Search

Pelabuhan Dwikora Pontianak Menuju World Class Port dengan Sistem Digitalisasi

Aktifitas di pelabuhan Dwikora Pontianak. (foto:das)
Aktifitas di pelabuhan Dwikora Pontianak. (foto:das)

Pontianak, reportasenews.com – Indonesia Port Corporation (IPC) atau PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II mulai mengimplentasikan sistem roadmap Corporate di tahun 2020  yaitu menuju World Class Port dengan menerapkan sistem digital pelayanan dan jasa kepelabuhan di Pelabuhan Dwikora Pontianak.

Digitalisasi telah diterapkan di Tempat Penumpukan Peti Kemas di Pelabuhan Pontianak sehingga pelayanan dari awal sampai akhir,  dari dan ke kapal menggunakan satu sistem kontrol tower dengan sistem opus yang didukung sisi lini duanya dengan menerapkan sistem Non Peti Kemas (NPK-S). Sistem ini meliputi stuffing dan stripping yang terintegrasi dengan proses pembayaran New Billing System (NBS).
“Pelabuhan Dwikora Pontianak merupakan salahsatu yang telah menerapkan sistem digital. Meski masuk sebagai pelabuhan Sungai, namun memiliki produktivitas yang cukup tinggi sehingga di tahun 2019 ini ditarget harus menembus angka 300 ribu TEUs,” jelas General Manajer Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC Cabang Pelabuhan Pontianak, Adi Sugiri, di Pontianak, Senin (23/6/2019).
Implementasi sistem digital ini, kata Adi, bertujuan mempersingkat waktu pelayanan dan biaya operasional pelabuhan, sementara di NPK – S diterapkan sistem digital agar meningkatkan kualitas pelayanan stuffing/stripping, peningkatan efektivitas planning dan control serta efisiensi dan akurasi penyajian data dan laporan.
“Jika semua pelabuhan di Indonesia menerapkan teknologi digital dalam operasionalnya, maka akan terjadi efisiensi waktu dan biaya logistik, yang berimbas pada meningkatnya daya saing produk ekspor nasional,” terang Adi.
Penerapan sistem digital ini telah berhasil menekan biaya logistik termasuk pencegahan terjadinya pungutan liar.
“Jika selama ini kapal sering menunggu bahkan antre untuk bongkar muat peti kemas, namun dengan sistem ini justru sebaliknya dermaga atau pelabuhan yang menunggu kedatangan dan masuknya kapal  ke Pelabuhan Pontianak,” tegasnya.
Efisiensi operasional layanan kepelabuhanan tak hanya meningkatkan kinerja perusahaan, namun juga menghemat biaya operasional pengguna jasa.
Adi menambahkan, penerapan teknologi digital di terminal peti kemas Pelabuhan IPC Cabang Pontianak berhasil menekan biaya angkut kontainer hingga Rp. 2,1 juta per TEU (satuan unit kontainer ukuran 20 kaki).
Sebelum penerapan Terminal Operating System (TOS), biaya angkut kontainer mencapai Rp. 4,6 juta per TEU. Saat ini, biaya angkut kontainer di Pelabuhan Pontianak hanya Rp. 2,5 juta per TEU.
TOS adalah aplikasi digital yang digunakan untuk operasional bongkar muat kontainer, mulai dari kapal hingga kontainer diangkut ke luar pelabuhan maupun sebaliknya.
“Transformasi di Pelabuhan Pontianak kami lakukan secara bertahap sejak tahun 2015.  Sebelumnya masih manual. Khusus pengoperasian teknologi TOS di  terminal peti kemas Pelabuhan Pontianak, mulai kami terapkan sejak tahun 2017, dan hasilnya langsung terlihat,” paparnya.
Dari sisi kinerja, sistem digital ini juga langsung berimbas pada kapasitas penangan (throughput) peti kemas yang naik dari tahun ke tahun.
“Sejak tahun 2010, rata-rata pertumbuhan throughput peti kemas di Pelabuhan Pontianak naik dengan rata-rata 5,4 persen,” ujarnya.
Dengan lahan terminal peti kemas Pelabuhan Pontianak  yang tidak bertambah (tetap seluas 4 hektar), penanganan peti kemas pada tahun 2018 bisa hampir 300.000 TEUs.
Bandingkan dengan kinerja terminal peti kemas tahun 2014 yang hanya 176.906 TEUs.
Tahun 2013, lanjutnya, dwelling time (penanganan bongkar muat peti kemas) di Pelabuhan Pontianak mencapai 7 hari. Saat ini, pembenahan layanan kepelabuhanan melalui digitalisasi telah menurunkan dwelling time hanya menjadi 3 hari.
“Efisiensi ini menguntungkan pengguna jasa serta meningkatkan kinerja IPC, yang pada ujungnya memperlancar kinerja ekspor nasional,” ungkapnya.
Lebih lanjut Adi menjelaskan, salah satu aplikasi TOS terbaru yang saat ini dipakai adalah NPK Stripping & Stuffing, untuk perencanaan dan pengendalian operasi di lapangan penumpukan peti kemas. Aplikasi yang baru digunakan Februari 2019, penanganan peti kemas meningkat dari 36 box per jam menjadi 49 box per jam.
Diakhir penjelasannya, Adi mengatakan Pelabuhan Pontianak yang masuk sebagai pelabuhan Sungai dengan produktivitas tinggi ini sangat tergantung pada tiga faktor yakni pertama adalah alur pelayaran yang harus dijaga bersama dengan regulator dengan menjaga kedalaman sungai dengan pengerukan, yang kedua adalah harus menjaga sistem di darat atau sistem TOS ini harus terawat dan terjaga baik agar tidak ada masalah saat dalam pelayanan, dan yang ketiga adalah kesiapan alat bongkar muat maupun alat pendukung bongkar muat serta operator yang ada.
“Jadi tiga hal ini tersebut harus kita pastikan berjalan dengan baik,” tutupnya. (das)



Loading Facebook Comments ...