Search

Residivis Narkotika Puluhan Kilogram Ganja Dihukum 12 Tahun Penjara di Depok

Terdakwa usai mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Depok. (foto:ltf)
Terdakwa usai mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Depok. (foto:ltf)
Depok,reportasenews.com  – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Depok dan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok sependapat menghukum terdakwa resividis narkotika ganja seberatnya 17 kilogram atas nama Ario Jannero selama 12 tahun dan pidana denda sebesar 3 miliar subsidair enam bulan penjara.
Terdakwa Ario Jannero dihadirkan ke persidangan oleh JPU dengan dakwaan alternatif. Pertama, Pasal 114 Ayat (2) atau kedua, Pasal 111 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman pidana mati, pidana seumur hidup atau paling lama pidana penjara selama 20 tahun.
JPU Firman Wahyu Octavian, yang juga Kasi Barang Bukti dan Narkotika Kejari Depok menuntut Ario Jannero terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 111 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.Firman menuntut agar majelis hakim PN Depok yang memeriksa dan mengadili perkara ini, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 12 tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dan denda sebesar tiga milyar rupiah subsidair enam bulan penjara.

“Menyatakan barang bukti satu plastik bening kode 1 berisikan ganja seberat 5.9888 gram, satu plastik bening kode 2 berisikan ganja seberat 6.0167 gram, satu plastik bening kode 3 seberat 6.1070 gram, satu lembar FC Kartu Keluarga Nomor 3275010304080044, satu buah Kartu ATM BCA Nomor 5379412007047672, satu buah NPWP atas nama Ario Jannero, satu buah HP Samsung warna putih dirampas untuk dimusnahkan. Sedangkan dua lembar uang kertas pecahan Rp 100 Ribu, dirampas untuk Negara,” ujar Firman, Selasa (26/3/2019).

Atas tuntutan JPU, Majelis Hakim yang dipimpin Yuanne Marieetta, SH, MH, dalam pembacaan amar putusan menyatakan, hukuman yang dijatuhkan terhadap Ario Jannero adalah sama, yakni selama 12 tahun penjara dan pidana denda sebesar tiga milyar rupiah subsidair enam bulan penjara.

Sebelum menutup persidangan, Yuanne sempat menanyakan kepada terdakwa, apakah menerima putusan atau banding? Namun pertanyaan Yuanne di persidangan yang dibuka dan terbuka untuk umum tersebut, terkesan mengarahkan terdakwa agar menerima putusan.

“Bagaimana terdakwa, apakah saudara menerima putusan ini atau menyatakan banding? Bilamana banding maka perkara saudara nantinya akan diperiksa lagi di Pengadilan Tinggi. Nanti putusannya itu bisa berubah, bisa juga tidak. Bisa nanti jadi naik, turun ataupun tetap, tidak berubah,” kata Yuanne, Kamis (4/4/2019).

Tak lama berselang, Ario Jannero pun menyatakan menerima putusan tersebut di dalam ruang sidang. Begitu pun dengan JPU Firman yang menyatakan menerima putusan.
Namun, tuntutan JPU dan vonis majelis hakim tersebut  yang menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 111 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika diduga tidak sesuai dengan perbuatan yang dilakukan terdakwa kenapa akhirnya ditangkap oleh BNN Kota Depok.Menunjuk dalam keterangan terdakwa di ruang sidang yang tersirat dalam Surat Tuntutan JPU No. Reg. Perkara : 50/DEPOK/01/2019 menyebutkan, terdakwa mengakui mendapatkan keuntungan berupa ganja sebanyak satu garis atau satu ons baik dari transaksi pertama maupun dari yang terakhir.

Terdakwa juga mengakui ditangkap sekira jam 23.00 wib di depan Terminal Depok, Jalan Margonda Raya oleh petugaa berpakaian preman dari BNN Kota Depok, Rabu (5/12/2018) lalu saat sedang menunggu tukang ojek yang terdakwa titipkan narkotika jenis ganja.

Hal itu dilakukan terdakwa karena sebelumnya pada hari yang sama sekira jam 10.00 wib, terdakwa ditelepon melalui aplikasi Whatsapp oleh saudara M. Ali disuruh mengambil ganja di Terminal Bis Baranangsiang, Bogor. Setibanya di lokasi sekira jam 17.00 wib, terdakwa menghubungi M. Ali dan disuruh menunggu nanti ada yang menghubungi.

Sekitar 15 menit menunggu, terdakwa dihubungi seseorang yang tidak diketahui namanya yang menyuruh terdakwa pergi ke Pasar Parung, Bogor lalu sekira jam 18.00 wib, terdakwa menghubungi M. Ali untuk menyampaikan bahwa dirinya sudah sampai di lokasi dan terdakwa disuruh menunggu.

Selanjutnya, sekira jam 20.00 wib, terdakwa dihubungi lagi oleh orang yang tidak tahu namanya dengan Nomor HP yang sama. Saat itu, terdakwa disuruh naik angkot menuju Terminal Depok kemudian terdakwa sampai di lokasi sekira jam 21.00 wib. Disitu, terdakwa dihubungi kembali oleh orang tersebut dan disuruh ke SD Sugutamu.

Dengan diantar tukang ojek, terdakwa menuju lokasi. Dalam perjalanan, terdakwa dibimbing orang tersebut melalui HP untuk ke Gang Mulia yang letaknya di samping SD Sugutamu kemudian belok kiri dan disuruh melihat ke sebelah kanan ada kebun pisang.

Setelah sampai di kebun pisang, diarahkan untuk mengambil ganja yang diletakkan di balik tembok yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik warna hitam sebanyak tiga bungkus.

Kemudian kantong plastik hitam itu oleh terdakwa dibawa menuju Terminal Depok dengan naik ojek. Sebelum sampai di tujuan, terdakwa minta berhenti di ATM BCA di sekitar Jalan Raya Margonda yang dekat dengan Terminal Depok.

Saat terdakwa akan ke ATM, ganja tersebut terdakwa titip ke tukang ojek. Namun setelah selesai mengambil uang tunai, tukang ojek yang dimaksud sudah tidak tidak ada. Selanjutnya, terdakwa minta tolong kepada seorang pengendara motor yang tidak dikenal agar diantarkan ke Terminal Depok.

Setiba di lokasi, terdakwa langsung mencari tukang ojek tersebut dengan maksud untuk mengambil ganja yang terdakwa titipkan dan membayar ongkosnya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, terdakwa ditangkap oleh petugas BNN Kota Depok yang berpakaian preman.

Dalam keterangannya, terdakwa juga menerangkan bahwa dirinya mengaku kenal dengan saudara M. Ali sejak sekitar Tahun 2015 di Polsek Bekasi Selatan saat sama-sama menjadi tahanan dalam perkara narkotika. Dalam perkara itu, terdakwa ditangkap karena bertransaksi Narkotika dengan saudara Wildan dan divonis selama empat tahun penjara. (jan/ltf)




Loading Facebook Comments ...