Search

Pantang Pulang Sebelum Corona Tumbang

Letnan Kolonel (P) Drg Muhammad Arifin Sp.Or, Komandan Lapangan Cobra Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. (foto.dolok)

Jakarta, reportasenews.com– Pada Selasa (15/09/2020) lalu, saya bersama rekan fotografer mendapat kesempatan berkenalan dengan Komandan Lapangan Cobra RS Darurat Covid 19 Wisma Atlet Letkol (P) Drg Muhammad Arifin Sp.Or.

Di halaman samping Tower 2 Wisma Atlet di Jakarta Pusat, saya memulai obrolan seputar keterlibatan Letkol (P) M. Arifin dalam Percepatan Penanggulangan Covid 19. Keterlibatannya dalam Percepatan Penanggulangan Covid-19, sangat mengesankan.

“Ini tugas mulia. Saya merasa terhormat, karena dipercaya memimpin tugas mulia ini,” kata Letkol (P) Muhammad Arifin membuka pembicaraannya siang itu.

Memang sudah tidak disangsikan lagi M. Arifin mengemban tugas untuk kemanusiaan ini. Dari tour of duty di dinas militer, M. Arifin selalu terlibat dalam Satuan Tugas Kemanusian. Di antaranya musibah Tsunami di Aceh Tahun 2004. Turut dalam tim identifikasi korban pesawat Sukhoi pada Mei 2012. Mengevakuasi warga Indonesia dari Kota Wuhan, China 2020.

“Setibanya di Indonesia, 245 orang yang diduga terpapar virus Covid 19 langsung dibawa ke Pulau Batam. Tugas selanjutnya yaitu, menghentikan aktivitas anak buah kapal (ABK) kapal pesiar Worl Dream, Februari 2020,” Kata M. Arifin.

Ada 188 warga Indonesia sebagai ABK di kapal World Dream tersebut. Mereka kemudian dipindahkan dari kapal World Dream ke kapal KRI Suharso di perairan internasional, tak jauh dari Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Selanjutnya, 188 ABK ini dikarantina di Pulau Sebaru Kecil, yang merupakan gugusan Kepulauan Seribu. Pulau itu adalah bagian dari Kabupaten Administrasi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Letkol M. Arifin (kanan) selaku Komandan Lapangan RSDC Wisma Atlet bersama Mayjen Tugas Ratmono (kiri) selaku Koorninator Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. (foto.dolok)

“Ada pengalaman menarik dengan salah seorang ABK. Orang ini mengancam untuk bunuh diri. Saya coba pendekatan manusiawi. Dan saya mengerti bagaimana tingkat stresnya pasien ini karen rapid testnya masih terus positif. Setelah saya lakukan pendekatan, alhamdulilah ABK itu mau meneruskan perawatan medis,” kenang M. Arifin.

Penanda Percepatan Penanggulangan Covid-19 berikutnya adalah ketika pemerintah pada Selasa (03/03/2020), menyatakan akan membangun RS Corona di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Selanjutnya, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, “disulap” menjadi RS Darurat Covid-19, yang beroperasi, sejak Senin (23/03/2020). Lebih lanjut M. Arifin menceritakan, RS Corona di Pulau Galang merupakan fasilitas observasi, penampungan dan karantina untuk pengendalian Covid-19. Secara resmi RS Corona ini beroperasi pada Senin (06/04/2020).

Letkol (P) M. Arifin  memang memiliki kompetensi dalam menjalankan setiap Satuan Tugas mulia selain perang. Dan hingga kini M.Arifin tercatat sebagai Komandan Batalyon Kesehatan I Marinir Cilandak, Jakarta Selatan.

Ada cerita lucu diawal berdirinya RSD Covid 19 Wisma Atlet yang mengharuskan perwira menengah Korps Marinir ini memperbaiki mesin pendingin ruangan yang rusak dan mengurus saluran air yang mampet.

“Dalam kondisi darurat, kendala harus bisa diatasi dengan cepat. Sebagai Komandan Lapangan, saya tak mungkin menunggu teknisi, karena situasinya darurat,” ungkap M. Arifin tentang komitmennya melaksanakan tugas kemanusiaan tersebut.

“Ini tugas mulia. Saya merasa terhormat, karena dipercaya memimpin tugas mulia ini,” ujar M. Arifin di halaman  RSDC Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat yang teduh karena rimbunnya pepohonan.

