Search

Salah Urus Europalia; Pembatalan Acara, Penonton Sepi dan Pengembalian Honor

europalia baru

Amsterdam, reportasenews.com-Hajatan promosi budaya Indonesia yang digelar dalam paket Europalia Arts Festival Indonesia di sejumlah negara Eropa, perlu koreksi lagi walau telah berjalan selama sebulan lebih.

Penulis Ayu Utami yang juga diundang untuk memberi warna keindonesiaan Europalia mengaku kecewa dengan penyelenggara kegiatan, sebab dari lima event yang sudah dijadwalkan hanya tiga yang bisa berjalan.

“Dua dibatalkan bahkan sebelum saya take off naik pesawat dari Jakarta, gak ada info kenapa gagal terlaksana,” ungkap Ayu kepada Hendrata Yudha dari reportasenews.com di Amsterdam, Belanda, Senin (20/11).

Ayu yang mendapat penghargaan Prince Claus di Den Haag pada tahun 2000, sulit mengungkapkan dalam kata-kata yang enak bagaimana panitia kegiatan promosi internasional ini seperti kurang dikoordinasikan dengan baik.

So…So.. sih…Maksudnya kecewa juga, tetapi memang ini seperti kurang koordinasi antara panitia Europalia,” jelas Ayu, penulis kelas dunia yang telah menghasilkan 9 novel panjang nan indah.

Ayu Utami, penulis yang mendapatkan penghargaan Prince Claus di Den Haag pada tahun 2000. (foto: Ist)

Ayu Utami, penulis yang mendapatkan penghargaan Prince Claus di Den Haag pada tahun 2000. (foto: Ist)

Pada kesempatan bicara di Belgia, panitia lokal gagal menghadirkan novelnya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Perancis. Sementara ia tidak diberitahu soal itu, sehingga Ayu yang sudah membawa novel versi bahasa Inggris sejak dari Indonesia pun,  akhirnya tak bisa membagikannya ke lokasi acara karena miscommunication.

Selama mengikuti Europalia Arts Festival Indonesia ini, Ayu juga heran dengan adem ayemnya pemberitaan media massa di Eropa.

“Iya sepertinya gak ada pemberitaan Europalia Arts Festival Indonesia,” tutur Ayu.

Pantauan reportasenews.com di saluran televisi Belanda seperti NOS, Euronews, selama dua minggu terakhir memang tidak tampak tayangan kegiatan budaya Indonesia.

Bahkan koran-koran maupun  media online berbahasa Belanda, tak memberitakannya. Padahal, biaya Europalia Arts Festival Indonesia menghabiskan dana APBN Rp 160 Miliar.

Penonton Sepi

Minimnya materi promosi kegiatan Europalia Arts Festival Indonesia ini, juga menjalar kepada animo masyarakat Eropa menyaksikan karya seniman Indonesia.

Reportasenews.com mendapat informasi bahwa pertunjukan komposer musik elektronik Patrick Gunawan Hartono di Point Culture, Koningsstraat 145 Rue Royale (Boulevard Bischoffsheimlaan), Brussel, Belgia pada 14 Oktober lalu, ternyata dihadiri penonton tak lebih dari 10 orang saja.

Patrick adalah musisi elektronik dan media artis yang menampilkan komposisi komplek dengan tiga dimensi, teknologi, instrumen tradisional dan video.

Panitia Europalia International yang berpusat di Belgia, konon, berkilah komposer muda Indonesia  di bidang musik ekperimental itu gak ada “nilai jualnya” sehingga sulit dipromosikan.

Honor Ditolak Setneg

Seorang seniman papan atas Indonesia yang diundang ke Europalia Arts Festival Indonesia mengungkapkan, bahwa pemerintah Indonesia juga tidak siap melaksanakan hajatan besar dengan baik.

Koordinasi lembaga pemerintah Kemendikbud dan Setneg tidak berjalan mulus.

Y, perupa yang dijadwalkan tampil sebanyak kali dan melakukan workshop di Eropa atas rekomendasi kuratornya, ternyata diminta mengembalikan biaya perjalanannya karena dianggap kelamaan “jalan-jalan” di Eropa.

“Kalau kasus saya juga cukup aneh diminta mengembalikan sebagian uang honor! Katanya kebanyakan…!! aneh bin ajaib gak tuh…?!!! . Saya sudah pulang ke Indonesia dan diminta mengembalikan lagi uang yang sudah diterima oleh Kemendikbud, karena jumlah hari perjalanan saya tidak disetujui oleh Setneg,” tutur perupa yang tak mau disebutkan namanya ketika dihubungi Hendrata Yudha dari reportasenews.com.

Permintaan pengembalian perdiem itu tertuang melalui email sbb:

“….Jadi jumlah perdiem yang seharusnya bisa difasilitasi oleh Kementerian adalah (8+2 hari). Sedangkan jumlah perdiem yang kita berikan kemarin berjumlah (12+2). Kami mohon maaf atas kesalahan kami memberikan jumlah uang perdiem yang terlalu banyak (karena kami menghitung jumlah hari berdasarkan undangan dari Europalia dengan maksimal perdiem). Ternyata pengajuan SP Setneg dan pemberian perdiem (12+2) tersebut ditolak.

Ini kami sedang proses pengajuan SP Setneg baru untuk Ibu ********, dengan catatan jumlah hari dan perdiem yang kami berikan harus dikurangi menjadi 10 hari (8 hari+2 hari di pesawat) sesuai jadwal yang disampaikan ke kami. Untuk itu apakah Ibu berkenan untuk mengembalikan kelebihan 4 hari perdiem yang sudah kami berikan kepada Ibu?…”

Insiden-insiden di atas dapat menggambarkan bahwa Europalia Arts Festival Indonesia yang akan berlangsung hingga Januari tahun 2018, masih perlu dibenahi. Mumpung masih ada waktu dan masih ada ratusan seniman yang akan didatangkan ke Eropa, mempromosikan kebhinnekaan budaya Indonesia.

Jangan sampai pada seniman itu dicap menghabiskan APBN.

Keberhasilan Europalia Arts Festival Indonesia adalah mutlak milik seniman, kegagalan menjadi tanggungjawab para pejabat di lembaga-lembaga pemerintah RI. (Hendrata Yudha, Amsterdam)




Loading Facebook Comments ...