Search

Sedekah Gunung, Medium Penyampaian Dawuh Merapi

Acara selamatan Sedekah Gunung yang digelar di Padepokan Prasetya Budya. (Foto. Marthin Sinaga)

Oleh : Marthin Sinaga

Tepat pada 24 Desember lalu, hajat Caosan Sedekah Gunung digelar jelang tengah malam di Padepokan Prasetya Budya. Hajat ini seyogyanya menjadi medium penyampaian Dawuh (pesan yang harus dikerjakan) dari Merapi yang diterima Prasetyadi Wibawa selaku sesepuh Padepokan Prasetya Budya.

Dalam pemahaman Jawa, Gunung merupakan citra dari sumber kehidupan, kekuatan, dan kemanunggalan dengan Sang Pencipta. Gunung juga bisa menjadi metafor bagi ruang antara ‘dunia atas’ dan ‘dunia bawah’. Ia menjadi sinkronisasi empat unsur kehidupan: tanah, air, udara, dan api. Itu sebabnya, dalam banyak hajatan penting Jawa, simbolisasi Gunung berbentuk tumpeng selalu ada.

Pun dalam Caosan Sedekah Gunung ini. Terdapat lima buah tumpeng yang terdiri dari: empat tumpeng putih mewakili empat unsur kehidupan dan satu tumpeng kuning sebagai perlambang menyambut tahun baru. Keberadaanya dimaknai sebagai simbolisasi caosan syukur dalam wujud tumpeng dan doa bersama. Caosan itu sendiri dimaknai sebagai persembahan terhadap Alam.

Pak Pras menjelaskan Dawuh yang didapat perihal perkembangan Merapi yang diyakini juga menjadi gambaran kosmik secara umum. Caosan Sedekah Gunung juga dibarengi Pasang Tumbal di aliran Sungai. Hal tersebut diyakini sebagai benteng keselamatan bagi khalayak, khususnya sekitar Merapi.

Merapi sendiri dianggap sakral karena diyakini bertalian erat dengan kosmologi Jawa dan tak bisa dipisahkan dari sejarah panjang peradaban Jawa. Dalam slametan bertajuk Sedekah Gunung ini, Pak Pras juga menegaskan peran vital Merapi bagi Jawa, bahkan Indonesia. Merapi dianggap sebagai pusat yang memiliki pengaruh besar bagi alam sekitarnya.

Terkait dengan aktivitas vulkanik Merapi belakangan ini, Pak Pras menegaskan tidak satu orang pun yang bisa memprediksi erupsi Merapi.

“Kapan Merapi akan erupsi itu tidak bisa diprediksi. Namun Merapi selalu memberikan tanda-tanda,” ujarnya.

Menurut beliau, pedoman yang bisa dijadikan acuan dalam membaca gejala erupsi adalah perpaduan teknologi, pengalaman erupsi 2010, dan kearifan lokal. Karenanya Pak Pras meminta warga agar tidak terpengaruh wacana yang dapat menimbulkan kepanikan selama erupsi berlangsung.

Pak Pras juga meminta agar warga tidak mudah terpengaruh terhadap wacana yang bisa menimbulkan kepanikan seputar erupsi Merapi, termasuk pemahaman tentang juru kunci.

“Perlu diingat, Merapi tidak punya juru kunci. Merapi memiliki mekanismenya sendiri dan sudah ada pembagian tugas yang mengatur empat unsur utama dan alam sekitarnya. Termasuk sungai, hasil bumi, dan lain-lain. Tak seorangpun yang layak dan bisa disebut sebagai juru kunci” tandas beliau.

Pak Pras juga menegaskan agar erupsi Merapi tidak disebut sebagai bencana.

“Jangan melihat Merapi saat erupsi saja. Tapi juga melihat bagaimana peran Merapi bagi kehidupan pada saat normal.” Pemimpin padepokan Prasetya Budya ini menganggap penyebutan bencana terhadap erupsi Merapi adalah keliru.

Merapi notabene selama ini memberi penghidupan, khususnya pada warga sekitar Merapi. Pak Pras lalu memberi penjelasan perihal pesan kunci yang diterima dari Dawuh Merapi.

“Kuncinya adalah bersyukur dan tenang. Syukur karena selama ini sudah mendapat penghidupan dari Merapi di masa-masa normal dan tetap tenang selama erupsi. Syukur menjadi modal utama untuk bersikap tenang, sehingga kita bisa membaca gejala yang nampak,” pungkas Pak Pras.

Slametan Sedekah Gunung sebagai medium penyampaian Dawuh dilaksanakan di Pendopo Padepokan Prasetya Budya yang berlokasi di sebuah Dusun tua bernama Diwak yang terletak di Desa Dukun, Kecamatan Sumber, Magelang, Jawa Tengah.




Loading Facebook Comments ...