Search

Pasca Reformasi, Masih Relevankah Memekikkan Merdeka atau Mati ?

foto. ilustrasi

Oleh: Kombes Dr Chrysnanda DL

JAKARTA, REPORTASE – Tugas generasi pasca kemerdekaan akan lebih berat ,karena melawan bangsa sendiri dari  kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, mafia-mafia birokrasi, kelompok-kelompok aman dan nyaman yang mempertahankan kolusi, korupsi, nepotisme (KKN) dan berbagai hak istimewa baginya.
‎
Setiap zaman ada orangnya, setiap orang ada zamannya. Di era pasca reformasi tatkala masih memekikkan “merdeka atau mati” muncul pertanyaan relevankah ?

Republik ini sudah mengalami beberapa era, dari pra kemerdekaan, masa kemerdekaan, refolusi fisik, orde lama, orde baru, reformasi. Pasca Reformasi apa yang semestinya ditumbuh kembangkan di era digital ?

Di era digital, rasionalitas, logika, peradaban, pencegahan, kemitraan, pelayanan prima, upaya-upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat,  modernitas dan banyak hal lain yang membuat harkat dan martabat bangsa ini semakin meningkat atau menjadi semakin baik.
‎
Masihkah kita mudah dan mau diadu domba ? Relakah bangsa ini diadu domba ? Maukah diperbudak oleh kaum-kaum aman, nyaman dan mapan yang interest mempertahankan status quo, dan berbagai hak istimewanya ? Marahkah kita bila ada pemimpin yang ingin memberants KKN dan mafia-mafia birokrasi ? Banggakah bila menyelesaikan masalah dengan anarkisme ? Bahagiakah bila banyak orang menjadi ketakutan, penuh kekhawatiran dan trauma ? Banggakah  bila menabur kebencian dan memamerkan ketololan-ketololan ? Malukah kita bila membiarkan hukum diinjak-injak dan dilecehkan karena  keroyokan-keroyokan ? Pahlawankah mereka yang merusak tatanan sosial dan memecah belah bangsa ? Masih beranikah kita melawan kaum penghasut yang anarkis ? Masih punya nyalikah kita mencintai bangsa ini? ‎
‎
Ribuan pertanyaan lagi mungkin bisa dilontarkan untuk sebuah kewarasan bagi kita semua untuk menyadarkan dan memotivasi kita semua untuk berani dan semakin bangga menunjukkan sebagai bangsa yang beradab.

Peradaban dibangun dengan logika dan nalar yang sehat yang mampu memprediksi, mengantisipasi dan memberi solusi bagi kesalahan di masa lalu, siap di masa kini serta menyiapkan masa depan yang lebih baik.

Kekuatan sebuah bangsa tatkala mampu menghalau ketololan, menyelesaikan konflik dengan cara-cara beradab, bernyali lepas dari candu-candu KKN, malu‎ untuk melakukan anarkisme, sadar untuk  mencintai dan menjaganya dengan berbagai prestasi dan keunggulan, menunjukkan peningkatan kualitas hidup rakyatnya, mampu memberdayakan sumber daya yang ada demi harkat dan martabat bangsa, para pemimpinya berani berkorban dan dikorbankan untuk mewujudkan hal-hal yang tertulis sebelumnya.

Para pemimpin di semua lini mampu menjadi ikon bagi perubahan yang peka dan peduli untuk semakin memanusiakan rakyatnya. Di mana rakyatnya merasa aman, nyaman, terlindngi,terayomi dan terlayani dengan baik sehingga menjadikan solidaritas bagi bangsa, negara yang beradab.‎ (Redaksi)




Loading Facebook Comments ...