Search

Pembantu Indonesia di Singapura Belajar Bahasa Code

TKI ikut kelas bahasa coding gratis di Singapura/ SCMP
TKI ikut kelas bahasa coding gratis di Singapura/ SCMP

Singapura, reportasenews.com – Sekelompok TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Singapura mengikuti kursus gratis untuk menjadi web builder dengan belajar membuat bahasa coding. Mereka akhirnya bukan saja menjadi PRT yang terampil, tapi juga jagoan sebagai web builder.

Jamilah belajar bahasa pemrograman seperti HTML dan CSS yang diberikan gratis selama kursus delapan minggu belajar coding bagi pembantu rumah tangga yang disediakan oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Badan ini berencana untuk memperluas program, diluncurkan di Singapura pada bulan Januari, nantinya akan ke Hong Kong akhir bulan ini, kemudian ke Malaysia, Taiwan dan Arab Saudi.

Untuk memenuhi jadwal yang ketat pelayan, kelas diadakan setiap hari Minggu 10:00-01:00. Di Singapura, permintaan untuk ikut serta dalam kursus ini begitu tinggi akibat animo para TKI disana.

“Saya sangat tertarik untuk belajar bagaimana menyusun kode,” kata Jamilah. “Saya berharap untuk memiliki usaha sendiri ketika saya kembali ke Jawa Tengah dan menggunakan website untuk memasarkan produk saya dan membawa lebih banyak pelanggan dari internet.”

Indonesia memiliki tenaga kerja sekitar 125 juta orang, 60 persen di antaranya tidak bisa melewati sekolah menengah atau sekolah tinggi, menurut Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri.

Siswa diharapkan untuk membawa laptop mereka sendiri ke kelas, dan ini menimbulkan masalah bagi Jamilah ketika komputer tuanya yang telah rusak. “Jadi aku membeli sebuah merek laptop baru Dell dengan harga lumayan mahal Sing $ 499, atau gaji satu bulan. Tapi itu worth it.”

Jamilah berusia 41 tahun mengatakan ia bersyukur memiliki majikan yang sangat memahami kemauannya mengambil kursus. “Bos saya bahkan membantu download GitHub bagi saya,” itu adalah salah satu platform pengembangan perangkat lunak paling populer.

Dengan memajukan keahlian dari pembantu seperti Jamilah, Indonesia bertujuan untuk memberdayakan pekerja TKI dengan keterampilan kewirausahaan yang akan membantu mereka mendirikan usaha setelah mereka kembali ke rumah.

Sekitar sepertiga dari enam juta buruh migran Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat-tempat seperti Singapura, Hong Kong, Taiwan dan Timur Tengah.

Pada 2015, para pekerja migran Indonesia mengirimkan uang US $ 9,4 miliar ke kampung halamannya, menurut data resmi. Namun, setelah mereka kembali ke rumah, kurangnya keterampilan kerja membuat mereka kesulitan mendirikan bisnis mereka sendiri.(Hsg/ SCMP)




Loading Facebook Comments ...