Search

PUPR Depok Buang Lumpur dan Sampah Situ Pedongkelan Dekat Pemukiman Warga

Tumpukan sampah pemukiman pengerukan situ dibuang di dekat pemukiman warga RW 05 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. (foto:ltf)
Tumpukan sampah pemukiman pengerukan situ dibuang di dekat pemukiman warga RW 05 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. (foto:ltf)
Depok,reportasenews.com – Tumpukan lumpur yang bercampur sampah beserta bangkai ikan dari proyek pengerukan lumpur Situ Pedongkelan mengepung sejumlah pemukiman warga RW 05 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.
Ketua RW 05 Kelurahan Tugu, Sofinal Darwis mengungkapkan tumpukan lumpur bercampur sampah yang mengepung permukiman warga berawal dari pengerukan dua beko di bagian tepi situ yang dipindahkan ke lahan kosong persis di permukiman warga. Oleh karenanya, permukaan rumah warga menjadi lebih rendah dari pada tumpukan lumpur bercampur sampah.
“Rumah-rumah yang dekat situ ini seperti tenggelam dalam lumpur, ketinggian lumpur bisa mencapai empat meter atau lebih. Ini lumpur dan sampah yang diuruk dari situ. Bukannya dibuang malah ditaro di depan rumah warga,” kata Darwis, Senin (26/11/2018).
Bukan hanya bau tak sedap, tumpukan lumpur tersebut juga membuat aliran air terganggu. Bahaya terjerembab dalam lumpur yang masih basah juga mengintai, sehingga membuat orang tua harus selalu mengawasi anak-anaknya yang bermain tidak terpelosok.
“Lumpurnya masih belum kering, apalagi yang bagian tengah masih basah banget. Jika salah injak pasti langsung jeblos, makanya pada hati-hati banget kalau lagi berjalan. Anak-anak selalu diomelin kalau main di bagian yang masih basah,” ujarnya.
Dia menjelaskan, dua rukun tetangga (RT) yang mendiami di sekitar situ yakni, RT 05 dan 06 dibuat bingung dan geram lantaran ulah pengerjaan proyek Penurapan dan Normalisasi Situ Pendongkelan yang dilakukan PT.Delima Intan Abadi dari sumber anggaran Bantuan Gubernur (Bangub) Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp 3.560.509.800,00.

Meski dalam papan kegiatan proyek tertera pengerjaan dimulai dari 28 September 2018 hingga 15 Desember 2018 mendatang, dua beko yang bertugas mengeruk lumpur telah pergi sejak sepekan kemarin.

Kini papan kegiatan di bedeng tersebut berganti menjadi Penataan Sempadan Situ Pedongkelan bersumber dari bangub DKI Jakarta sebesar Rp 1.930.596.000, 00 yang dilaksanakan CV.Dwi Sakti Utama.
“Di papan proyek itu tertulis hingga 15 Desember, ini aja baru masuk bulan Desember tapi alat berat sudah tidak ada. Pendangkalan di bagian tengah aja masih buruk, lumpur dibuang ke depan rumaj warga, apa proyek ini sudah benar,” jelasnya.
Ketua RT 05, Lastini Wagino menuturkan upaya komunikasi warga, RT, RW, juru situ dan Pokdarwis Situ Pedongkelan dengan pihak kontraktor terkait pengerjaan proyek selalu tak digubris kontraktor dengan alasan yang berhak mengatur hanya konsultan proyek dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok melalui bidang Sumber Daya Air.
Sementara bidang SDA dari PUPR Kota Depok yang ambil bagian dalam proses lelang penentuan konsultan dan kontraktor nyaris tak pernah hadir di lokasi.

“Kami semua sudah ngomong baik-baik ke kontraktor, kami tanya kenapa lumpur dan sampah dibuang ke depan rumah. Tapi mereka selalu jawab kalau mereka cuman kerja, yang ngatur konsultan. Nah warga enggak tahu konsultannya di mana, orang Dinas PUPR juga enggak tahu ada di lokasi,” ujarnya.

Juru Situ Pedongkelan, Sain M. Iskandar mengatakan kontraktor kegiatan tersebut pertama kali menggali tanah di bagian depan rumah warga sekitar tiga hingga empat meter untuk membuang lumpur tersebut.

Menurutnya, pemilik tanah mengizinkan lahannya jadi tempat buangan lumpur lantaran pihak kontraktor membayar Rp 500 ribu, namun tak ada uang ganti rugi sepserpun dari kontraktor kepada warga yang sejak awal proyek sampai sekarang dikepung bau sampah.

“Tanah jadi tempat buangan lumpur ini tanah warga, pemiliknya dikasih Rp 500 ribu sebagai ganti rugi. Sebelum lumpur dibuang, tanah diuruk, diuruk sekitar empat meter lah. Setelah tanah dipinggirin baru lumpur dibuang,” ucap Sain.

Sementara Kepala Bidang SDA PUPR Depok, Citra Indah Yulianti mengaku lumpur beserta sampah yang dikeruk dari Situ Pedongkelan bukan dibuang ke depan rumah warga melainkan ke tanah milik PT Henkel dan Universitas Guna Darma. “Enggak ada yang dibuang ke rumah warga, tapi ke lokasi tanah Pabrik Henkel dan Universitas Guna Darma,” kata Citra saat dikonfirmasi melalui jejaring sosial WhatsApp. (jan/ltf)



Loading Facebook Comments ...