Search

Pengedar Kubur Sabu dan Ribuan Ekstasi di Kawasan Hutan Angker

Untuk mengelabui petugas, pengedar jaringan Malaysia ini juga mengemas sabu dalam 50 bungkus teh china. (Ist)
Untuk mengelabui petugas, pengedar jaringan Malaysia ini juga mengemas sabu dalam 50 bungkus teh china. (Ist)

Jakarta, reportasenews.com – Berselang sepekan setelah membongkar sindikat internasional narkoba jalur Malaysia – Aceh – Medan, Satgas Narcotics International Center (NIC) Bareskrim Polri kembali mendapat ‘tangkapan’ besar.

Satu jaringan internasional narkoba jenis sabu jalur Malaysia – Sumatera berhasil tuntas diputus dengan barang bukti 50 bungkus teh china berisi kristal putih yang diduga kuat sabu seberat 50 kg.

Selain sabu, juga didapat barang bukti 15 ribu butir ekstasi, satu bungkus pil happy five (H-5) dan empat unit telepon selular.

“Pengungkapan kasus membongkar jaringan sindikat ini adalah hasil penyelidikan intensif aparat NIC selama lebih kurang sebulan,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Eko Daniyanto di gedung Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Jakarta Timur, Senin (4/2/2019).

Dituturkan, pengungkapan kasus ini bermula dari penangkapan tersangka berinisial RM alias IY di rumahnya di kawasan Teluk Nibung, Tanjung Balai, Sumatera Utara, Minggu (27/1/2019).

BACA JUGA:

  • NIC Bareskrim Polri Bongkar Jaringan Narkoba Internasional

Dalam pemeriksaan, tersangka yang sudah lama diintai akhirnya mengaku sebagai pengendali pengangkutan dan pengambilan narkoba jenis sabu, ekstasi, dan H-5 dari perairan Labuhan Batu, Sumatera Utara.

“Untuk aktivitas pengambilan dan pengangkutan dilakukan adik tersangka yang berinisial AS bersama rekannya yang masih kita buru,” kata Eko.

Tersangka AS berhasil dibekuk tim Satgas NIC pada Selasa (28/1/2019) di dalam bus PO Chandra yang berhenti persis di depan Mapolsek Kualuh Hulu, Labuhan Batu, Sumatera Utara.

Eko menambahkan, selain berperan sebagai pengendali pengangkutan dan pengambilan narkoba dari tengah laut, tersangka RM alias IY juga berperan sebagai penyedia atau pemilik kapal untuk mengangkut dan mengambil narkoba.

“Jadi, RM alias IY adalah otak dari aktivitas ini,” ujar Eko.

“Ia yang mengatur pertemuan waktu kapal atau ship to ship, menentukan titik koordinat pertemuan kapal, serta menentukan tempat penyimpanan narkoba,” lanjutnya.

Sedangkan tersangka AS,  Eko meneruskan, perannya lebih seperti kacung atau pesuruh. “Seluruh barang bukti sindikat ini kita temukan terkubur dalam lumpur di kawasan hutan bakau yang dianggap keramat atau angker oleh penduduk setempat. Dan, ini adalah ulah AS atas perintah RM alias IY,” kata Eko.

Seluruh narkoba tersebut, berdasarkan pengakuan kedua tersangka, diperoleh dari seorang warga Malaysia dan didatangkan dari Penang, Malaysia.

“Kami sedang buru si pemberi narkoba yang orang Malaysia. Termasuk juga teman AS yang mengangkut dan mengambil narkoba dari tengah laut,” demikian Eko Daniyanto.

Kedua tersangka, RM alias IY dan AS, yang tak lain adalah kakak-beradik dijerat penyidik dengan pasal berlapis.

Jeratan primair kedua tersangka dikenakan Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 UU Nomot 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati. Sedangkan jeratan subsidair, keduanya disangkakan Pasal 112 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal penjara seumur hidup. (Bem/Sir)




Loading Facebook Comments ...