Search

Mesjid Liberal di Jerman, Pria Wanita Shalat Campur, Imamnya Perempuan

Mesjid liberal di Jerman dibuat dengan membuat aturan baru yang berlawanan dengan Syariat Islam/ EPA
Mesjid liberal di Jerman dibuat dengan membuat aturan baru yang berlawanan dengan Syariat Islam/ EPA

Jerman, reportasenews.com – Sebuah mesjid aliran liberal dibuat di Jerman. Di mesjid ini, imamnya adalah perempuan dengan rambut “cepak”. Jemaah perempuan dan laki shalat campur jadi satu, burqa dan jilbab dilarang dipakai. Siapapun boleh gabung baik LGBT, Suni, Syiah, dan semua aliran masuk jadi satu disana.

Masjid liberal di Berlin ini kontan menarik kritik dibanyak dunia muslim. Masjid liberal baru di Berlin telah menimbulkan kegemparan.

Sunni, Syiah, Alevis, anggota komunitas LGTBQ semuanya diterima di sholat Jum’at di Masjid Ibn Rusyd-Goethe di Berlin. Organisasi tersebut telah memicu kritik sejak laporan media DW saat diresmikan oleh salah satu aktivis hak perempuan, Seyran Ates.

Surat kabar Turki pro-pemerintah Sabah menyebutnya “tidak masuk akal”. Surat kabar lain, Yeniakit, memberi label kepada Ates seorang pendukung Kurdi dari ulama Fethullah Gulen yang kontroversial. Dan Harian Pakistan mengkritik fakta bahwa wanita menjadi iman shalat jemaah.

Pria dan wanita shalat bersama, dan shalat dipimpin oleh seorang imam perempuan di atasnya. Bagi beberapa orang di dunia Muslim, itu merupakan penyimpangan.

“Mereka menciptakan agama baru, itu bukan Islam,” komentar satu pengguna DW. “Orang-orang ini tidak mengikuti agama nabi kita, mereka tidak memiliki konsep tentang agama. Kebodohan macam apa ini,” komentar lain.

Karena mesjid ini dibuat oleh aktifis hak perempuan, maka bisa diduga jika mereka membawa semangat yang sama yakni dengan menempatkan imam shalat adalah perempuan.

Konsep seorang imam perempuan tetap menjadi hal ditabukan, kata Anegay. Banyak Muslim melihat upaya semacam itu untuk meliberalisasi agama Islam dan melihat sebuah konspirasi yang dibuat oleh Barat melawan Islam.

“Jumlah Muslim yang tinggi menakutkan Eropa, dan karena itulah orang-orang Eropa mencoba memasarkan bentuk baru Islam yang sesuai dengan kehidupan di Eropa,” tulis Manhal al-Ahmad di halaman Facebook Arab DW. “Saya percaya bahwa mereka tidak akan mencapai tujuan mereka. Pada akhirnya mereka akan menyerah dan akhirnya mengerti bahwa perang melawan agama ini salah.”

Kesan masih ada di negara-negara Muslim bahwa Barat ingin memaksakan gaya hidupnya di dunia Muslim, menurut Rainer Sollich, kepala departemen online DW Arabic. “Mereka yang menentang semua gagasan reformis di dalam Islam juga memanfaatkan agenda ini,” katanya. “Ini adalah agenda yang sangat populis, berhasil, karena banyak orang di dunia Muslim melompat ke sana dan banyak yang merasa seperti itu.”

Pada hari Senin, Dar al-Ifta al-Misriyyah, badan pemerintah Mesir yang membuat putusan masalah agama atau hukum, menanggapi kontroversi tersebut, seperti yang dilaporkan oleh outlet berita Mesir Al-Shabab. “Dalam doa, segregasi gender tidak bisa dicabut,” kantor tersebut menyatakan. Kedekatan antara pria dan wanita di masjid tidak diperbolehkan, karena jelas melanggar syariah, atau hukum Islam. (Hsg)




Loading Facebook Comments ...