km.

Boro-boro merasakan nuansa romantis, mengunjungi berbagai lokasi wisata lain yang bertebaran di seentero Paris sambil bergandengan tangan bila hati kami meringis memikirkan kaki yang gempor

Istirahat yang cukup agar fisik prima menyusuri jalanan Paris yang melelahkan. Pejalan kaki tidak dianggap membuat kemacetan di Paris.

Boro-boro merasakan nuansa romantis, mengunjungi berbagai lokasi wisata lain yang bertebaran di seentero Paris sambil bergandengan tangan bila hati kami meringis memikirkan kaki yang gempor.  (Hendrata Yudha, Paris)




Loading Facebook Comments ...