Search

Modus Baru, Pengamen dan Anak Punk Dijadikan Pengedar Pil Koplo

petugas-tunjukkan-ribuan-pil-koplo

PROBOLINGGO RN.COM – Ribuan Pil Koplo dan cairan kimia pengganti haeroin diamankan Satresnarkoba Polres Probolinggo Kota, dari tangan remaja tanggung AM (18) di Jalan Hasan Genggong, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Mayangan, Senin (12/9) malam. Namun sayang, dalam penangkapan tadi malam, Polisi gagal meringkus Sutomo (30) dan Ribut (35) yang saat itu sedang bersama AM. Hingga saat ini Polisi masih mengejar kedua bandar dan pengedar itu.
Selain berhasil mengamankan 301 ribu pil dextro, 73 ribu butir pil trihexipenydil, 360 ribu butir obat keras jenis Ketoroleg dan 20 cairan inject Natrium Phenytoing yang diketahui menjadi pengganti heroin, Polisi juga menyita satu unit mobil sedan nopol N410 VN, satu unit sepeda motor nopol B5540 QZ dan satu pistol jenis softgun beserta peluru tajam , yang diduga milik Ribut dan Sutomo .
“Tembakan memang tidak diarahkan ke Sutomo. Karena sekitar kejadian banyak warga. Tembakan peringatan ke atas,” kata Kapolresta AKBP Hando Wibowo , Selasa (12/9) siang di Mapolresta Probolinggo.
Lebih lanjut Kapolresta menjelasakan, motif yang digunakan Sutomo tergolong baru. Ia manfaatkan AM dalam bertransaksi untuk mengelabui polisi. AM menjaga barang yang akan diambil pembeli sedang Sutomo memantau dari jarak jauh. Yang mengambil barangnya adalah pembeli sendiri.
“Jadi barangnya ditaruh disuatu tempat, AM yang menjaga di dekatnya. Mereka khawatir barangnya hilang. Tujuan kedua, mengelabui polisi,” tambah kapolresta.
Dari keterangan Kapolresta, selain bertransaksi dengan motif baru, pengedar Sutomo menyuruh bandar Rudi merekrut pengamen jalanan dan anak punk. Para pengamen dan anak punk ini sambal bernyanyi juga mencari pembeli yang kemudian dilanjutkan bertransaksi.
Mengenai wilayah peredaran pil koplo milik Rudi, lanjut AKBP Hando WIbowo, adalah di Kota dan Kabupaten Probolinggo serta Kabupaten Lumajang.
Sementara itu, mereka yang terlibat dalam peredaran pil haram tersebut akan dijerat pasal 196 dan 196 ayat 1 Undang-undang Nomor 36 Tentang Kesehatan. Yang ancaman hukumannya 10 tahun dan 15 tahun serta denda sebesar Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar. Serta pasal 56 ayat 1 KUHP yang menyebut, barang siapa turut membantu melakukan tindak pidana diancam dengan hukuman pidana. (fiq/eh)




Loading Facebook Comments ...