Search

Moeldoko : Kapolri Jangan Lagi Ada Maaf, Tindak Saja

Kepala Staf Presiden Jenderal (purn) Moeldoko sudah berbicara kepada Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian untuk tidak memberi maaf kepada penghina dan pengancam presiden.
Kepala Staf Presiden Jenderal (purn) Moeldoko sudah berbicara kepada Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian untuk tidak memberi maaf kepada penghina dan pengancam presiden.

Jakarta, reportasenews.com-Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko melihat telah terjadinya fenomena dengan sejumlah orang yang dengan mudahnya menghina, mengancam namun saat tertangkap meminta maaf. Jenderal purnawirawan Moedoko mengatakan hal ini karena adanya rangkaian kejadian seperti ancaman pembunuhan yang akan memenggal kepala Presiden Jokowi.

Moeldoko mengaku sudah berbicara ke Kapolri Jenderal  Pol. Tito Karnavian, untuk tetap menindak tegas para pelaku seperti itu.

“Saya sudah sampaikan kepada Kapolri jangan lagi ada maaf, tindak saja. Nanti diberi maaf makin enggak tertib. Yang salah tindak, agar tidak sembarangan tata kramanya, hukumnya, ada aturan-aturannya,” ujar Moeldoko di Gedung Bina Graha Jakarta, Selasa 14 Mei 2019.

Masih segar dalam ingatan kita kasus ancaman pembunuhan kepada Presiden Jokowi dengan pelaku Hermawan Susanto (25 th). Hermawan sudah ditangkap polisi ditempat persembunyiannya di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat hanya dalam jangka waktu dua hari setelah videonya viral. Di Cirebon, Jawa Barat ada juga perkara yang menjerat Iwan Adi Sucipto, pria pembuat video provokatif yang mengadu domba TNI dengan Polri.  Video yang dibuat Iwan dengan konten akan terjadi huru hara pada tanggal 22 Mei 2019 saat rekapitulasi akhir suara Pilpres 2019. Iwan juga membuat penyesatan dengan merubah tanggal lahirnya Partai komunis Indonesia pada  23 Mei menjadi tanggal 22 Mei.

Iwan yang merupakan dosen dan mengaku juga sebagai ustadz, setelah ditangkap polisi langsung  meminta maaf kepada Kapolri dan Panglima TNI. Pada hal video dan kata-kata kasar terhadap pimpinan institusi Polri dan TNI terus beredar di dunia maya.

Menurut Moeldoko, bila rangkaian kejadian tersebut dibiarkan maka dikhawatirkan negara akan semakin kacau. Kacau karena tak menghormati simbol negara, termasuk Presiden RI.

“Kalau ini dibiarkan, nanti negara ini menjadi chaos, negara ini menjadi anarkis, negara ini menjadi tidak tertib. Negara ini harus tetap tertib enggak boleh sembarangan.” (tjg)




Loading Facebook Comments ...