Tower 5 Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. (foto.dik)

Sampai saat ini sudah 7 Tower di RS Darurat Covid 19 yang berfungsi, sedangkan Tower 5 adalah yang tower terbaru yang dipersiapkan untuk menampung pasien Orang Tanpa Gejala (OTG). Dan saat wawancara ini,  beberapa kali diinterupsi oleh deringan telepon masuk. Sebagai Komandan Lapangan disituasi darurat demikian, tentu banyak laporan yang masuk kepadanya.

Semua membutuhkan keputusan cepat dan tepat. Disatu kesempatan, M. Arifin pamit menuju Tower 2 RSDC Wisma Atlet, karena ada hal mendesak yang tak mungkin ia tunda. Setelah ia kembali, wawancara pun dilanjutkan.

Pada kesempatan berikutnya, M. Arifin pamit lagi, menuju Tower 7 RSDC Wisma Atlet. Kali ini, ia menggowes sepeda warna kuning.

Letkol M. Arifin saat memantau kawasan RSDC Wisma Atlet dengan mengendarai sepeda. (foto.dolok)

Sepeda tersebut adalah alat transport M. Arifin dalam kawasan RSDC Wisma Atlet. Sebagai gambaran, Wisma Atlet itu dibangun di atas tanah seluas 10 hektar, terdiri dari 10 tower. Total luas area bangunan Wisma Atlet mencapai 468.700 meter persegi. Memang, tidak semua tower digunakan untuk RSDC Wisma Atlet.

Tapi, itu untuk mendapatkan gambaran, betapa sepeda itu dibutuhkan M. Arifin untuk mempercepat gerak dari tower yang satu ke tower yang lain. Di sepeda itu, digantungkan label bertuliskan “Cobra” dengan dasar hitam dan tulisan putih. Apa maksudnya? M. Arifin menuturkan, cobra itu mengacu ke nama ular. Kita tahu, gambar ular selalu ada disetiap logo apotek diseluruh dunia.

Beberapa literatur menyebutkan, ular yang dimaksud adalah ular milik Aesculapius atau Asclepius, seorang dewa yang dikenal sebagai dewa pengobatan dan penyembuh dalam mitologi Yunani. Nah, spirit untuk menyembuhkan itulah yang terus digelorakan oleh Muhamad Arifin kepada seluruh pemangku kepentingan di RSDC Wisma Atlet.

Muhamad Arifin melaksanakan tugasnya dengan sepenuh jiwa-raga. Ia menempatkan tugas ini sebagai tugas mulia, tugas kemanusiaan. Baik sebagai seorang dokter gigi spesialis orto, maupun sebagai militer.  Letnan Kolonel (P) Muhamad Arifin berupaya sepenuhnya agar para pasien kembali pulih. Dari serangkain tugas kemanusian, hingga pendirian RSDC Wisma Atlet ini, Muhamad Arifin menilai, Covid-19 adalah bagian dari sejarah bangsa-bangsa di dunia. Termasuk, bagian sejarah Indonesia.

Ia berharap, agar seluruh warga berupaya secara sungguh-sungguh menghadapi pandemi Covid-19 ini. “Kita harus menghadapinya secara bersama-sama, dengan membangun solidaritas bersama. Antara lain, dengan menjaga kesehatan diri, supaya tidak tertular dan tidak menulari,” ungkap Muhamad Arifin, yang sudah dua tahun menjadi Komandan Batalyon Kesehatan I Marinir Mako Cilandak.

Untuk menjaga kekompakan tim di RSDC Wisma Atlet, Muhamad Arifin secara intensif menggalang komunikasi dengan semua unsur yang terlibat dalam operasional. Baik dari kalangan TNI, Polri, Kemenkes, dan para relawan. Mereka secara bersama-sama bertekad: Pantang Pulang Sebelum Corona Tumbang.

Muhamad Arifin menuturkan, dibutuhkan pengendalian diri yang kuat, untuk menjalankan tugas dalam konteks Percepatan Penanggulangan Covid-19 tersebut. Karena, karakter pasien sangat beragam. Ada yang selalu protes, karena harus menjalani swab test berkali-kali. Ada pula yang tidak sabar ingin segera pulang, padahal belum pulih.

Selaku Komandan Lapangan, Muhamad Arifin menekankan kepada semua unsur yang terlibat dalam operasional, agar tak terpancing menghadapi berbagai perilaku pasien tersebut. “Tugas kami adalah melayani pasien, agar proses perawatan berlangsung maksimal. Karena, ini bukan hanya menyangkut nyawa pasien tersebut, tapi sekaligus menyangkut keselamatan orang lain,” tukas Muhamad Arifin dengan penuh semangat.(EH/IK)




Loading Facebook Comments ...