Search

Pasca Tragedi Christchurch, PM Ardern akan Ubah Undang Undang Kepemilikan Senjata

Senjata yang digunakan pelaku penembakan di Christchurch, Selandia Baru. (Foto. Ist)
Senjata yang digunakan pelaku penembakan di Christchurch, Selandia Baru. (Foto. Ist)

Jakarta, Reportasenews.com – Banyaknya  korban berasal dari berbagai warga negara  akibat penembakan brutal di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, Juamat lalu mebuat Pedanan Menteri  Jacinda  Ardern geram.

Korban diantaranya berasal dari Pakistan, Turki, Arab Saudi, Bangladesh, Indonesia dan Malaysia. Setidaknya dua warga negara Yordania tewas dan lima lainnya cedera dalam penembakan itu.
Seorang anak perempuan berusia lima tahun bahkan terluka parah dan menjalani operasi  dalam kondisi kritis.

Ardern  berjanji untuk mengubah undang-undang senjata. Penembak memiliki lisensi senjata yang diperoleh pada November 2017, melakukan pembunuhan dengan dua senjata semi-otomatis.

“Sementara pekerjaan sedang dilakukan untuk mengarah pada  pemegang lisensi senjata ini dan kepemilikan senjata-senjata ini, saya dapat memberitahu Anda satu hal sekarang – undang-undang senjata kami akan berubah,” kata Ardern.

Sementara Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyebut pembantaian itu sebagai karya “teroris sayap kanan ekstremis yang kejam.”

Pelaku  merekam video serangan itu dan memposting manifesto yang panjang secara online dengan nama Brenton Tarrant. Dalam manifesto, ia mengidentifikasi dirinya sebagai orang kulit putih, lahir di Australia, dan mendaftar nasionalis kulit putih yang telah menginspirasi dirinya. (dw/berbagai sumber).




Loading Facebook Comments ...