Search

“Nike Pro Hijab” Dibuat Khusus Untuk Atlet Muslimah

Zahra Lari atlet muslimah Uni Emirat Arab memakai Nike Pro Hijab/ Nike
Zahra Lari atlet muslimah Uni Emirat Arab memakai Nike Pro Hijab/ Nike

Arab, reportasenews.com: Munculnya para atlet muslimah tangguh dari negara muslim yang memakai jilbab mendorong produsen apparel olahraga kakap Nike membuat kerudung khusus bagi muslimah. Namanya “Nike pro Hijab

Negara di timur tengah tampaknya makin mendorong kaum perempuannya untuk membuat prestasi dibidang olahraga. Arab Saudi sendiri tercatat ada beberapa atlet muslimah yang moncer dan mereka memakai jilbab.

Sebut saja nama Wojdan Shaherkani dari Arab Saudi, dia adalah muslimah atlet judo kakap dikelas 78 kilogram. Dia merajelela diajang judo internasional dan menjadi judoka putri terbaik dari wilayah dunia arab.

Zahra Lari, atlet ice skating dari Uni Emirat Arab selain dikenal sangat cantik, dia juga merupakan atlet skating papan atas dunia yang disegani dimedan pertandingan manapun.

Kesadaran dunia olahraga soal keharusan memakai hijab bagi atlet muslimah barangkali gong terbesarnya pada saat Olimpiade London 2012. Saat itu pelari Arab Saudi, Sarah Attar menggetarkan stadium atletik dinomer 800 m. Dia sendiri sebelumnya sudah menjadi pelari momok bagi lawannya di Bahrain sprinter Ruqaya al-Ghasra yang juga berkompetisi memakai jilbab selama Olimpiade Athena pada tahun 2004 dan di Beijing empat tahun kemudian.

“Nike Pro Hijab dirancang sebagai masukan dari atlet muslimah yang memberitahu kami jika mereka membutuhkan produk ini agar tampil lebih baik, dan kami berharap bahwa hal itu akan membantu atlet di seluruh dunia melakukan hal itu,” Juru bicara Global Nike , Megan Saalfeld kepada Al Arabiya English.

Saalfeld mengatakan, konsep awal meluncurkan jilbab atletik datang setelah salah satu atlet Emirat perempuan di Olimpiade angkat besi, atlet Amna Al Haddad mengunjungi Nike Sport Research Lab di kantor pusat global mereka di Oregon.

Haddad mengeluh bahwa ia hanya memiliki satu hijab yang dipakai untuknya, dan bahwa dia harus mencuci dengan tangan setiap malam di wastafel selama musim kompetisi.

“Dari sana, kami bekerja dengan Amna dan berbagai atlet lainnya untuk melihat apa yang mereka butuhkan dan inginkan dalam memakai jilbab. Apa yang kita dengar adalah bahwa wanita sedang mencari solusi bahan ringan dan tidak panas, ” kata Saalfeld.

Jilbab belum diterima dengan mudah dalam dunia olahraga global. Sementara atlet anggar, Ibtihaj Muhammad menjadi atlet Amerika pertama yang memakai jilbab saat berlaga di setiap pertandingan Olimpiade, banyak atlet Muslim-berjilbab lainnya menemukan diri mereka dibatasi oleh federasi olahraga yang mengatur seragam atlet mereka.

FIFA, federasi sepak bola dunia, memiliki larangan jilbab dan penutup kepala lainnya sampai kemudian menghapusnya di 2014. Lalu tercatat FIBA, federasi bola basket internasional, masih memiliki larangan atlet mereka memakai jilbab.

Pembatasan tersebut yang disorot ketika atlet wanita Arab Saudi di pertandingan Judo Olimpiade hampir dibatalkan dari pertandingan karena soal masih memperdebatkan apakah jilbab Wojdan Shahrkhani ini dapat menimbulkan risiko fisik.

Juru bicara International judo Federasi Nicolas Messner mengatakan pada saat itu jilbab bisa berbahaya karena olahraga yang terlibat kotak fisik yang cukup keras dan berbahaya. (HSG)

 

 




Loading Facebook Comments ...